Saat berusaha menyelamatkan Gina dari derasnya arus, ia mendengar panggilan lirih “Ayah!” yang menjadi kata terakhir sang anak.
SERAMBINEWS.COM, BANDUNG - Di balik derasnya arus banjir yang melanda Bandung, tersimpan kisah pilu tentang Gina, siswi SMAN 1 Banjaran berusia 18 tahun.
Ia hanyut terbawa luapan Sungai Cibanjaran pada Rabu (15/4/2026) sore, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Ayah Gina, Hersi Hardiana, masih mengingat jelas detik-detik terakhir bersama putrinya.
Saat berusaha menyelamatkan Gina dari derasnya arus, ia mendengar panggilan lirih “Ayah!” yang menjadi kata terakhir sang anak.
Meski sempat berusaha meraih tangan Gina bersama warga lain, derasnya air memisahkan mereka.
Hersi akhirnya menepi dengan tubuh lelah, hanya bisa pasrah melihat putrinya terbawa arus.
Jenazah Gina ditemukan di Cipaku setelah pencarian intensif oleh warga, relawan, dan aparat.
Kepergiannya terasa begitu menyayat hati, terlebih ia baru saja menyelesaikan ujian akhir sekolah dan tengah menunggu pengumuman kelulusan.
Baca juga: Kakek 77 Tahun Ditemukan Meninggal Diduga Tenggelam di Pantai Suak Ribee Aceh Barat
Gina dikenal sebagai anak yang santun, tidak banyak menuntut, dan memiliki cita-cita sederhana: segera bekerja untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Seminggu sebelum musibah, Gina sempat menunjukkan retakan pada benteng pelindung di dekat rumahnya.
“Cuma tinggal waktu,” ucapnya kala itu.
Kalimat yang kini dianggap sebagai firasat.
Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Banjaran, Ismail Kusmayadi mengenang Gina sebagai siswi pendiam namun penuh kesopanan.
Ia menuturkan, seharusnya Gina menerima ijazah di akhir tahun pelajaran ini, tetapi takdir berkata lain.
Banjir besar yang menelan korban jiwa ini disebut sebagai siklus yang pernah terjadi hampir satu dekade lalu.
Namun, karena kondisi lingkungan relatif aman selama bertahun-tahun, kewaspadaan masyarakat menurun.
Musibah ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem tidak boleh diabaikan.
Meski diliputi kesedihan, keluarga Gina menyatakan ikhlas.
Hersi menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang membantu pencarian dan evakuasi.
Baca juga: Seorang Anak Tenggelam di Pantai Kajhu Aceh Besar, Operasi Pencarian Dilanjutkan Senin Besok
Kini, rencana Gina untuk bekerja demi keluarga terkubur bersama derasnya arus, meninggalkan kenangan tentang sosok remaja ceria yang disenangi banyak orang di lingkungannya.
Kisah Gina bukan sekadar tragedi, tetapi juga peringatan tentang rapuhnya benteng pertahanan manusia di hadapan alam.
Ia pergi dengan panggilan terakhir kepada sang ayah, meninggalkan pesan mendalam tentang cinta, kehilangan, dan pentingnya kewaspadaan.(*)