22 Tahun Mendorong Harapan, Kisah Dedi Penjual Tekwan Keliling yang Tak Pernah Menyerah
Fitriadi April 16, 2026 11:03 AM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dedi Saputra (49) terus melangkah menyusuri jalanan di tengah hiruk-pikuk Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Perlahan namun pasti, ia mendorong gerobak berisi tekwan dan model, dagangan yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama kurang lebih 22 tahun.

Suara dentingan piring yang dipukul menggunakan sendok menjadi ciri khas, penanda kehadirannya bagi para pelanggan setia. 

Setiap hari, Dedi berkeliling seakan tidak kenal lelah, mendorong gerobak dagangannya di Kota Pangkalpinang.

Dedi memulai berdagang dari Selindung Baru menuju Gabek hingga Air Itam dan Kampung Dul di Bangka Tengah demi mencari nafkah.

Tanpa banyak keluh, Dedi menjalani rutinitasnya sejak pukul 09.30 WIB hingga selepas Salat Isya. 

Baginya, lelah seakan tak lagi terasa. Ketekunan dan keikhlasan menjadi kunci yang membuatnya terus bertahan.

“Lelah itu pasti ada, tapi sudah terbiasa,” ujarnya saat ditemui Bangkapos.com di Kelurahan Gabek Kota Pangkalpinang, belum lama ini.

Harga tekwan dan model per mangkok Rp10.000 saja.

Dalam sehari, penghasilannya bervariasi.

Dari jerih payah mendorong gerobak keliling berjualan tekwan model, Dedi mendapatkan penghasilan kotor mulai dari Rp200-an ribu sampai Rp400 ribu sehari.

"Sehari tidak menentu, kadang dapat Rp240 ribu. Kalau jualannya jauh ke arah Air Itam dan Kampung Dul Kadang dapat Rp400 ribu, belum dipotong modal," ucap Dedi Saputra.

Bapak dua anak itu merasa sangat bersyukur.

Di balik perjuangannya, ada keluarga kecil yang menjadi sumber semangat.

Meski hidup dalam keterbatasan, Dedi tetap melangkah tanpa henti. 

Gerobak yang ia dorong bukan sekadar alat mencari nafkah, tetapi juga simbol perjuangan dan harapan untuk masa depan anak-anaknya.

(Bangkapos.com/Widodo)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.