Jambi Bakal Kena Dampak, Debit Sungai Batang Hari Bisa Susut 60 Persen dan Suhu 36 Derajat
asto s April 16, 2026 09:03 AM

 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Debit air Sungai Batanghari bisa menyusut 60 persen akibat dampak fenomena El Nino pada musim kemarau 2026. 

Dari kondisi normal sekitar 2.503 meter kubik per detik, aliran air sungai terpanjang di Pulau Sumatra itu bisa turun drastis menjadi hanya sekira 1.000 meter kubik per detik. Kondisi itu bisa berdampak besar pada sektor pertanian di wilayah Jambi.

Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI menyatakan mulai memperkuat langkah kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan yang dipicu Godzila El Nino. Penurunan debit air disebut menjadi tantangan utama, terutama bagi wilayah irigasi yang menjadi penopang produksi pertanian.

Kepala Seksi Operasi dan Pemeliharaan SDA BWS Sumatera VI, Yudhi Pratikno, mengatakan pihaknya kini fokus mengantisipasi dampak berkurangnya ketersediaan air.

“Dalam menghadapi musim kemarau, terutama dengan adanya El Nino, kita harus siap mengantisipasi penurunan debit air,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut penyesuaian dalam pengelolaan irigasi, termasuk pengaturan distribusi air dan pola tata tanam agar kebutuhan pertanian tetap terpenuhi meski pasokan air terbatas.

Sebagai langkah awal, BWS Sumatera VI melakukan penelusuran langsung (walkthrough) pada jaringan irigasi untuk menginventarisasi kondisi lapangan. Selain itu, penguatan data hidrologi juga dilakukan guna memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.

“Kita akan melihat sejauh mana data hidrologi yang dibutuhkan, terutama untuk daerah-daerah yang menjadi prioritas penanganan kekeringan,” katanya.

Ancaman ke Pertanian

Yudhi mengingatkan, kekeringan akibat penurunan debit air berpotensi menekan hasil pertanian secara signifikan. Produksi pertanian diperkirakan bisa turun antara 30-50 persen apabila pasokan air tidak mencukupi.

Karena itu, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten dalam upaya mitigasi dampak kemarau.

Saat ini, kondisi debit Sungai Batanghari masih terpantau normal. Namun, dalam kondisi kering ekstrem, debit air dapat turun hingga sekitar 1.000 meter kubik per detik, sementara saat banjir bisa meningkat di atas 3.000 meter kubik per detik.

BWS Sumatera VI menegaskan bahwa pengelolaan air harus dilakukan secara optimal untuk menjaga keseimbangan kebutuhan, terutama di tengah ancaman kekeringan.

“Dalam kondisi apa pun, air harus dijaga semaksimal mungkin melalui pengaturan dan pengendalian agar tetap sesuai kebutuhan,” pungkasnya.

Potensi Picu Lonjakan Karhutla

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyebut musim kemarau 2026 yang dipengaruhi El Nino berpotensi lebih panjang dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Meski El Nino diperkirakan dalam kategori lemah, hasil koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan kondisi kemarau tahun ini berbeda dari sebelumnya.

Data terbaru mencatat lonjakan signifikan luas kebakaran. Hingga April 2026, karhutla telah mencapai 32.600 hektare, melonjak tajam dibanding periode yang sama tahun lalu sekitar 1.500 hektare.

“Angka ini hampir 20 hingga 25 kali lipat dibandingkan bulan yang sama tahun lalu,” kata Hanif saat di Jambi Sabtu (11/4) lalu.

Ia menyebut wilayah dengan kontribusi kebakaran terbesar berasal dari Riau dan Kalimantan Barat.

Waspada di Gambut

Pemerintah kini mendorong langkah pencegahan terpadu, salah satunya melalui pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) di lahan gambut sebagai indikator utama kerawanan karhutla. Data tersebut akan digunakan bersama BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), termasuk untuk operasi modifikasi cuaca.

Hanif juga meminta kepala daerah segera menetapkan status darurat bila kondisi memburuk agar dukungan pusat dapat dipercepat.

