Renungan Harian Katolik Suara Pagi
Bersama Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Josef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor NTT
16 April 2026
Hari Biasa Pekan II Paskah
Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2,9,17-18,19-20;
Yoh. 3:31-36
Warna Liturgi Putih
Setia dan Taat Dalam Tugas Rutin Setiap Hari
Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus.
Sabda Tuhan hari ini membawa kita pada satu sikap hidup yang tidak mudah, taat kepada Allah di atas segalanya.
Dalam Bacaan Pertama, kita melihat keberanian Santo Petrus dan para rasul yang berdiri di hadapan Mahkamah Agama.
Mereka tidak menyangkal, tidak mundur, dan tidak mencoba mencari jalan aman. Mereka justru berkata dengan tegas: “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.”
Ini bukan sekadar kalimat heroik. Ini adalah pilihan hidup yang nyata dan penuh konsekuensi. Mereka tahu risiko yang akan mereka hadapi. Mereka tahu bahwa kesetiaan pada Tuhan bisa membuat mereka ditolak, disalahpahami, bahkan dibenci. Namun mereka tetap memilih kebenaran.
Kalau kita melihat hidup kita sekarang, mungkin kita tidak dihadapkan pada ancaman seperti para rasul. Tetapi tekanan itu tetap ada, hanya bentuknya berbeda.
Ada tekanan untuk ikut arus, untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang tidak benar, untuk diam ketika melihat ketidakadilan, atau untuk mengorbankan nilai demi kenyamanan.
Di situlah sabda ini menjadi sangat relevan. Ketaatan kepada Allah bukan hanya soal doa atau ibadah, tetapi tentang keputusan sehari-hari.
Saat kita memilih jujur ketika lebih mudah berbohong, saat kita tetap berbuat baik meski tidak dihargai, saat kita menolak melakukan hal yang salah walaupun semua orang melakukannya—di situlah kita sedang berkata, “Aku memilih Tuhan.”
Injil hari ini memperdalam hal ini. Dikatakan bahwa Yesus datang dari atas, dari Allah sendiri, dan membawa kebenaran yang sejati. Namun tidak semua orang mau menerima-Nya. Mengapa?
Karena menerima Yesus berarti juga menerima perubahan. Menerima terang berarti
meninggalkan cara hidup lama.
Kadang kita ingin percaya, tetapi tidak sepenuhnya mau taat. Kita ingin dekat dengan Tuhan, tetapi masih ingin mempertahankan hal-hal yang sebenarnya menjauhkan kita dari-Nya. Di sinilah Injil mengajak kita jujur: iman sejati tidak berhenti pada percaya, tetapi nyata dalam
ketaatan.
Dan ketaatan itu bukan beban. Justru di situlah hidup menjadi utuh. Injil mengatakan bahwa siapa yang percaya kepada Anak, ia memperoleh hidup yang kekal. Artinya bukan hanya nanti setelah meninggal, tetapi mulai sekarang—hidup yang penuh makna, damai, dan arah yang jelas.
Saya memberikan apresiasi dan salut bagi seorang ibu rumah tangga yg setiap hari menyiapkan makanan bagi anak-anak dan suaminya yang akan sekolah dan bekerja. Dia tak pernah mengeluh walaupun harus menjalani tugas rutin dan bahkan tidak pernah dipuji dan diucapin terima
kasih.
Dia selalu menjalaninya dengan setia dan gembira, tidak pernah murung. Kesetiaan dan kegembiraannya dalam menjalani tugas rutin itu merupakan kesaksian iman yang sungguh indah dan wujud anugerah Roh yg diterimanya.
Saudara-saudari, menjadi saksi seperti para rasul tidak selalu berarti melakukan hal besar. Kadang itu sesederhana tetap setia dalam hal kecil, tetap memilih benar ketika tidak ada yang melihat, tetap mengasihi ketika sulit. Dan itu semua hanya mungkin kalau kita sungguh menaruh
Tuhan di tempat pertama.
Hari ini kita diajak untuk bertanya dalam hati: dalam bagian hidup mana aku masih lebih taat pada “manusia” daripada pada Tuhan? Dan apakah aku berani perlahan-lahan mengubahnya? Amin.
Doa: Tuhan, kuatkan hati kami untuk setia kepada-Mu dalam setiap pilihan hidup. Ajari kami untuk lebih taat kepada kehendak-Mu daripada keinginan dunia. Berilah kami keberanian untuk hidup dalam kebenaran dan menjadi saksi kasih-Mu di tengah kehidupan sehari-hari kami. Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Kamis Pekan II Paskah. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin. (Pastor John Lewar SVD)