Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Anggit Pujie Widodo
TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Keluhan warga Dusun Balongampel, Desa Sepanyul, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terkait bau tidak sedap dan banyaknya lalat akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah daerah.
Kepala Desa Sepanyul, Dedy Anugrah Dwi P, membenarkan bahwa persoalan bau dan lalat berasal dari kandang yang sebelumnya sempat berhenti beroperasi, namun kini kembali aktif.
"Jadi bau ini berasal dari kandang yang berhenti beroperasi. Tapi kini operasionalnya aktif lagi," ucapnya saat dikonfirmasi terpisah oleh Tribunjatim.com pada Jumat (17/4/2026).
Selain penanganan teknis, pemerintah desa juga menyoroti aspek tanggung jawab sosial pemilik usaha.
"Kami juga menyoroti soal tanggung jawab sosial pemilik usaha," katanya.
Baca juga: Ribuan Koper Jamaah Haji Jombang Dibagikan, Wajib Dikumpulkan Tanggal Segini
Dedy berharap mekanisme kompensasi kepada warga terdampak dapat diperbaiki, termasuk penyaluran bantuan yang lebih mudah dijangkau masyarakat.
Permasalahan ini sudah sampaikan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang, Dedy mengatakan pihak DLH Jombang sudah melakukan cek lapangan.
Ia juga menjelaskan jika DLH memastikan sumber gangguan berasal dari aktivitas kandang ayam usai masa panen.
Baca juga: Kagetnya Warga Mojo Kediri, Mendadak Ada Ular Piton 3 Meter di Kandang Ayam, Beratnya 3 Kilogram
Temuan tersebut diperoleh setelah tim DLH melakukan verifikasi lapangan pada Rabu (15/4/2026) kemarin.
"Dalam peninjauan itu, petugas mendapati pengelolaan limbah kandang belum dilakukan secara optimal sehingga memicu bau menyengat dan berkembangnya lalat dalam jumlah besar," ungkapnya.
Selama beberapa waktu terakhir, warga mengaku terdampak cukup parah. Selain mengganggu kenyamanan, kondisi tersebut juga dinilai menghambat aktivitas sehari-hari karena lalat kerap menghinggapi makanan.
Menindaklanjuti hasil verifikasi, DLH memberikan sejumlah arahan kepada pemilik kandang.
Di antaranya kewajiban melakukan penyemprotan pembasmi lalat secara rutin menggunakan bahan yang efektif, bukan sekadar air.
"Pembersihan kotoran ayam diminta dilakukan segera setelah panen tanpa penundaan," beber Dedy.
DLH juga menyatakan akan melakukan pengawasan lanjutan untuk memastikan perbaikan manajemen lingkungan benar-benar dijalankan hingga kondisi kembali normal.
Sementara itu, pemilik kandang, Sugeng, menyatakan kesediaannya untuk mengikuti instruksi tersebut.
Ia berjanji akan memperbaiki pengelolaan kandang agar tidak lagi menimbulkan dampak bagi warga sekitar.
"Kami berjanji akan memperbaikinya pengelolaan kandang supaya tidak menimbulkan dampak lagi ke masyarakat," jelasnya dalam keterangan yang diterima.
Saat ini, warga menunggu realisasi komitmen perbaikan dari pihak kandang.
Mereka berharap gangguan serupa tidak kembali terjadi pada periode pemeliharaan berikutnya