TRIBUNTRENDS.COM - Apa jadinya jika seseorang yang hidup sederhana tiba-tiba “tercatat” sebagai pemilik mobil mewah miliaran rupiah?
Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar seperti mimpi. Namun bagi seorang guru honorer di Kabupaten Kuningan, kenyataan ini justru menjadi awal dari kecemasan panjang.
Rizal Nurdimansyah (39), warga Desa Winduherang, Kecamatan Cigugur, mendadak dihadapkan pada situasi yang tak pernah ia bayangkan. Namanya tercatat sebagai pembeli mobil mewah Ferrari 458 Speciale Aperta senilai Rp4,2 miliar.
Baca juga: Ironi Pengadaan 21.000 Unit Motor Listrik MBG, DPR Singgung Gaji Honorer: Selesaikan Problem Dasar
Segalanya bermula dari kabar yang terdengar nyaris seperti candaan. Seorang teman di lingkungan tempat tinggalnya menyampaikan informasi yang membuat Rizal kebingungan.
"Awalnya dari teman saya di sekitar rumah, ada yang mengasih kabar bahwa 'Aa Rizal katanya beli Ferrari'. Terus saya cek ke Samsat, ternyata benar. Ya kaget, terkejut," kata Rizal.
Rasa penasaran mendorongnya untuk mengecek langsung ke kantor Samsat. Namun hasilnya justru memperkuat kabar tersebut namanya benar tercatat sebagai pemilik kendaraan mewah lengkap dengan dokumen resmi dan kewajiban pajaknya.
Fakta tersebut terasa begitu janggal jika dibandingkan dengan kondisi kehidupan Rizal sehari-hari. Sebagai guru honorer, ia hidup sederhana dan jauh dari kemewahan.
Ia menegaskan bahwa kendaraan yang dimilikinya hanyalah satu unit mobil Kijang berbahan bakar solar dan sebuah sepeda motor GL200. Tidak ada jejak kepemilikan mobil sport kelas dunia dalam kehidupannya.
Situasi ini semakin memperjelas bahwa dirinya menjadi korban pencatutan identitas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Rizal kemudian mengingat sebuah kejadian yang kini terasa mencurigakan. Pada Kamis siang, 2 April 2026, ia menerima telepon dari nomor tak dikenal.
Orang di balik telepon tersebut meminta data identitas Rizal dengan alasan untuk keperluan pembelian kendaraan atas nama atasannya.
Karena merasa tidak mengenal penelepon, Rizal langsung menolak permintaan tersebut. Namun beberapa menit kemudian, nomor yang sama kembali menghubunginya kali ini dengan iming-iming uang.
"Telpon lagi, iming-iming imbalan Rp 5 juta, tapi saya tetap nolak," kata Rizal
Penolakan tersebut ternyata tidak menghentikan upaya pihak tak dikenal. Dugaan pencatutan identitas pun kini mengarah pada kejadian tersebut.
Baca juga: Insentif Guru Honorer Rp400 Ribu Disorot, Dinilai Hanya Rp13 Ribu per Hari
Kasus ini tidak hanya berhenti pada kejanggalan administratif. Rizal kini diliputi kekhawatiran serius, terutama terkait beban pajak kendaraan mewah yang nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Selain itu, ia juga cemas jika penyalahgunaan identitas tersebut berujung pada masalah hukum di masa depan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Rizal telah melakukan pemblokiran data kendaraan melalui aplikasi resmi sesuai arahan petugas Samsat.
Tak ingin masalah ini berlarut, Rizal mengambil langkah hukum. Ia mendatangi Polres Kuningan untuk berkonsultasi sekaligus membuat laporan resmi terkait dugaan pemalsuan identitas.
Kasat Reskrim Polres Kuningan, Abdul Aziz, membenarkan bahwa laporan tersebut telah diterima.
"Sudah kami terima. Laporannya perihal dugaan pemalsuan data. Kita akan pelajari dan dalami terlebih dahulu," kata Aziz.
Saat ini, pihak kepolisian tengah melakukan penyelidikan guna mengungkap siapa pihak yang berada di balik pencatutan identitas tersebut.
Baca juga: Gaji Dirapel 6 Bulan, Guru Honorer di Jambi Terima Rp500 Ribu per Bulan
Kasus yang dialami Rizal menjadi pengingat bahwa di era digital, identitas pribadi bisa menjadi celah kejahatan jika tidak dijaga dengan ketat.
Apa yang awalnya hanya sebuah telepon misterius, kini berubah menjadi persoalan serius yang menyangkut administrasi, finansial, hingga potensi hukum.
Di balik kisah ini, tersimpan pelajaran penting: satu data identitas yang jatuh ke tangan yang salah bisa mengubah hidup seseorang dalam sekejap.
***
(TribunTrends/Kompas)