SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Pengusaha multinasional asal Matangkuli Aceh Utara, Ismail Rasyid, resmi menyandang gelar doktor dari Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, Jakarta Timur. Ismail menjadi Doktor ke-34 di Fakultas Manajemen dan Bisnis Pascasarjana ITL Trisakti. Ia berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dengan predikat cumlaude dan IPK 3,91.
Dalam sidang terbuka yang dipimpin Prof. Dr. Juliater, di Auditorium Lantai 7 Kampus ITL, Rabu (15/4/2026), Ismail Rasyid berhasil memperhatankan disertasi berjudul “Analisis Pengaruh Integrasi Rantai Pasok, Digital Supply Chain, Network Embeddedness Terhadap Competitive Performance dan Innovation Performance Pada Perusahaan Freight Forwarding Nasional dan Internasional”.
Penelitian ini menyoroti pentingnya integrasi rantai pasok dan penerapan digitalisasi dalam sistem supply chain sebagai faktor utama dalam meningkatkan daya saing dan kinerja inovasi perusahaan freight forwarding, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam sidang tersebut, Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla), Laksamana Madya TNI Dr. Irwansyah, memberikan apresiasi atas capaian akademik tersebut. Irwansyah berharap ilmu yang diperoleh dapat berkontribusi pada pembangunan nasional, termasuk membuka peluang kolaborasi lintas sektor hingga ke tingkat kementerian. "Mari kita doakan semoga Dr Ismail Rasyid jadi menteri, " ungkap Irwansyah.
Sementara itu, Dr. Sofyan A. Djalil menyebut keberhasilan Ismail Rasyid sebagai sesuatu yang langka, mengingat ia mampu meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude di tengah kesibukan profesional.
“Ini spesies langka. Tidak mudah meraih doktor cumlaude sambil tetap aktif bekerja. Kita berharap Ismail Rasyid dapat memberikan kontribusi besar, karena tidak banyak pengusaha yang memiliki kedalaman intelektual seperti ini,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pengalaman Ismail Rasyid mengikuti pendidikan di Lemhannas menjadi nilai tambah dalam membangun kapasitas kepemimpinan dan wawasan kebangsaan. Terkait dorongan untuk masuk ke ranah kepemimpinan publik, bahkan wacana menjadi gubernur, disampaikan pula pandangan agar Ismail Rasyid tetap fokus pada dunia usaha.
“Kalau bicara soal kepemimpinan, termasuk menjadi gubernur, saya justru menyarankan tetap menjadi pengusaha. Tidak perlu terlalu jauh ke politik, tetapi terus berkontribusi melalui dunia usaha,” tambahnya.
Dampak dari Selat Hormuz
Menjawab pertanyaan salah seorang tim penguji, Ismail Rasyid yang merupakan pendiri dan CEO Trans Continent, menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur strategis distribusi energi dunia. Penutupan jalur tersebut, meski hanya dalam waktu dua minggu, dapat mengganggu produksi global secara signifikan.
“Jika Selat Hormuz ditutup selama dua minggu saja, maka dunia bisa mengalami gangguan produksi. Rantai pasok global akan terganggu di seluruh lini,” ujarnya di hadapan para penguji dan undangan.
Ia menjelaskan bahwa ada tiga faktor utama yang menjadi kunci dalam menghadapi dinamika global tersebut, yakni informasi, teknologi, dan energi. “Pertama adalah informasi, untuk membaca apa yang akan terjadi ke depan. Kedua teknologi, karena tanpa itu kita akan tertinggal. Ketiga energi, sebagai penopang utama aktivitas industri dan logistik,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ismail menyoroti pentingnya transformasi digital dalam sektor logistik. Menurutnya, kekuatan jaringan fisik kini tidak lagi menjadi faktor dominan, melainkan kemampuan memanfaatkan teknologi digital. “Di negara maju, proses logistik sudah berbasis digital. Banyak hal bisa diselesaikan tanpa harus membuka cabang fisik. Bahkan, cukup dari satu tempat, pekerjaan bisa selesai dengan cepat,” katanya.(nal)
Siapa Ismail Rasyid?
Keluarga
Pendidikan
Perjalanan karir
WAKIL Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria memberikan apresiasi tinggi atas keberhasilan putra Aceh, Ismail Rasyid, dalam meraih gelar Doktor di bidang manajemen logistik.
Nezar menilai, hasil pemikiran CEO PT Trans Continent tersebut merupakan kontribusi nyata bagi transformasi digital nasional. Pujian tersebut disampaikan Nezar Patria melalui video yang ditujukan kepada penguji dan undangan sidang terbuka di Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, Jakarta Timur, Rabu (15/4/2026).
"Hari ini saya ingin menyampaikan ucapan selamat sekaligus penghargaan yang tulus kepada Saudara Dr. Ismail Rashid atas pencapaian akademik yang sangat penting ini," ujar Nezar dalam video yang ditembuskan kepada Serambi.
Ia menekankan bahwa pencapaian ini bukan sekadar proses akademik biasa, melainkan bukti ketangguhan intelektual seorang pengusaha asal Aceh di kancah nasional dan internasional. "Mendapat gelar doktor bukan sekadar menyelesaikan satu proses pendidikan formal. Di dalamnya ada ketekunan, disiplin, daya tahan intelektual, dan keberanian untuk masuk ke persoalan yang sangat rumit lalu menjelaskannya dengan jernih," ujar Nezar Patria.
Dalam pesannya, Nezar Patria menyoroti tema disertasi Ismail Rasyid mengenai integrasi rantai pasok digital (digital supply chain) sebagai hal yang sangat relevan dengan kebutuhan zaman. Menurutnya, logistik saat ini bukan lagi sekadar urusan memindahkan barang dari satu titik ke titik lain, melainkan telah berevolusi menjadi instrumen utama daya saing sebuah bangsa.
Di samping itu, Nezar mengapresiasi perspektif jujur yang ditawarkan Ismail Rasyid mengenai transformasi digital. Ia sepakat dengan temuan riset tersebut bahwa teknologi hanyalah alat, sementara kekuatan sesungguhnya terletak pada integrasi proses dan kolaborasi manusia di dalamnya.
"Studi ini menunjukkan sesuatu yang lebih jujur dan lebih penting: teknologi memang penting, tapi teknologi saja tidak cukup," ujarnya.
Bagi Nezar, pesan strategis dari Ismail Rasyid dalam disertasinya sangat sejalan dengan visi dan misi pemerintah, khususnya di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Ia berharap pemikiran ini dapat segera diterjemahkan ke dalam praktik nyata di ekosistem logistik nasional agar posisi Indonesia semakin kompetitif di pasar global.(yn)