Blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz memicu guncangan besar pada perdagangan energi dunia.
SERAMBINEWS.COM, TOKYO - Ketegangan geopolitik di Teluk Persia kembali memuncak setelah Amerika Serikat memberlakukan blokade di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Langkah ini diambil menyusul gagalnya perundingan dengan Iran, dan dampaknya langsung terasa pada perekonomian global.
Negara-negara dengan ketergantungan tinggi terhadap impor energi dari kawasan Timur Tengah menjadi pihak paling rentan, termasuk sejumlah negara Asia dan Eropa.
Menurut laporan Nomura, bank investasi asal Jepang, negara-negara seperti Thailand, India, Indonesia, Filipina, Jerman, Italia, dan Inggris masuk dalam daftar yang paling terdampak.
Ketergantungan besar terhadap minyak dan gas impor membuat mereka sangat sensitif terhadap gangguan pasokan.
Misalnya, lebih dari 90 persen impor minyak mentah Jepang dan Filipina berasal dari Timur Tengah.
Sementara India mengandalkan sekitar 60 persen pasokan LNG dari kawasan tersebut.
Baca juga: Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz, Pemerintah Lakukan Diplomasi
Di Eropa, Italia tercatat bergantung hingga 45 persen pada LNG dari Qatar, serta 12 persen impor minyak mentah dari Timur Tengah.
Indonesia juga masuk dalam kategori negara yang rentan.
Sebagai salah satu importir energi bersih, blokade ini berpotensi menekan pasokan energi sekaligus meningkatkan biaya impor.
Kondisi tersebut dapat berdampak pada stabilitas harga energi domestik dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Meski begitu, dampak terhadap ekonomi besar seperti Amerika Serikat dan China dinilai lebih terbatas.
AS hanya mengimpor sekitar 8 persen minyak mentah dari Teluk Persia.
Sementara China memiliki diversifikasi energi yang lebih baik, termasuk cadangan batu bara besar dan stok minyak strategis.
Namun, ketergantungan tetap ada: sekitar 65 persen impor minyak mentah China melalui jalur laut berasal dari Timur Tengah.
Efek langsung dari blokade terlihat pada harga minyak dunia.
Minyak mentah Brent melonjak mendekati 99 dolar AS per barrel, naik signifikan dari kisaran 75 dolar AS sebelumnya.
Baca juga: 10 Ribu Pasukan Tambahan Menuju Timur Tengah, Iran Ancam Tenggelamkan Kapal AS di Selat Hormuz
Para analis memperingatkan harga bisa terus meroket jika blokade berlangsung lama.
Jorge Montepeque dari Onyx Capital Group bahkan menyebut harga berpotensi mencapai 140–150 dolar AS per barrel, dengan kemungkinan hilangnya hingga 12 juta barrel minyak per hari dari pasar global.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik regional dapat berkembang menjadi krisis energi global.
Negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah kini dituntut mencari alternatif, memperkuat cadangan energi, dan mempercepat diversifikasi sumber energi.
Bagi Indonesia, blokade ini menjadi peringatan penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional agar tidak terlalu bergantung pada impor dari kawasan rawan konflik.(*)