Reporter: Fidia Ramadhani
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Gelaran Gebyar UMKM yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo menjadi ajang penting, Kamis (16/4/2026).
Kegiatan yang merupakan rangkaian peringatan HUT ke-298 Kota Gorontalo itu dimanfaatkan betul oleh para pelaku UMKM untuk meraup keuntungan.
Tak hanya itu, agenda yang digelar di depan Rumah Dinas (Rudis) Wali Kota Gorontalo, Jalan Nani Wartabone, juga menjadi ajang untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkan produk mereka.
Baca juga: Status Hutang di SLIK OJK Diubah, Dihapus Hanya Dalam 3 Hari Setelah Lunas
Sejumlah pelaku UMKM mengungkapkan bahwa acara ini sangat membantu dalam memperluas jangkauan konsumen dan meningkatkan penjualan.
Salah satunya Trindi, pemilik usaha “Asinan Afif” yang telah berjalan sejak 2021.
Ia memilih asinan buah sebagai produk utama, dengan berbagai varian buah yang disesuaikan dengan musim.
“Kadang saya sesuaikan dengan buah apa yang sedang banyak dan segar di pasaran,” ujarnya.
Trindi mengaku sangat terbantu dengan gelaran bazar UMKM yang diadakan pemerintah kota.
Ia kerap diundang untuk mengisi stan tanpa dipungut biaya sepeser pun.
“Alhamdulillah beberapa kali ikut, bahkan sepanjang tahun ini sudah ikut empat kali undangan, dan tidak ada yang berbayar seribu rupiah pun,” kata Trindi yang tergabung dalam binaan Dinas Koperasi dan UMKM.
Baginya, acara ini terbuka dan adil bagi para pelaku usaha.
“Tidak ada istilah orang dalam, intinya kalau produknya berkualitas, pasti diterima dengan baik. Harapan saya, semoga Gebyar UMKM ini terus berlanjut dari tahun ke tahun, walaupun nanti pemimpin kotanya berubah, tetap ada acaranya tiap tahun,” ucapnya.
Tak jauh dari stan asinan, Dela Sidiki menyajikan batagor dan siomay khas Bandung dengan bahan utama ikan tenggiri.
Usahanya sudah berjalan sejak 2020 dan kini mendapat kesempatan untuk mengisi salah satu stan pada Gebyar UMKM.
“Perasaan saya sangat senang, karena diberi kesempatan oleh panitia untuk mengisi bazar di sini. Ini jadi peluang untuk menunjukkan bahwa kita punya produk yang khas dan rasanya tidak kalah,” ujar Dela.
Untuk mempersiapkan bazar, ia memastikan stok bahan cukup, melakukan promosi kecil-kecilan, serta berdoa dan tetap optimistis agar jualannya laris manis.
Harapannya, gelaran ini tidak hanya berjalan lancar, tetapi juga bisa kembali diadakan tahun depan.
“Semoga acara ini sukses, berjalan lancar, dan tahun depan diadakan lagi. Kita sebagai pelaku UMKM senang kalau ada wadah seperti ini,” tambahnya.
Berbeda dengan keduanya, Iki membawa usahanya, “Nuka”, yang baru berjalan sekitar tujuh bulan.
Ia menjual berbagai minuman, mulai dari matcha coffee hingga minuman non-kopi, serta makanan seperti nasi lengkap dengan lauk yang disesuaikan.
“Saya merasa sangat senang karena bisa ikut, dan ternyata penjualan juga meningkat dari usaha ini,” ucapnya.
Untuk persiapan mengikuti bazar, ia menyampaikan bahwa pendaftaran ditangani langsung oleh pemilik usaha, sementara dirinya lebih banyak fokus menjaga stan dan melayani pelanggan.
Bagi Iki, Gebyar UMKM menjadi ajang untuk memperkenalkan “Nuka” kepada warga Gorontalo.
“Harapan saya, semoga dengan ikut acara ini, usaha saya bisa dikenal luas. Warga Gorontalo bisa tahu kalau di Kota Gorontalo ini ada ‘Nuka’,” ujarnya.
Ketiga usaha ini menegaskan bahwa kehadiran Gebyar UMKM memberi ruang bagi UMKM kecil untuk memperlihatkan potensi, sekaligus mendapat dukungan pemerintah melalui pameran yang tidak berbayar. (*)