Mengenal Godzilla El Nino Disebut Bakal Terjadi hingga Oktober 2026, Cek Dampaknya Bagi Indonesia
M Zulkodri April 16, 2026 06:03 PM

BANGKAPOS.COM -- Fenomena Godzilla El Nino kini tengah ramai dibahas karena potensi dampaknya yang besar.

Indonesia saat ini dihadapkan pada ancaman anomali iklim ekstrem yang diperkirakan akan memengaruhi berbagai aspek ketahanan nasional pada pertengahan 2026.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahkan telah mengeluarkan peringatan dini terkait kemunculan fenomena tersebut.

Istilah Godzilla El Nino digunakan untuk menggambarkan kondisi pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mencapai tingkat sangat ekstrem.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan terjadi bersamaan dengan fase Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Baca juga: Lonjakan Pembuatan Kartu Kuning di Bangka, Ratusan Warga Berebut Peluang Kerja

Kombinasi keduanya menciptakan kondisi atmosfer yang jarang terjadi dan berpotensi memicu kekeringan panjang.

Dampaknya diperkirakan mulai terasa sejak April 2026 dan mencapai puncaknya pada Oktober 2026, terutama dalam bentuk penurunan ketersediaan air.

Memahami fenomena ini menjadi penting bagi banyak pihak. Petani perlu menyesuaikan pola tanam, sektor industri harus mengantisipasi keterbatasan air, sementara pemerintah dituntut memperkuat cadangan pangan nasional.

Tulisan ini membahas lebih dalam mengenai Godzilla El Nino dan IOD positif, termasuk mekanisme ilmiahnya serta langkah mitigasi yang bisa dilakukan untuk menghadapi musim kemarau ekstrem.

Mengapa Disebut “Godzilla” El Nino?

Sebutan “Godzilla” pertama kali muncul dari kalangan ilmuwan iklim untuk menggambarkan El Nino dengan intensitas sangat tinggi atau kategori “super”. BRIN menggunakan istilah ini untuk menjelaskan lonjakan suhu laut yang jauh di atas normal di kawasan Pasifik tengah dan timur.

Dalam kondisi tersebut, wilayah Indonesia justru mengalami penurunan pembentukan awan dan curah hujan. Julukan “Godzilla” merujuk pada skala fenomena yang sangat besar serta dampaknya yang luas terhadap pola cuaca global.

Situasi menjadi semakin kompleks karena terjadi bersamaan dengan IOD positif di Samudra Hindia. Fenomena ini ditandai oleh pendinginan suhu laut di wilayah barat Indonesia, sehingga pembentukan awan hujan bergeser ke arah Afrika.

IOD positif di Samudra Hindia ditandai dengan suhu permukaan laut yang lebih dingin di sekitar Sumatra dan Jawa. Dampaknya, Indonesia kehilangan dua sumber utama uap air dari Pasifik dan Hindia yang menyebabkan udara menjadi sangat kering dan suhu meningkat.

Akibatnya, curah hujan di berbagai wilayah Indonesia menurun drastis.

Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap dampak yang ditimbulkan oleh fenomena ini.

"Pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah di Pantura Jawa. Selain itu, dampak Karhutla di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi," kata Erma Yulihastin dikutip dari BRIN, Rabu (1/4/2026).

"Di saat yang bersamaan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi-Halmahera-Maluku dan dampaknya terhadap banjir dan longsor," tandasnya.

Dampak Bagi Masyarakat Indonesia

Kondisi dampak Godzilla El Nino-IOD positif pada April-Juli 2026, dari data model prediksi musim yang dikembangkan oleh BRIN menunjukkan kemarau yang bersifat kering terjadi di sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebaliknya, wilayah di Sulawesi dan Maluku, Halmahera, Maluku, sebagian besar masih akan mengalami curah hujan yang tinggi.

Fenomena ganda ini dapat menjadi ancaman multidimensi yang memengaruhi berbagai sektor kehidupan masyarakat:

1. Krisis Ketahanan Pangan
Dampak paling nyata adalah potensi gagal panen (puso) secara massal. 

Penurunan curah hujan yang drastis akan mengganggu siklus tanam padi dan palawija, sehingga pemerintah kini mulai memperkuat stok cadangan pangan nasional untuk mengantisipasi lonjakan harga kebutuhan pokok.

2. Krisis Air Bersih

Mengeringnya sumber mata air, waduk, dan sungai akan menyulitkan akses air bersih bagi kebutuhan domestik maupun irigasi pertanian di berbagai wilayah, terutama di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

3. Ancaman Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan)
Vegetasi yang mengering akibat suhu panas ekstrem menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar. 

Risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah gambut seperti Sumatera dan Kalimantan, meningkat berkali-kali lipat yang juga berdampak pada polusi asap lintas batas.

4. Masalah Kesehatan
Suhu udara yang ekstrem meningkatkan risiko dehidrasi, heatstroke, serta penyakit saluran pernapasan akibat debu dan asap kebakaran.

Langkah Antisipasi Pemerintah
Pemerintah Indonesia melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan kementerian terkait telah mulai melakukan langkah mitigasi sejak dini dengan memperkuat cadangan pangan pemerintah (CPP). 

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan pihaknya terus memperkuat stok CPP menghadapi fenomena iklim Godzilla El Nino.

"Kami di Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketahanan stok CPP terus diperkuat agar nanti saat diperlukan, bisa segera disalurkan untuk membantu masyarakat," kata I Gusti Ketut Astawa dikutip dari Badan Pangan Nasional.

Masyarakat juga diimbau untuk lebih bijak dalam penggunaan air, menjaga kesehatan fisik selama cuaca ekstrem, serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan.

(Tribunnews.com/Tribun Bekasi/Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.