Dilmah Mixology Playoff 2026 Surabaya: Inovasi Minuman Teh dari Seluruh Indonesia
Cak Sur April 17, 2026 12:32 AM

 

Laporan Reporter SURYA.co.id: Nur Ika Anisa

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Puluhan bartender adu skill meracik teh dalam ajang Dilmah Mixology Playoff 2026 yang digelar selama dua hari di Aloft Hotel Pakuwon City Mall 2, Surabaya, Jawa Timur pada 15–16 April 2026.

Kompetisi ini, menjadi bukti bahwa teh kini tidak lagi dipandang sebagai minuman sederhana seperti iced tea. Di tangan para mixologist, teh mampu diolah menjadi kreasi cocktail maupun mocktail yang kompleks, modern, dan penuh karakter.

Kompetisi Lebih Inklusif dan Terbuka

Eliawati Erly selaku Vice President Director PT David Roy Indonesia, distributor Teh Dilmah, menyebut konsep kompetisi tahun ini dibuat lebih inklusif.

“Yang ikut kompetisi Surabaya, Malang, Jawa Tengah, ada juga Jakarta, Bandung, Bali dan Lombok. Dari kafe, restoran, hotel, dan institut pariwisata. Keberagaman inilah yang menjadi kekuatan utama tahun ini,” sebut Eliawati Erly, Rabu (15/4/2026).

Tidak hanya diperuntukkan bagi pelanggan lama, kompetisi ini juga terbuka untuk umum. Langkah ini memberi ruang lebih luas bagi pelaku industri, profesional, hingga talenta baru di dunia mixology.

Keberagaman latar belakang peserta menghadirkan perbedaan gaya dan perspektif, yang justru memunculkan energi baru dalam inovasi minuman berbasis teh.

Teh Jadi Medium Inovasi Mixology

Dilmah Mixology Playoff 2026 tidak sekadar kompetisi, tetapi juga menjadi wadah pengembangan industri minuman berbasis teh di Indonesia.

“Di sinilah ide bertemu teknik, dan passion bertemu peluang,” sebutnya.

Ajang ini turut memperkenalkan berbagai teknik baru dalam pengolahan dan penyajian minuman, sekaligus memperkuat posisi teh sebagai bahan utama dalam dunia mixology modern.

Tantangan Utama: Keseimbangan Rasa

Kompetisi ini menghadirkan dua juri berpengalaman, yakni Jay Gray dan Agung Prabowo.

Jay Gray menilai bahwa mixology tidak selalu identik dengan minuman beralkohol, melainkan juga bisa dikembangkan dari bahan seperti teh.

Sementara itu, Agung Prabowo menyoroti tantangan utama dalam meracik minuman berbasis teh, yakni menjaga keseimbangan rasa.

“Meracik teh dengan bahan lain itu bukan hal mudah. Lebih tepatnya sangat challenging. Kadang rasa teh bisa terlalu dominan dan mengalahkan komponen lain, tapi di sisi lain juga bisa terlalu ringan hingga tidak terasa,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat proses pencampuran membutuhkan ketelitian tinggi serta pemahaman karakter bahan.

Penilaian Berbasis Harmoni Rasa

Dalam kompetisi ini, aspek keseimbangan menjadi faktor utama penilaian.

Peserta tidak hanya dituntut menghadirkan rasa yang enak, tetapi juga memastikan setiap elemen dalam minuman saling melengkapi tanpa saling mendominasi.

Poin penting penilaian kompetisi:

  • Keseimbangan rasa antar bahan.
  • Kreativitas dan inovasi racikan.
  • Teknik pengolahan dan penyajian.
  • Harmonisasi seluruh komponen minuman

“Di kompetisi, yang dicari adalah balance. Bukan sekadar membuat minuman teh, tapi bagaimana semua komponen bisa menyatu dengan harmonis,” ujar Agung Prabowo.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.