Larangan Konvoi Kelulusan SMA Dinilai Tepat, Dosen UIN Ar-Raniry Dorong Budaya Perayaan Lebih Islami
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kebijakan Dinas Pendidikan Aceh yang melarang konvoi, aksi corat-coret seragam, serta berbagai bentuk kegiatan destruktif dalam perayaan kelulusan tahun ajaran 2026 mendapat apresiasi dari kalangan akademisi dan ulama.
Dosen UIN Ar-Raniry sekaligus Humas Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah (HUDA) Aceh, Dr Teuku Zulkhairi MA, menilai kebijakan tersebut sebagai langkah strategis dalam membina karakter generasi muda Aceh yang berakhlak dan beradab.
“Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Dinas Pendidikan Aceh atas kebijakan yang bersifat administratif dan sarat dengan nilai-nilai pendidikan karakter dan moral Islami,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Menurutnya, kebijakan tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga adab dalam setiap momentum kehidupan.
Kelulusan, kata dia, bukan sekadar ajang perayaan, melainkan bentuk rasa syukur atas nikmat ilmu.
“Ekspresi kegembiraan semestinya tetap berada dalam koridor akhlak mulia, bukan dengan tindakan yang merusak, mengganggu ketertiban, atau mencederai nilai kesederhanaan,” kata Dr Zulkhairi.
Ia menambahkan, larangan konvoi dan corat-coret seragam juga mencerminkan kepedulian terhadap keselamatan dan ketertiban umum.
Tradisi yang berkembang selama ini, seperti berkendara ugal-ugalan hingga vandalisme, dinilai bertentangan dengan nilai kearifan lokal Aceh yang menjunjung tinggi adat dan marwah.
Lebih lanjut, Dr Zulkhairi menilai kebijakan yang mendorong sekolah untuk kegiatan sosial dalam perayaan kelulusan merupakan langkah edukatif yang sejalan dengan nilai-nilai Islam, seperti sumbangan buku, tanaman produktif, atau seragam layak pakai merupakan langkah edukatif yang sangat Islami.
“Ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati dalam kelulusan bukan pada euforia sesaat, tetapi pada kemampuan berbagi dan memberi manfaat kepada sesama,”
“Dalam tradisi keilmuan Islam di Aceh, semangat ta’āwun (tolong-menolong) dan iḥsān (berbuat kebaikan) selalu menjadi fondasi utama,” jelasnya.
Sebagai daerah yang dikenal sebagai Serambi Mekkah, Aceh dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan sistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan emosional.
Karena itu, Dr Zulhairi mendorong agar momentum kelulusan diisi dengan kegiatan yang lebih bermakna, seperti doa bersama, zikir, khataman Al-Qur’an, serta kegiatan sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Selain itu, ia juga mengusulkan sejumlah langkah konkret untuk memperkuat budaya kelulusan yang lebih edukatif dan islami.
Di antaranya, pertama, sekolah dapat menginisiasi “Hari Syukur Kelulusan” yang diisi dengan sujud syukur, pembacaan doa bersama, serta tausiyah ulama tentang adab menuntut ilmu dan tanggung jawab setelah kelulusan.
Ini penting agar siswa memahami bahwa ilmu adalah amanah, bukan sekadar capaian administrative,” ungkap Dr Zulkhairi.
Kedua, perlu dibangun gerakan “Satu Lulusan Satu Amal”, yaitu setiap siswa yang lulus didorong untuk meninggalkan satu amal nyata, seperti menyumbangkan mushaf Al-Qur’an, buku bacaan, atau menanam pohon produktif di lingkungan sekolah atau gampong.
“Ini akan menjadi jejak kebaikan yang berkelanjutan (ṣadaqah jāriyah),” katanya.
Ketiga, pihak sekolah bersama komite dan orang tua dapat membuat komitmen bersama (ikrar kelulusan) yang menegaskan larangan aktivitas destruktif serta komitmen menjaga nama baik sekolah, keluarga, dan daerah.
“Ikrar ini dibacakan secara kolektif agar memiliki kekuatan moral dan sosial,” tambahnya.
Keempat, perlu adanya pelibatan aktif aparat gampong, tokoh adat, dan ulama setempat dalam mengawal momentum kelulusan, sehingga nilai adat hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut benar-benar hidup dalam praktik pendidikan.
Kelima, pemerintah daerah dapat mempertimbangkan pemberian penghargaan kepada sekolah yang berhasil melaksanakan kelulusan secara tertib, kreatif, dan islami, sebagai bentuk motivasi sekaligus standar baru budaya pendidikan di Aceh.
Selain itu, peran orang tua dan masyarakat juga sangat penting dalam mengawal implementasi kebijakan ini.
“Sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan akan menjadi kunci keberhasilan dalam membentuk karakter generasi muda yang beradab, santun, dan bertanggung jawab,” ujar Dr Zukhairi.
Ia berharap kebijakan ini dapat membentuk budaya baru dalam merayakan kelulusan di Aceh, yakni perayaan yang lebih bermakna, beradab, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
“Kelulusan bukan akhir perjalanan, tetapi awal pengabdian. Ilmu tanpa adab adalah kehampaan, dan kelulusan tanpa nilai adalah kehilangan makna,” pungkasnya.
(Serambinews.com/Agus Ramadhan)