Iran Ancam Tenggelamkan Kapal Perang AS di Selat Hormuz dengan Rudal
Rustam Aji April 16, 2026 09:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEHERAN – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih setelah Teheran secara terbuka mengancam akan menenggelamkan kapal-kapal militer Amerika Serikat (AS) yang mencoba mengawasi Selat Hormuz.

Ancaman ini merupakan respons keras atas perintah Presiden Donald Trump yang memberlakukan blokade militer total terhadap jalur perdagangan vital tersebut sejak Senin (13/4).

Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa armada AS berada dalam jangkauan langsung rudal-rudal Iran.

"Kapal-kapal Anda ini akan ditenggelamkan oleh rudal pertama kami. Keberadaan mereka menghadirkan bahaya besar bagi militer AS sendiri," ujar Rezaei dalam siaran televisi pemerintah, Rabu (15/4).

Rezaei, yang juga mantan Panglima Garda Revolusi, bahkan melontarkan pernyataan provokatif mengenai potensi invasi darat. Ia mengklaim Iran siap menyandera ribuan tentara AS dan menuntut tebusan sebesar 1 miliar dolar AS per kepala.

Blokade AS dipicu oleh kegagalan perundingan di Islamabad, Pakistan, pada 11 April lalu.

Baca juga: Hindari Ancaman Houthi,AS Kerahkan Kapal Induk Ketiga ke Iran Lewat Rute Tak Biasa di Pesisir Afrika

Pertemuan tersebut menemui jalan buntu setelah Iran menolak syarat AS untuk menghentikan program uranium dan membuka kembali Selat Hormuz, yang sebelumnya telah ditutup sepihak oleh Iran pasca-serangan gabungan AS-Israel pada Februari 2026.

Dampak blokade ini sangat signifikan, mencakup:

  • Pelarangan akses bagi semua kapal dari dan menuju pelabuhan pesisir Iran.
  • Pemutusan jalur pendapatan utama Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.
  • Peningkatan risiko keamanan pada jalur logistik energi global.

Tidak hanya mengancam kapal perang, Iran juga berencana memperluas zona konflik. Kepala Pusat Komando Militer Iran, Ali Abdollahi, memperingatkan bahwa pihaknya akan memutus total arus ekspor-impor di Laut Merah jika blokade AS tidak segera dihentikan.

"Jika AS menciptakan ketidakamanan bagi kapal dagang dan tanker minyak Iran, itu akan menjadi gerbang pelanggaran gencatan senjata," tegas Abdollahi.

Kondisi ini menandakan berakhirnya gencatan senjata dua minggu yang sempat disepakati kedua negara. Saat ini, Selat Hormuz—yang merupakan jalur bagi hampir seperlima konsumsi minyak dunia—kembali menjadi titik paling berbahaya di dunia. (m zaenuddin/kps)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.