TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Di tengah kesibukannya, Founder Bosowa, Aksa Mahmud, menyempatkan menghadiri Seminar Nasional di Balai Sidang 45, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Jumat (17/4/2026).
Seminar nasional itu dihadirkan Universitas Bosowa (Unibos) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unibos.
Tema yang diangkat bertajuk ‘Konflik Amerika Serikat-Iran dan Dampaknya Terhadap Stabilitas Ekonomi Global Serta Indonesia’.
Hadir sebagai pembicara utama, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Muhammad Syarkawi Rauf.
Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI periode 2015-2018 itu sejam lebih membahas perkembangan dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah.
Aksa Mahmud bersama dengan 500 mahasiswa Unibos tampak serius mendengarkan pemaparan materi.
Aksa Mahmud yang hadir mengenakan pakaian putih bahkan mengikuti seminar sampai selesai.
Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua MPR RI periode 2004–2009 tersebut memberikan motivasi kepada mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa harus siap dalam menghadapi dinamika global yang terus berubah.
Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak berhenti belajar dan terus meningkatkan kapasitas diri melalui berbagai kegiatan akademik, termasuk seminar.
Menurut Aksa, perubahan global akan terus terjadi sehingga mahasiswa dituntut untuk adaptif dan memiliki bekal ilmu yang memadai.
“Situasi akan bergerak terus. Suplai ilmu harus dipercepat. Jangan berhenti menimba ilmu,” kata Aksa.
Ia pun mendorong mahasiswa, khususnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), untuk aktif menggelar kegiatan ilmiah secara rutin.
Bahkan, Aksa menyatakan siap mendukung dari sisi pendanaan demi terciptanya ruang belajar yang berkualitas.
“Saya harapkan kepada mahasiswa, terutama BEM, agar terus membuat seminar dan mengundang pembicara. Kalau soal honor (pemateri), itu urusan saya,” katanya.
Aksa juga menekankan organisasi kemahasiswaan merupakan wadah penting dalam membentuk jiwa kepemimpinan.
Menurutnya, mahasiswa yang aktif berorganisasi memiliki peluang besar menjadi pemimpin di masa depan.
“Biasanya aktivis organisasi itu menjadi pemimpin. Di situ kita belajar memimpin manusia. Jadilah figur ke depan,” jelasnya.
Ia bahkan menantang BEM untuk meningkatkan skala kegiatan dengan melibatkan peserta yang lebih luas, mulai dari tingkat kota hingga kawasan Indonesia Timur.
Selain itu, Aksa juga mengapresiasi kehadiran narasumber seminar, Muhammad Syarkawi Rauf.
Menurutnya pemateri yang dihadirkan memiliki kapasitas keilmuan yang kuat dan layak menjadi rujukan mahasiswa dalam memahami isu global.
“Syarkawi saya kenal, beliau banyak membaca. Saya harapkan seminar ini betul-betul dipahami,” jelasnya.
Ia berharap mahasiswa, khususnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unbos, aktif mengikuti perkembangan isu global serta rutin menghadiri forum ilmiah.
Aksa juga meminta BEM segera menyiapkan seminar lanjutan pada Mei 2025 sebagai bentuk konsistensi dalam pengembangan wawasan mahasiswa.