TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Lahan yang hangus terbakar di Kabupaten Pelalawan mencapai hampir 800 hektar akibat bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tahun 2026 ini.
Data itu berdasarkan kejadian Karhutla sepanjang Bulan Januari sampai April ini. Sesuai dengan pengukuran lahan bekas terbakar yang dilakukan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tiga kecamatan.
Diantaranya Kecamatan Kuala Kampar, Teluk Meranti, dan Pangkalan Kerinci yang selama ini dibelenggu Karhutla.
"Hampir semua lahan yang terbakar merupakan gambut. Apalagi di Kuala Kampar dan Teluk Meranti itu gambutnya cukup dalam," kata Kepala Pelaksana BPBD Pelalawan, Zulfan M.Si kepada tribunpekanbaru.com, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, kasus Karhutla di Pelalawan hanya muncul di tiga kecamatan dan sembilan kecamatan lainnya masih nihil. Namun dari segi luasan lahan yang gosong dilalap, meningkat sangat tajam dibandingkan tahun 2025 lalu.
Zulfan merincikan, luas lahan yang terbakar hampir 800 hektar atau tepatnya 792,94 hektar.
Areal yang paling luas dilalap api yakni Kecamatan Kuala Kampar 587,14 hektar lahan gambut.
Dengan sebaran di Kelurahan Teluk Dalam 105,34 hektar, Desa Sungai Upih hangus 244 hektar, Desa Teluk Beringin mencapai 142 hektar, dan Desa Sungai Solok 95 hektar.
Baca juga: Riau Nihil Titik Api, Daerah Rawan Karhutla Tetap Diwaspadai
Kemudian di Kecamatan Teluk Meranti seluas 190,8 hektar tanah gambut gosong akibat Karhutla. Diantaranya di Desa Gambut Mutiara mencapai 118,3 hektar, Desa Pangkalan Terap ada 40 hektar, Desa Pulau Muda seluas 23,5 hektar, dan Kelurahan Teluk Meranti 9 hektar.
"Terakhir di Kecamatan Pangkalan Kerinci tepatnya di Kelurahan Pangkalan Kota seluas 15 hektar lahan yang terbakar," tambah Zulfan.
Jika dibandingkan dengan luas lahan yang terbakar sepanjang 2025 yang tidak sampai 150 hektar, Karhutla 2025 periode April ini sudah mencapai hampir 6 kali lipat luasannya.
Hal ini menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan dan Provinsi Riau serta pusat.
"Untuk saat ini fokus mendatangkan hujan melalui operasi modifikasi cuaca. Agar hotspot dan firespot pemicu Karhutla bisa ditekan," tukasnya.
(Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)