SURYA.CO.ID, SURABAYA - Penjangkauan calon siswa Sekolah Rakyat untuk Tahun Ajaran 2026/2027 mulai dilakukan di Jawa Timur.
Meski sistem perekrutan dilakukan secara aktif melalui penjangkauan dari atas ke bawah, namun pemerintah tetap membuka kesempatan bagi orang tua yang ingin secara proaktif atau jemput bola mendaftarkan anaknya agar bisa sekolah di sekolah rakyat.
Kepala Dinas Sosial Jawa Timur, Restu Novy Widiani, menegaskan masyarakat yang termasuk dalam desil 1 dan desil 2 Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dapat mendatangi Dinas Sosial kabupaten/kota setempat untuk mendaftarkan anaknya sebagai calon siswa Sekolah Rakyat.
Baca juga: DPRD Jatim Soroti Pendidikan, Sekolah Rakyat Jadi Harapan Baru
“Syarat utamanya adalah masuk dalam desil 1 atau desil 2 DTSEN. Pendaftaran dilakukan di Dinas Sosial setempat. Setelah itu, akan dilakukan verifikasi data. Jika seseorang mengaku berasal dari keluarga tak mampu yang masuk kategori tersebut, maka datanya akan dicocokkan,” jelas Restu kepada SURYA.co.id,
Jika data yang bersangkutan tidak sesuai atau misalnya ternyata belum termasuk di data, maka akan dilakukan ground check oleh Dinas Sosial bersama Badan Pusat Statistik (BPS).
BPS dilibatkan karena yang membuat keputusan akhir terkait status keluarga ditentukan BPS.
“Apabila setelah verifikasi terbukti masuk kategori desil 1 atau 2, maka datanya akan disesuaikan dan yang bersangkutan berhak dapat program Sekolah Rakyat,” imbuhnya.
Restu menegaskan, tidak ada syarat lain selain administrasi. Tidak ada tes kompetensi maupun tes akademik.
Calon siswa hanya perlu memenuhi kriteria desil 1 atau 2, memiliki minat untuk bersekolah, serta mengikuti pemeriksaan kesehatan yang disediakan secara gratis.
Saat ini, tercatat sebanyak telah ada 2.450 siswa telah belajar di 26 lokasi sekolah rakyat rintisan.
Saat ini pemerintah pusat juga tengah menyiapkan 19 lokasi Sekolah Rakyat permanen di Jatim yang sedang on progress dibangun Kementerian Pekerjaan Umum.
“Targetnya selesai di tahun ajaran baru 2026/2027. Kalau sudah jadi, setiap titik ada 1.000 siswa. Kalau 19 titik akan ada 19.000 siswa Jatim dari desil 1 dan 2 yang bisa menjadi penerima program Sekolah Rakyat,” tegasnya.
Lebih lanjut Novi menegaskan, minat masyarakat untuk belajar di Sekolah Rakyat tahun ini meningkat.
Jika pada tahun sebelumnya masih banyak masyarakat yang ragu, kini tingkat kepercayaan dan minat sudah meningkat signifikan.
Hal ini karena masyarakat sudah bisa melihat nyata jalannya program sekolah rakyat di tahun ajaran 2025/2026.
Selain pendidikan gratis, siswa juga mendapatkan fasilitas lengkap seperti laptop, seragam, serta sarana olahraga dan kesenian, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Selain fokus pada pendidikan anak, Pemprov Jatim juga menyinergikan sekolah rakyat dengan program pengentasan kemiskinan.
“Orang tua siswa sekolah rakyat yang memiliki usaha akan disinergikan dengan program KIP Jawara (Kewirausahaan Inklusif Produktif). Bagi orang tua tunggal, khususnya ibu, akan diberikan dukungan agar dapat meningkatkan taraf ekonomi keluarga,” tegasnya.
Program ini juga mencakup keluarga dengan kondisi khusus, seperti anak yang diasuh oleh kakek-nenek atau orang tua yang tidak bekerja.
“Kita berkomitmen untuk tidak hanya mendukung pendidikan anak, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan keluarga secara menyeluruh melalui akses pemberdayaan ekonomi pada orang tuanya. Sehingga kemiskinan benar-benar bisa diputus,” pungkasnya.