Selain itu, peran masyarakat dan dunia usaha diperkuat melalui pengaktifan kembali program Masyarakat Peduli Api serta kesiapan perusahaan pemegang konsesi. Pemerintah menegaskan akan menjatuhkan sanksi bagi perusahaan yang lalai sesuai ketentuan yang berlaku.

Di sisi lain, kesiapsiagaan nasional terus ditingkatkan melalui pengoperasian Satgas Karhutla dan apel siaga di berbagai daerah.

“Koordinasi dan kesiapsiagaan Satgas Karhutla segera dioperasionalkan,” pungkasnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino pada 2026 akan lebih ekstrem dibanding tahun sebelumnya, yang sempat dikenal sebagai “Godzilla El Nino”.

Prakirawan BMKG Jambi, Luckita Theresia, mengatakan kondisi ini dipengaruhi peralihan dari fase La Nina pada 2025 yang menyebabkan curah hujan relatif tinggi.

“Pada 2025 kita masih berada di fase La Nina, sehingga hujan lebih banyak,” ujarnya, Sabtu (4/4).

Memasuki 2026, suhu udara diperkirakan meningkat signifikan dari kisaran 32-34 derajat Celsius menjadi 34-36 derajat Celsius seiring menguatnya El Nino. Kondisi ini juga diikuti musim kemarau yang lebih panjang dan meluas di seluruh wilayah Jambi.

Meski demikian, BMKG menyebut saat ini masih dalam fase peralihan dan belum memasuki puncak kemarau. Pemantauan akan difokuskan pada akhir Mei hingga Juni untuk memastikan awal musim kering.

Dampak paling signifikan diperkirakan pada meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mengingat suhu tinggi dan kondisi tanah yang kering.

“Suhu tinggi dan lahan kering sangat mudah memicu kebakaran, terutama jika ada aktivitas pembakaran,” kata Luckita.

BMKG mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta lebih waspada terhadap potensi karhutla. Selain itu, musim kemarau panjang juga berpotensi menekan sektor pertanian di Jambi. 

Dua Skema Utama

Pemerintah Provinsi Jambi menyiapkan dua skema utama untuk mengantisipasi lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring proyeksi cuaca ekstrem dalam beberapa bulan ke depan.

Kepala BPBD Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengatakan penanganan difokuskan pada operasi darat dan udara. Tim darat akan disiagakan di titik rawan sekaligus melakukan sosialisasi ke desa-desa.

“Personel dibagi dua. Tim darat ditempatkan di wilayah rawan dan melakukan edukasi ke masyarakat,” ujarnya, Sabtu (11/4).

Sementara itu, operasi udara disiapkan untuk menjangkau area sulit, termasuk melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) dan water bombing. 

Pelaksanaan OMC menunggu penetapan status siaga darurat oleh pemerintah provinsi, sebelum diajukan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Operasi udara mencakup modifikasi cuaca agar gambut tidak kering, serta pemadaman menggunakan helikopter dan pesawat di lokasi minim sumber air,” katanya.

Upaya mitigasi juga melibatkan sektor swasta. Sejumlah perusahaan mulai berkoordinasi untuk mendukung penanganan awal, terutama pembiayaan OMC di wilayah rawan seperti Tanjung Jabung Timur dan Muaro Jambi.

Muaro Jambi menjadi perhatian khusus karena lokasinya yang berdekatan dengan bandara, sehingga berisiko tinggi jika terjadi kebakaran.

Dari sisi pembiayaan, operasi udara akan ditopang APBN, sementara operasi darat didukung APBD melalui desa-desa.

BPBD juga mengingatkan peran masyarakat dalam pencegahan karhutla, terutama dengan tidak membuka lahan menggunakan api di tengah ancaman kemarau panjang dan El Nino. (Tribun Jambi/Syrillus Krisdianto)

Baca juga: Cuaca Jambi Kamis 16/4/2026, 10 Kabupaten Kota Hujan Suhu hingga 32 Derajat

Baca juga: Ular Sanca 6 Meter vs 8 Orang di Arab Melayu Kota Jambi, Warga Kaget

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.