Washington (ANTARA) - Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah menyepakati 10 hari gencatan senjata mulai Kamis (16/4) pukul 21.00 GMT atau Jumat (17/4) pukul 02.00 WIB, menyusul perundingan di Washington.

“Saya baru saja melakukan percakapan yang sangat baik dengan yang terhormat Presiden Joseph Aoun dari Lebanon dan perdana menteri Bibi (Benjamin) Netanyahu dari Israel,” kata Trump dalam sebuah pernyataan.

Menurut Trump, kesepakatan gencatan senjata itu dimaksudkan untuk mencapai perdamaian di antara kedua negara.

Trump mengatakan bahwa ia telah meminta Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine untuk bekerja sama dengan kedua belah pihak menuju perdamaian sejati.

“Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk menyelesaikan sembilan perang di seluruh dunia, dan ini akan menjadi yang ke-10,” kata Trump.

Kesepakatan gencatan senjata tercapai setelah delegasi Lebanon dan Israel, dengan mediasi AS, melaksanakan pembicaraan di Washington pada Selasa (14/4).

Kelompok pejuang Lebanon, Hizbullah, tidak hadir dalam pertemuan karena menolak langkah tersebut.

Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyambut baik pengumuman gencatan senjata dengan Israel, dan menyebutnya sebagai “tuntutan utama Lebanon yang telah kami perjuangkan sejak hari pertama perang”.

Dalam sebuah pernyataan di X, Salam mengucapkan selamat kepada rakyat Lebanon atas apa yang disebutnya sebagai “pencapaian”.

Ia turut menyampaikan belasungkawa kepada korban yang tewas selama perang, serta solidaritas kepada keluarga yang berduka, para korban luka-luka, dan pengungsi yang terdampak konflik.

Salam berterima kasih atas upaya regional dan internasional yang berkontribusi pada gencatan senjata.

“(Terima kasih) terutama kepada Amerika Serikat, Prancis, Uni Eropa, dan saudara-saudara Arab kami, terutama Arab Saudi, Mesir, Qatar, dan Yordania,” tulisnya.

Sumber: Anadolu