SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – PT Pertamina (Persero) menyatakan masih terus melakukan pemantauan ketat terhadap perkembangan situasi di kawasan Selat Hormuz.
Hal ini menyusul dua kapal tanker milik perusahaan yang hingga saat ini masih belum dapat melanjutkan pelayaran dan tertahan di wilayah Teluk Persia.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa kondisi di Selat Hormuz saat ini sangat fluktuatif dan dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Situasi tersebut membuat jalur pelayaran strategis itu menjadi tidak sepenuhnya stabil bagi aktivitas kapal niaga, termasuk kapal pengangkut energi.
Menurut Baron, Pertamina terus melakukan koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
Pemerintah Indonesia sendiri diketahui tengah menjalankan upaya diplomatik dengan pihak Iran agar dua kapal tanker tersebut dapat diberikan izin melintas dan melanjutkan perjalanan sesuai rute yang telah direncanakan.
“Kami terus menjalin komunikasi secara berkala dan intens dengan Kementerian Luar Negeri yang sedang melakukan pembicaraan dengan pemerintah Iran,” ujar Baron di Jakarta, Kamis (16/4/2026), di sela acara Sustainability Champions.
Baca juga: 10 Ribu Pasukan Tambahan Menuju Timur Tengah, Iran Ancam Tenggelamkan Kapal AS di Selat Hormuz
Dua kapal yang saat ini masih berada di area tersebut adalah VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang berada di bawah pengelolaan PT Pertamina International Shipping (PIS).
Kedua kapal ini memiliki fungsi dan muatan yang berbeda.
VLCC Pertamina Pride membawa kargo minyak mentah jenis light crude oil yang diperuntukkan bagi kebutuhan pasokan energi domestik Indonesia, sementara kapal Gamsunoro mengangkut muatan milik pelanggan pihak ketiga (third party).
Pertamina juga menegaskan bahwa upaya koordinasi tidak hanya dilakukan dengan pemerintah, tetapi juga melibatkan berbagai pihak lain yang terkait dalam rantai logistik pelayaran internasional.
Termasuk di dalamnya adalah perusahaan asuransi yang menanggung risiko pengiriman, guna memastikan seluruh aspek operasional dan keamanan tetap terjaga selama proses penantian di wilayah tersebut.
Selain itu, komunikasi dengan awak kapal juga terus dilakukan secara rutin untuk memastikan kondisi kru tetap aman dan kebutuhan di atas kapal terpenuhi.
Perusahaan menekankan bahwa keselamatan personel dan aset menjadi prioritas utama selama situasi belum memungkinkan untuk melanjutkan pelayaran.
Baron menambahkan, seluruh pihak berharap situasi di kawasan Selat Hormuz dapat segera membaik sehingga jalur pelayaran kembali normal.
Apabila kondisi keamanan sudah memungkinkan, kedua kapal diharapkan dapat segera melanjutkan perjalanan dan melewati Selat Hormuz tanpa hambatan.
“Harapannya, begitu situasi membaik dan kondisi sudah memungkinkan, kapal-kapal tersebut bisa segera melanjutkan pelayaran,” katanya.
Baca juga: Iran Tuntut Ganti Rugi Rp4.300 Triliun, Ancam Pajaki Selat Hormuz di Tengah Negosiasi dengan AS
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia masih terus melakukan komunikasi diplomatik dengan Iran.
Upaya ini dilakukan agar dua kapal tanker milik Pertamina dapat segera keluar dari kawasan yang saat ini terdampak ketegangan geopolitik tersebut.
Bahlil menegaskan bahwa proses negosiasi tidak sederhana mengingat Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat strategis dan sensitif secara geopolitik.
Pemerintah, kata dia, terus berupaya mencari solusi terbaik agar kepentingan energi nasional tetap terjaga tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan stabilitas kawasan.
Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia karena menjadi lintasan sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global.
Ketegangan yang terjadi di kawasan tersebut membuat sejumlah negara menerapkan pembatasan tertentu terhadap lalu lintas kapal, sehingga hanya kapal dari negara atau kondisi tertentu yang diizinkan melintas.
Dengan kondisi tersebut, Pertamina bersama pemerintah Indonesia masih menunggu perkembangan situasi sambil memastikan seluruh prosedur keamanan dan diplomasi terus berjalan agar kedua kapal dapat segera melanjutkan operasinya.