Program MAMAKU SIGAP Pertamina Patra Niaga Dorong Pengelolaan Sampah dan Peningkatan Ekonomi Warga
Nurhadi Hasbi April 17, 2026 02:45 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM - PT Pertamina Patra Niaga (PPN) terus memperkuat kemandirian masyarakat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Salah satu keberhasilan utamanya adalah program MAMAKU SIGAP (Masyarakat Mandiri Kutawaru - Sistem Integrasi Pengelolaan Lingkungan Kawasan Pesisir) yang dilaksanakan oleh Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun mengatakan, program ini dirancang sebagai solusi terintegrasi untuk menjawab tantangan lingkungan dan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat Kelurahan Kutawaru, Kabupaten Cilacap.

Berdasarkan hasil pemetaan sosial, di Kutawaru ada lebih dari 4.600 orang berpendapatan rendah atau 320 kelompok rentan secara ekonomi.

Mereka terdiri dari mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI), mantan Anak Buah Kapal (ABK), buruh serabutan, perempuan dari keluarga prasejahtera, anak-anak sekolah, serta masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana.

Sementara itu, permasalahan lingkungan terkait dengan ketiadaan fasilitas tempat pembuangan akhir (TPA) sehingga per tahun kelurahan ini bisa menghasilkan sekitar 240 ton sampah.

Baca juga: Program BERBISIK Pertamina Patra Niaga Dorong Inklusi Sosial dan Ekonomi Warga Balongan

“Kondisi ini menegaskan perlunya solusi terpadu yang tidak hanya berfokus pada pengelolaan lingkungan, tetapi juga peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pertamina Patra Niaga merasa terpanggil untuk terjun langsung ke sana dan membuat perubahan melalui inovasi sosial,” tutur Roberth.

Setelah melewati berbagai proses persiapan, pada 2020 dimulailah program MAMAKU SIGAP sebagai program integratif yang menggabungkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Salah satu pilar utama program ini adalah pengelolaan sampah melalui Bank Sampah Abhipraya dengan pendekatan ekonomi sirkular.

Konsep ini diterapkan melalui langkah-langkah prinsip ekonomi sirkular yaitu Refuse (R0), Rethink (R1), Repurpose (R7), Recycle (R8), dan Recover (R9). Menurut Roberth, dengan strategi tersebut, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Setiap tahunnya, bank sampah ini berhasil mengelola sebanyak 7,6 ton sampah.

“Dengan beroperasinya Bank Sampah Abhipraya, masalah lingkungan di Kutawaru teratasi dengan baik. Bank sampah ini juga menjawab permasalahan ekonomi warga, karena sampah yang dikelola menghasilkan pundi-pundi rupiah,” jelas Roberth.

Masih di bidang lingkungan, Pertamina Patra Niaga juga menginisiasi penanaman mangrove di pesisir pantai Cilacap sebagai upaya untuk mencegah abrasi. Roberth menambahkan, program ini juga memanfaatkan energi bersih melalui pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6.600 Wattpeak (Wp).

Dalam aspek ekonomi, Pertamina Patra Niaga mendorong pendirian Kampoeng Kepiting. Ini merupakan sentra kuliner hidangan laut yang dikelola oleh warga Kutawaru. Salah satu menu unggulannya adalah kepiting cangkang lunak. Kini Kampoeng Kepiting menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Cilacap dengan omzet per bulan mencapai puluhan juta rupiah.

“Kami juga menginisiasi Pasar Amarta yang merupakan pusat pemasaran produk UMKM lokal. Lalu ada pula Integrated Farming System yang merupakan wadah implementasi sistem pertanian dan perikanan untuk warga,” ungkap Roberth.

Konsep integrasi dalam program MAMAKU SIGAP memberikan dampak sosial yang dahsyat. Menurut Roberth, perputaran ekonomi dalam program ini mencapai Rp366 juta per bulan. Dari angka tersebut, 5 persen disalurkan untuk kegiatan kemasyarakatan, sehingga memberikan dampak sosial yang baik. Dampak pendidikan juga terasa, yakni terbentuknya 1 pusat pembelajaran yang mendorong masyarakat lebih mandiri dan berkelanjutan dalam pengelolaan sampah.

Roberth menegaskan, program MAMAKU SIGAP merupakan langkah nyata Pertamina Patra Niaga dalam mendukung berbagai poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), mulai dari pengentasan kemiskinan, pendidikan berkualitas, pekerjaan yang layak hingga penanganan perubahan iklim.

“Dengan keberhasilan menciptakan ekosistem yang lebih inklusif, mandiri, dan berkelanjutan, kami optimis MAMAKU SIGAP bisa menjadi contoh nyata bagaimana inovasi sosial dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat, sekaligus menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Indonesia,” tutup Roberth.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.