Pola Pikir Pelecehan Seksual Bisa Berakar sejak Usia Dini? Begini Kata Pakar
GH News April 16, 2026 07:09 PM
Jakarta -

Kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di dunia pendidikan di Indonesia kerap kali membuat publik ikut geram, tetapi tetap saja bermunculan. Terlebih lagi ada banyak kasus yang melibatkan ketimpangan relasi kuasa seperti antara dosen terhadap mahasiswa, guru terhadap murid, atau senior terhadap junior.

Para pelaku kekerasan seksual juga banyak yang bisa dikatakan telah matang secara usia. Apakah pola pikir pelecehan muncul begitu saja ketika seorang pelaku sudah dewasa atau sebenarnya bisa berakar dari pola, sejak usianya masih dini? Simak penjelasan dari pakar!

Mengapa Mindset Melecehkan Bisa Bermula sejak Usia Dini?

Pola pikir memaklumi pelecehan seksual sering kali bisa dirunut sejak masih usia dini, menurut pakar di bidang pendidikan Bukik Setiawan.

"Kampus sering hanya menjadi panggung tempat kekerasan itu terbuka, tetapi naskahnya kerap ditulis jauh sebelumnya: di rumah, di sekolah, dan dalam pembiaran sehari-hari yang dianggap sepele," jelas mantan Konsultan Teknis Guru dan Tenaga Kependidikan periode Kemendikdbudristek itu.

Ia memaparkan, sejak kecil ada banyak anak yang tumbuh di lingkungan yang tak cukup serius mengajarkan batas. Sebagai contoh, ejekan terhadap tubuh dianggap bercanda, tetapi anak yang merasa tidak nyaman justru diminta diam.

Contoh lainnya, anak perempuan kerap kali diajari menjaga diri. Di sisi lain, anak laki-laki tidak selalu diajari menghormati diri orang lain.

Selain itu menurut Bukik, anak banyak yang dibiasakan patuh kepada orang dewasa, tetapi tidak cukup dibiasakan mengenali rasa tidak aman dan berani berkata tidak. Ia menegaskan dari sanalah muncul masalah besar, yaitu anak belajar taat, tetapi tidak selalu belajar tentang martabat dan batas.

Masyarakat Memelihara Logika Timpang

Bukik juga menggarisbawahi masyarakat di Indonesia yang masih kerap memelihara logika yang timpang. Terdapat maskulinitas salah kaprah yang menganggap seakan laki-laki wajar jika agresif. Sebaliknya, pada perempuan dibebankan untuk diam, memaklumi, dan tidak memperbesar masalah.

Ia menggarisbawahi, dalam situasi yang demikian pelecehan akan dianggap sebagai kenakalan, bukan pelanggaran. Padahal, setiap pelecehan yang dimaklumi merupakan latihan panjang menuju kekerasan yang lebih besar.

Maka dari itu, jika hari ini masyarakat menemukan ada pelaku pelecehan seksual merupakan mahasiswa, hal ini tidak bisa pura-pura dianggap akar masalahnya baru dimulai di kampus. Kerap kali, menurut Bukik, kampus hanya menunjukkan hasil pembiaran yang berlangsung sejak usia dini.

Novia Aisyah
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.