Alasan Inggris Tegas Menolak Ikut Perang Iran Meski Diancam Donald Trump
Rita Noor Shobah April 16, 2026 11:08 PM

TRIBUNKALTIM.CO - Pemerintah Inggris menegaskan tidak akan ikut serta dalam perang melawan Iran meskipun mendapat tekanan kuat dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Perdana Menteri Keir Starmer menyampaikan sikap resmi tersebut dalam sidang parlemen, Kamis (16/4/2026), dengan alasan keputusan itu tidak sesuai kepentingan nasional Inggris.

Starmer menekankan bahwa keterlibatan langsung dalam konflik Timur Tengah berisiko memperluas ketegangan regional dan mengancam keselamatan warga Inggris, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Baca juga: IMF Sebut Ekonomi Dunia Bisa Runtuh jika Perang Iran Berlanjut, Inggris Salahkan Donald Trump

Selain faktor stabilitas kawasan, mengutip dari Independent.co pertimbangan keamanan warga negara juga menjadi alasan penting. Inggris menilai keterlibatan dalam perang dapat meningkatkan risiko serangan balasan serta mengancam keselamatan warga Inggris, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Dari sisi ekonomi, Inggris juga mempertimbangkan dampak besar konflik terhadap stabilitas global, khususnya sektor energi.

INGGRIS TOLAK PERANG - Foto PM Inggris Keir Starmer saat menyambut kedatangan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Downing Street, 2 Maret 2025. Inggris menolak ikut perang Iran meski ditekan Trump. Ancaman dagang hingga kritik keras memicu ketegangan, namun London tetap jaga hubungan dengan AS.
INGGRIS TOLAK PERANG - Foto PM Inggris Keir Starmer saat menyambut kedatangan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Downing Street, 2 Maret 2025. Inggris menolak ikut perang Iran meski ditekan Trump. Ancaman dagang hingga kritik keras memicu ketegangan, namun London tetap jaga hubungan dengan AS. (Instagram/Instagram resmi PM Inggris Keir Starmer @keirstarmer)

Ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia, yang dapat memicu kenaikan harga energi dan berdampak langsung pada perekonomian Inggris.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, keputusan Inggris untuk menolak bergabung dalam perang Iran mencerminkan strategi yang berfokus pada deeskalasi, meskipun ada tekanan politik dan ancaman terhadap hubungan bilateral.

Sikap ini mencerminkan kebijakan luar negeri Inggris yang lebih independen, meski berpotensi menimbulkan gesekan dengan Washington. 

Baca juga: Setelah Keputusan Trump, Iran Ajukan Syarat untuk Longgarkan Pembatasan Selat Hormuz

“Inggris tidak akan terseret dalam perang yang tidak sesuai dengan kepentingan nasional,” tegas Starmer.

Trump Kecam Inggris

Di sisi lain, Presiden Donald Trump merespons keras keputusan tersebut.

Dalam wawancara media, ia mengkritik Inggris karena dianggap tidak mendukung sekutu saat dibutuhkan.

Pernyataan tersebut tidak hanya bersifat retoris, tetapi juga disertai ancaman konkret di bidang ekonomi.

Trump membuka kemungkinan untuk meninjau ulang perjanjian perdagangan antara kedua negara yang selama ini menjadi salah satu pilar penting hubungan bilateral.

Kesepakatan tersebut sebelumnya memberikan keuntungan signifikan, termasuk keringanan tarif bagi sektor industri seperti baja dan otomotif Inggris.

Namun, dengan nada tegas, Trump menyatakan bahwa perjanjian itu “selalu bisa diubah”, menandakan adanya tekanan politik terhadap pemerintah Inggris.

Baca juga: Dugaan Keterlibatan China Menguat, Iran Gunakan Satelit untuk Intai dan Serang Pangkalan AS

Langkah ini memicu kekhawatiran karena potensi perubahan kesepakatan dagang dapat berdampak langsung pada stabilitas ekonomi kedua negara, khususnya Inggris yang masih mengandalkan kerja sama perdagangan dengan Amerika Serikat sebagai salah satu mitra utama.

Ketegangan diplomatik semakin melebar ketika Trump juga mengkritik kebijakan domestik Inggris.

Ia menilai pembatasan eksplorasi minyak di Laut Utara sebagai keputusan yang keliru dan menyebutnya sebagai “kesalahan tragis”.

Selain itu, kebijakan imigrasi Inggris juga menjadi sasaran kritik, dengan Trump menilai sistem tersebut tidak terkendali dan berpotensi merugikan negara.

Rangkaian pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa perselisihan antara Washington dan London tidak lagi terbatas pada isu perang Iran, tetapi telah merambah ke berbagai sektor strategis.

Menandai memburuknya hubungan antara kedua negara yang selama ini dikenal memiliki kemitraan erat dalam bidang politik, ekonomi, dan keamanan.

Inggris Redam Ketegangan

Meski demikian, pihak pemerintah Inggris berusaha meredam situasi.

Melalui pernyataan resmi, juru bicara Downing Street menegaskan bahwa hubungan antara London dan Washington tidak bisa dinilai hanya dari satu isu, melainkan mencerminkan kemitraan luas yang telah terjalin lama di berbagai sektor strategis.

Pernyataan ini muncul di tengah kritik tajam dari Presiden AS, Donald Trump, terhadap keputusan Perdana Menteri Keir Starmer yang menolak keterlibatan Inggris dalam perang Iran.

Pemerintah Inggris menekankan bahwa kerja sama kedua negara tetap berjalan, khususnya dalam bidang perdagangan, pertahanan, dan keamanan.

Downing Street juga menyampaikan bahwa komunikasi antara kedua pihak masih berlangsung secara aktif.

Dialog bilateral terus dilakukan untuk menjaga stabilitas hubungan dan memastikan bahwa perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Upaya ini dinilai penting mengingat Amerika Serikat merupakan salah satu mitra strategis utama bagi Inggris di tingkat global.

Dengan demikian, meskipun terjadi gesekan politik, kedua negara masih memiliki kepentingan bersama yang lebih luas untuk dipertahankan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.