Perebutan Jabatan Ketua PCNU Cilegon, Forum Santri Aswaja Tolak Kepemimpinan Erik Rebiin
Abdul Rosid April 16, 2026 05:00 PM

Laporan Jurnalis TribunBanten.com, Ahmad Haris

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Polemik kepemimpinan di tubuh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Cilegon kembali memanas. 

Kali ini, Forum Santri Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) secara terbuka menyatakan penolakan terhadap kepemimpinan Erik Rebiin sebagai Ketua PCNU Cilegon.

Sikap tegas tersebut disampaikan dalam forum yang digelar di Link Dringgo, Kecamatan Citangkil, Rabu (15/4/2026) malam. 

Kegiatan itu dipimpin langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Hidayah sekaligus Ketua Forum Santri Aswaja Kota Cilegon, K.H Humaidillah Royani, bersama sejumlah ulama dan tokoh agama setempat.

Baca juga: Apakah Hari Kartini 21 April 2026 Tanggal Merah? Cek Aturannya Sesuai SKB 3 Menteri

Dalam pernyataan resmi yang dibacakan di hadapan para santri, Forum Santri Aswaja menegaskan bahwa sikap mereka merujuk pada pandangan ulama kharismatik Banten, Abuya K.H Muhtadi Dimyati, yang saat ini menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

“Kami Forum Santri Aswaja menyatakan bahwa sosok Abuya K.H Muhtadi Dimyati adalah ulama yang sangat dihormati di kalangan pondok pesantren dan menjadi panutan yang harus kami taati,” ujar K.H Humaidillah dalam pembacaan pernyataan tersebut.

Lebih lanjut, forum tersebut menilai sejak awal terpilih, Erik Rebiin dianggap tidak memenuhi kriteria sebagai ketua organisasi keagamaan berbasis ulama dan santri seperti Nahdlatul Ulama.

Forum Santri Aswaja juga secara tegas meminta PBNU untuk turun tangan melakukan evaluasi terhadap kepemimpinan PCNU Kota Cilegon. Mereka bahkan mengusulkan pergantian ketua.

“Memohon kepada PBNU untuk mengevaluasi dan mengoreksi serta mengganti Erik Rebiin dengan Syaikul Amin Wahab,” kata K.H Humaidillah.

Menurutnya, persoalan utama terletak pada latar belakang dan kapasitas keagamaan yang dinilai tidak dimiliki oleh Erik Rebiin.

Meski diakui memiliki pengalaman di bidang lain, khususnya politik, hal tersebut dinilai tidak cukup untuk memimpin organisasi keagamaan.

“Kalau dari latar belakang politik, kami akui. Tapi dari sisi keagamaan tidak ada,” ujarnya.

Forum juga menyoroti sikap Erik selama menjabat yang dinilai tidak mencerminkan figur pemimpin ulama. Salah satu yang disorot adalah ketidaksiapannya dalam menjalankan peran-peran keagamaan dasar.

“Sejak dilantik, beliau tidak pernah menunjukkan kapasitas sebagai pemimpin ulama. Bahkan ketika diminta memimpin doa, sering kali diwakilkan kepada orang lain. Ini dinilai mencoreng marwah ulama,” kata KH Humaidillah.

Ia menegaskan, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan seharusnya dipimpin oleh figur yang memiliki latar belakang kuat dalam tradisi keilmuan Islam dan berasal dari kalangan ulama atau santri.

“Ini organisasi ulama. Sudah seharusnya dipimpin oleh ulama atau santri. Kami tidak ikhlas dan tidak ridho jika dipimpin oleh sosok yang tidak memiliki latar belakang tersebut,” tegasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.