TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG – Sebuah video memperlihatkan seorang sopir angkot lansia di Palembang bernama Pak Amir menyita perhatian di media sosial.
Amir menjadi sorotan setelah diduga tak sengaja menerobos jalur Car Free Day (CFD) di kawasan Jembatan Ampera, Palembang, beberapa waktu lalu.
Dalam unggahan akun TikTok @budakk.uluuuu pada Selasa (14/4/2026), Pak Amir tampak menunjukkan raut wajah bingung saat angkot merah yang dikemudikannya dihentikan oleh sejumlah petugas kepolisian.
Kondisi jalan saat itu sudah steril dari kendaraan bermotor dan mobil karena sedang diberlakukannya uji coba CFD.
Di tengah kerumunan warga yang menikmati pagi tanpa kendaraan, para petugas tampak meminta Pak Amir untuk menunjukkan surat-surat kelengkapan berkendara.
Baca juga: Uji Coba CFN dan CFD Jadi Sorotan, Ratu Dewa : Banyak Laporan Masuk ke DM Pribadi Saya
Berdasarkan keterangan pengunggah video, insiden ini murni ketidaksengajaan.
Pak Amir mengaku sama sekali tidak mengetahui adanya kebijakan penutupan jalan utama tersebut.
Keterbatasan akses informasi menjadi kendala utama bagi sang sopir lansia.
"Saya tidak ada kabar (informasi penutupan jalan), dan semuanya (termasuk keluarga) tidak ada handphone," ungkap Amir dengan nada lirih saat diwawancarai pemilik akun TikTok tersebut.
Ia mengaku baru menyadari adanya acara CFD saat kendaraannya sudah berada di jalur yang dilarang.
"Pas tahu, tiba-tiba jalan sudah ditutup," tambahnya.
Meski sempat terjadi ketegangan saat penghentian kendaraan, Pak Amir menjelaskan bahwa pihak kepolisian tidak memberikan sanksi tilang, melainkan hanya memberikan edukasi dan arahan.
"Pak polisi cuma negur saja, kasih arahan. Dia cuma ngomong (soal) nilang, tapi tidak ditilang," jelas Amir.
Namun, surat-surat kendaraannya sempat diminta untuk diambil kembali di pos polisi terdekat di kawasan Air Mancur setelah ia keluar dari jalur CFD.
Pihak pengunggah video pun menyampaikan apresiasinya terhadap sikap petugas yang masih mengedepankan sisi humanis.
"Terima kasih buat Pak Polisi sudah benar kasih teguran dan cuma memeriksa surat-surat perlengkapannya saja," tulis akun @budakk.uluuuu.
Di balik insiden tersebut, terungkap fakta mengenai kegigihan Pak Amir dalam mencari nafkah.
Meski usianya tak lagi muda, ia masih setia melakoni profesi sebagai sopir angkot jurusan Ampera-Plaju.
Pekerjaan ini diakui telah ia geluti sejak tahun 1980 silam.
Kini pak Amir yang berusia 66 tahun ini masih aktif menjadi sopir angkot karna untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.
Kisah Pak Amir ini pun memicu simpati luas dari warga Palembang.
Bahkan tak sedikit yang ingin membuka donasi untuk membantu pak Amir.
Baca juga: Momen Hangat Keluarga di CFD Palembang, Warga: Senang Bisa Bebas Olahraga di Jalan Protokol
elaksanaan uji coba perdana Car Free Night (CFN) pada Sabtu (11/4/2026) malam dan Car Free Day (CFD) pada Minggu (12/4/2026) pagi langsung menjadi sorotan publik.
Pro dan kontra warganet yang ramai di media sosial (Medsos) segera direspons cepat oleh Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, dengan melakukan evaluasi menyeluruh.
Hasilnya, CFN dalam waktu dekat akan di launching karena sudah mendapat respon positif masyarakat, sedangkan CFD akan tetap dilakukan uji coba kembali dengan opsi lain.
