TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Minat masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) terhadap investasi reksa dana terus meningkat.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga akhir 2025 jumlah investor reksa dana di Sulsel telah mencapai 499.226 SID.
Dengan tren tersebut, memahami cara membeli reksa dana menjadi penting.
Terutama bagi pemula yang ingin mulai berinvestasi dengan mudah dan terjangkau.
Reksa dana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor) yang dikelola Manajer Investasi profesional ke dalam portofolio efek (saham, obligasi, atau pasar uang).
Ini adalah solusi investasi bagi pemula atau individu dengan keterbatasan waktu dan keahlian, menawarkan diversifikasi risiko dengan modal terjangkau.
Berinvestasi reksa dana kini semakin mudah dan fleksibel.
Dalam kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana yang digelar Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia di Kantor OJK Sulselbar, Kamis (16/4/2026), Dewan Presidium APRDI, Marsangap P Tamba memaparkan berbagai cara praktis untuk mulai berinvestasi.
Baca juga: Pasar Modal di Sulsel Menguat, Investor Capai 525 Ribu per Desember 2025
Menurutnya, masyarakat dapat membeli reksa dana melalui dua metode utama, yakni secara offline maupun online, sesuai kebutuhan dan kenyamanan masing-masing.
“Investor memiliki fleksibilitas untuk bertransaksi kapan pun dan di mana pun,” kata Marsangap.
Untuk pembelian secara offline, ada lima langkah sederhana yang perlu diperhatikan.
Pertama, calon investor mencari informasi dengan berkonsultasi kepada agen penjual.
Kedua, mengisi formulir pembelian reksa dana secara lengkap.
Selanjutnya, investor melakukan pembayaran melalui transfer ke rekening bank kustodian.
Setelah itu, investor akan menerima konfirmasi pembelian sebagai bukti transaksi.
Terakhir, investor akan mendapatkan laporan perkembangan investasi secara berkala.
Di sisi lain, kemajuan teknologi juga menghadirkan cara yang lebih praktis melalui platform digital.
Melalui layanan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), investor dapat melakukan pembelian, pemantauan, hingga pengelolaan investasi secara online hanya dalam genggaman.
APERD Sekuritas juga menawarkan akses investasi yang terintegrasi dengan layanan pasar modal lainnya.
Data OJK hingga akhir 2025, total Single Investor Identification (SID) di Sulsel mencapai 525.596 atau tumbuh 31,23 persen secara tahunan (yoy).
Dari jumlah tersebut, investor reksa dana mendominasi dibandingkan instrumen lain seperti saham dan Surat Berharga Negara (SBN).
Jumlah investor reksa dana mencapai 499.226, meningkat dari 382.599 pada Desember 2024 dan 303.350 pada Desember 2023.
Sementara saham mencapai 180.427 SID dan SBN 21.480 pada akhir Desember 2025.
Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch Muchlasin mengatakan tingginya minat ini tidak lepas dari karakter reksa dana yang relatif mudah diakses dan cocok bagi investor pemula.
Milenial dan Gen Z mulai aktif berinvestasi seiring meningkatnya kesadaran finansial dan kemampuan mengelola penghasilan.
"Sebagian besar investor berasal dari generasi milenial dan Gen Z yang sudah mulai punya penghasilan dan mulai menyisihkan dana untuk investasi," jelas Muchlasin dalam acara Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana APRDI di Kantor OJK Sulselbar, Jl Hasanuddin, Makassar, Kamis (16/4/2026).
Meski menunjukkan tren positif, Muchlasin menilai potensi pertumbuhan investor masih sangat besar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk usia produktif 15 hingga 34 tahun di Indonesia mencapai sekitar 84 juta orang.
Namun, baru sekitar 12 persen yang telah menjadi investor pasar modal.
"Artinya masih banyak ruang untuk peningkatan, khususnya dari kalangan anak muda," ujar Muchlasin.
Di sisi lain, tantangan literasi dan inklusi pasar modal masih menjadi pekerjaan rumah.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen dan inklusi keuangan 80,51 persen.
Khusus sektor pasar modal, literasinya baru berada di angka 17,78 persen dengan tingkat inklusi yang jauh lebih rendah, yakni 1,34 persen.
"Masih banyak masyarakat yang belum memahami pasar modal, bahkan ada yang sudah tahu tapi belum berani berinvestasi," kata Muchlasin.
Untuk itu, OJK bersama pemangku kepentingan lainnya terus mendorong edukasi melalui berbagai program.
Selain itu, kemudahan akses juga menjadi faktor penting dalam mendorong minat investasi.
Masyarakat dapat mulai berinvestasi reksa dana dengan nominal yang relatif kecil, bahkan mulai dari Rp10 ribu.
"Dengan kemudahan ini, kami harapkan masyarakat semakin tertarik untuk mulai berinvestasi, tidak hanya menabung di bank, tetapi juga memanfaatkan instrumen pasar modal," jelas Muchlasin.(*)
Laporan Wartawan Tribun Timur, Rudi Salam