SERAMBINEWS - Pernyataan mengejutkan datang dari Presiden AS Donald Trump. Ia mengatakan Amerika Serikat siap “mengambil” stok uranium yang diperkaya milik Iran bila diperlukan, sebuah klaim yang memicu pertanyaan besar tentang bagaimana langkah itu bisa diwujudkan di lapangan.
“Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Kami akan mendapatkan kembali ‘debu’ itu. Entah mereka yang menyerahkannya, atau kami yang mengambilnya,” kata Trump di Gedung Putih, Rabu merujuk pada persediaan uranium Iran.
Ucapan tersebut muncul setelah perundingan berisiko tinggi antara AS dan Iran di Pakistan berakhir buntu.
Isu pengayaan uranium dan kendali atas material nuklir menjadi titik paling keras dalam kebuntuan diplomatik itu.
Masalahnya, menghancurkan fasilitas nuklir lewat udara bukanlah perkara yang sama dengan menguasai materialnya.
Para analis menilai, untuk benar-benar mengamankan uranium yang diperkaya yang diyakini mencapai tingkat 60?n mendekati kualitas senjata AS harus menghadapi operasi yang jauh lebih rumit.
Baca juga: Iran Pakai Satelit Buatan China untuk Intai dan Serang Basis Militer AS di Timur Tengah
“Jika AS ingin mengamankan material nuklir Iran, itu akan membutuhkan operasi darat berskala besar,” kata Kelsey Davenport, Direktur Kebijakan Nonproliferasi di Arms Control Association.
Menurut Davenport, uranium yang sangat diperkaya itu diduga disimpan di fasilitas bawah tanah di Isfahan, berada dalam kontainer yang relatif mudah dipindahkan.
Artinya, pasukan harus menemukan seluruh stok, menembus fasilitas bawah tanah, lalu mengekstraksi atau “menurunkan kadar” (downblending) material tersebut—sebuah tantangan logistik dan keamanan tingkat tinggi.
Citra satelit terbaru juga menunjukkan aktivitas pembangunan kembali di Natanz, sementara Trump mengklaim serangan AS telah “menghancurkan” instalasi pengayaan di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Namun para ahli menekankan: sentrifus dan gedung pendukung bisa rusak, tetapi uranium yang disimpan jauh di bawah tanah bisa tetap utuh.
Ada pula risiko keselamatan. Jika tabung penyimpanan uranium heksafluorida bocor, zat tersebut dapat menimbulkan bahaya kimia serius bagi personel tanpa perlindungan memadai.
Meski kecil kemungkinan terjadi ledakan nuklir, penyebaran material bisa menciptakan ancaman lokal dan memperumit pemulihan.
Chuck DeVore, mantan pejabat pertahanan era Reagan, menilai menyerang langsung stok uranium bukan prioritas dalam kondisi pertempuran aktif.
“Anda tidak ingin melepaskan material itu ke lingkungan sekitar dan menciptakan kontaminasi radioaktif,” ujarnya.
Ia juga berpendapat bahwa di bawah tekanan operasi udara AS yang berkelanjutan, langkah Iran menuju senjata nuklir akan sangat sulit dilakukan tanpa terdeteksi.
Dalam jangka panjang, para pakar sepakat bahwa solusi paling aman bukan sekadar militer. Pengamanan uranium menuntut verifikasi internasional, akses berkelanjutan ke lokasi penyimpanan, serta pengurangan kadar pengayaan ke tingkat sipil.
Davenport menyebut International Atomic Energy Agency sebagai opsi terbaik untuk kembali memantau dan menghitung stok uranium Iran dengan downblending sebagai jalan teknis yang relatif paling aman.
Namun, baik penyitaan fisik maupun pengawasan internasional sama-sama bergantung pada kondisi politik yang saat ini belum ada.
Sementara AS mengklaim keberhasilan melemahkan jaringan rudal Iran untuk mengurangi “perisai” terhadap potensi pelanggaran nuklir, satu hal tetap jelas: menekan rudal dan mengendalikan uranium adalah dua tantangan berbeda dan yang terakhir jauh lebih sulit.(*)