"CFN kita masih menunggu jadwal pak Gubernur (Gubernur Sumsel Herman Deru) untuk melaunching, sedangkan CFD masih akan dilakukan uji coba kembali," kata Ratu Dewa setelah memimpin rapat evaluasi di Rumah Dinas Walikota Palembang, Senin (13/4/2026).
Rapat evaluasi bersama jajaran Pemkot Palembang, Polrestabes, Polda Sumsel dan Dishub Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Ratu Dewa menekankan beberapa hal krusial.
Beberapa hal yang paling mencolok, diantaranya belum optimalnya pengaturan lalulintas, yang mendapat kritikan tajam warga net saat CFD berlangsung titik kemacetan di ruas jalan Musi 4 dan Musi 6, mendapat perhatian serius orang nomor satu di kota tertua di Indonesia ini.
“Car Free Day, jalur sepanjang 2,8 km ditutup, termasuk Jembatan Ampera. Hal ini menimbulkan kemacetan luar biasa di kawasan Musi 6 dan Musi 4, dari pantauan dan laporan warganet langsung DM ke medsos pribadi saya. Saya pantau tidak ada penempatan petugas Dishub kota yang mengatur dikawasan itu, sehingga terjadi kemacetan yang mengular,” papar Ratu Dewa.
Tidak jarang warga yang melintas melakukan siaran langsung melaporkan kondisi kemacetan itu, bahkan tidak segan segan melontarkan sentiment kritikan yang “nyeleket” (Tajam).
“Minggu depan akan kita lakukan ujicoba kembali CFD ini , setelah OPD dan pihak terkait melakukan rapat dan melakukan opsi- opsi yang dari berbagai pihak terkait hasil rapat tadi,” tegasnya.
Bahkan, kritikan tajam warganet yang diperlihatkan Ratu Dewa melalui medsos saat rapat tersebut, Dishub Kota Palembang mengakui belum optimalnya penempatan petugas di dua jembatan ikon baru kota Palembang itu, bahkan 100 personil hanya difokuskan dititik tempat CFD itu berlangsung.
“Kadishub harus lebih sensitif dalam penempatan petugas, dititik menjadi altenatif warga yang melintas dan memberikan rambu rambu yang jelas selama pelaksanaa nanti,” tegasnya.
Mengingat masih perlunya banyak masukan selama CFD, Ratu Dewa menunda rencana launching CFD yang akan dijadwalkan pada Minggu (19/4/2026) mendatang, dan akan tetap akan melakukan uji coba dengan melakukan beberapa opsi dalam rapat yang digelar.
“Dishub dan Dirlantas dan pihak terkait akan kembali rapat secara komperhensif akan melakukan rekyasa lalulintas kembali, agar titik kemacetan baru bias diurai,” ungkapnya.
Sementara untuk CFN, Ratu Dewa juga memberikan atensi yang cukup mencolok, dari hasil pemantauannya sendiri dan laporan warganet, dirinya mendapati banyak catatan, meski CFN ini sudah berjalan sangat baik.
Namun beberapa hal masih menjadi catatan dan perlu dilakukan kajian ulang diantara sampah, kurangnya tempat pembuangan sampah sementara (TPS) dilokasi yang organic dan non organic, serta belum adanya CCTV yang terpasang oleh Kominfo.
“Pengunjung dan pedagang harus lebih banyak diberikan edukasi, nah ini tugas Dinas Komunikasi dan Informatika untuk lebih memberikan edukasi mengunakan mobil keliling,” pinta Ratu Dewa.
Kawasan Kolonel Atmo yang selama ini tidak terlalu padat lalu Lalang aktifitas warga dan kendaraan melintas pada malam hari, tentunya dengan menyulap kawasan tersebut menjadi pusat kreasi dan hiburan warga, aka nada lonjakan dratis warga, untuk itu, Dishub harus melakukan penataan kantong parkir dan mendata jukir resmi dengan atributnya.
“Tarif parkir harus sesuai aturan jangan ada tarif parkir yang melebihi aturan,” tegasnya.
Ratu Dewa menegaskan bahwa evaluasi ini bukan sekadar catatan, tetapi akan segera ditindaklanjuti.
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com