Sleep Training dan Bayi yang Tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan
Ansar April 17, 2026 11:04 AM

Penulis: Dr. Elinda Rizkasari,.S.Pd.,M.Pd
Dosen prodi PGSD Unisri Surakarta

SEBUAH kisah yang beredar di media sosial belakangan ini mengguncang banyak orang tua.

Seorang ibu membagikan pengalamannya menjalani sleep training sebuah metode yang populer di berbagai platform digital untuk melatih bayi tidur mandiri.

Malam itu, ia memutuskan mengikuti saran yang kerap ia dengar: membiarkan bayinya menangis dalam beberapa waktu agar “belajar menenangkan diri”. 

Namun pagi datang dengan keheningan yang tidak biasa.

Bayi itu tidak lagi terbangun.

Tentu, kisah ini harus disikapi dengan kehati-hatian.

Tidak semua informasi viral dapat diverifikasi secara utuh, dan tidak etis menarik kesimpulan tunggal atas sebab kematian seorang bayi.

Akan tetapi, cerita ini telah menjadi alarm keras bagi banyak orang tua bahwa praktik parenting yang tampak sederhana di layar gawai, dapat membawa konsekuensi serius jika disalahpahami.

Tren Global yang Disalahpahami

Sleep training bukanlah konsep yang sepenuhnya baru.

Di sejumlah negara, metode ini telah digunakan untuk membantu bayi memiliki pola tidur yang lebih teratur.

Beberapa teknik bahkan telah diteliti dalam jurnal ilmiah dan menunjukkan manfaat tertentu, terutama dalam meningkatkan durasi tidur bayi dan mengurangi kelelahan orang tua.

Namun, manfaat tersebut tidak berdiri tanpa syarat.

Berbagai penelitian menegaskan bahwa praktik ini hanya direkomendasikan pada usia tertentu, dengan kondisi kesehatan bayi yang stabil, serta dilakukan secara bertahap dan tetap responsif terhadap kebutuhan anak.

Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, metode ini kerap dipahami secara parsial.

Banyak orang tua hanya memperoleh potongan informasi dari media sosial, tanpa memahami batasan usia, durasi tangisan yang aman, maupun tanda bahaya yang harus diwaspadai.

Tangisan Bayi Bukan Sekadar Gangguan

Dalam perspektif ilmu perkembangan anak, tangisan bukanlah masalah yang harus segera “dihentikan”, melainkan bentuk komunikasi paling awal yang dimiliki bayi.

Melalui tangisan, bayi menyampaikan rasa lapar, tidak nyaman, takut, atau sekadar kebutuhan akan kelekatan.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa respons yang cepat dan konsisten dari orang tua terhadap tangisan bayi berperan penting dalam membangun rasa aman.

Rasa aman ini menjadi fondasi bagi perkembangan emosi dan hubungan sosial di masa depan.

Sebaliknya, ketika tangisan dibiarkan terlalu lama tanpa respons, bayi dapat mengalami peningkatan stres
yang berdampak pada sistem regulasi emosinya.

Dengan demikian, membiarkan bayi menangis bukan sekadar persoalan metode tidur, melainkan menyangkut proses pembentukan rasa aman yang sangat mendasar.

Bahaya “Copy-Paste Parenting”

Fenomena ini memperlihatkan kecenderungan yang semakin menguat di era digital, yakni praktik copy-paste parenting.

Metode yang berkembang di negara lain sering kali diadopsi begitu saja, tanpa mempertimbangkan perbedaan konteks budaya, sistem kesehatan, maupun kesiapan orang tua.

Padahal, di negara asalnya, sleep training tidak dilakukan secara sembarangan.

Ia dijalankan dengan panduan yang jelas, mempertimbangkan usia bayi, kondisi medis, serta sering kali disertai pendampingan tenaga profesional.

Ketika semua prasyarat ini diabaikan, metode yang semula dirancang sebagai pendekatan terukur dapat berubah menjadi praktik yang
berisiko.

Di sinilah tantangan terbesar parenting modern: bukan pada kurangnya informasi, melainkan pada kemampuan menyaring informasi.

Solusi: Menuju Parenting yang Lebih Aman dan Ilmiah

Perdebatan mengenai sleep training tidak seharusnya berhenti pada dikotomi antara mendukung atau menolak.

Yang lebih penting adalah bagaimana orang tua dapat mengambil keputusan secara bijak, dengan mengedepankan keselamatan dan kebutuhan perkembangan anak.

Pada tahap awal kehidupan, pendekatan responsif tetap menjadi pilihan yang lebih aman.

Bayi membutuhkan kehadiran yang konsisten untuk membangun kelekatan yang sehat.

Jika orang tua mempertimbangkan penerapan sleep training, maka pemahaman yang utuh menjadi kunci.

Informasi tidak cukup diperoleh dari potongan konten, melainkan perlu ditelusuri secara komprehensif, termasuk memahami jenis metode, tahapan pelaksanaan, serta batas aman yang dianjurkan.

Selain itu, konsultasi dengan tenaga profesional menjadi langkah penting, terutama untuk memastikan bahwa kondisi bayi memungkinkan untuk menjalani metode tertentu.

Kepekaan orang tua dalam mengenali perubahan perilaku bayi juga tidak boleh diabaikan, karena setiap tangisan bisa menjadi sinyal yang berbeda.

Lebih jauh lagi, fenomena ini menunjukkan urgensi peningkatan literasi parenting di masyarakat.

Orang tua tidak hanya perlu informasi, tetapi juga kemampuan untuk menilai kredibilitas informasi tersebut.

Dalam era digital, kebijaksanaan menjadi keterampilan yang sama pentingnya dengan pengetahuan.

Penutup: Lebih dari Sekadar Metode

Kisah viral ini, terlepas dari kompleksitas faktanya, telah mengingatkan kita pada satu hal yang mendasar: bayi tidak membutuhkan metode yang sempurna, tetapi orang tua yang hadir dan peka.

Di tengah derasnya arus tren parenting modern, mungkin kita perlu kembali pada hal yang paling sederhana mendengar.

Karena bagi bayi, tangisan bukanlah kebiasaan buruk yang harus dihentikan, melainkan panggilan yang harus dipahami.

Dan sebelum kita mengajarkan bayi untuk tidur sendiri, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan: sudahkah kita memastikan bahwa mereka tidak merasa sendirian?

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.