WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Keberadaan ikan sapu-sapu yang kian mendominasi sejumlah titik di Sungai Ciliwung mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Upaya pemberantasan secara masif pun menuai dukungan dari warga, yang khawatir ikan tersebut dikonsumsi sembarangan.
Salah satu warga, Elzio (45), menyatakan dukungannya terhadap operasi besar penangkapan ikan sapu-sapu yang dilakukan pemerintah.
Ia menilai langkah tersebut penting untuk mencegah risiko kesehatan bagi masyarakat.
"Iya, takut banyak yang konsumsi, jadi lebih baik dibersihkan," ujar Elzio saat menyaksikan proses pembersihan ikan sapu-sapu di Saluran RW 06, Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan.
Belakangan, ikan sapu-sapu ramai diperbincangkan setelah disebut-sebut berasal dari sungai di Jakarta dan diolah menjadi bahan baku makanan seperti siomay.
Padahal, ikan sapu-sapu hasil tangkapan dari perairan tercemar dinilai tidak layak dikonsumsi karena berpotensi membahayakan kesehatan.
Baca juga: Dominasi Perairan di Jakarta, Lebih dari 60 Persen Populasi Ikan Sapu-sapu Ada di Ibu Kota
Meski demikian, ikan ini sebenarnya masih bisa dikonsumsi dengan syarat berasal dari ekosistem yang terkontrol dan air yang bersih serta mengalir.
Elzio berharap pemerintah tidak hanya melakukan pembersihan secara insidental, tetapi juga menjadikannya sebagai program rutin dan berkelanjutan.
"Kalau bisa jangan cuma sekarang saja, tapi terus dilakukan supaya sungai tetap bersih dan tidak disalahgunakan,” katanya.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut ikan sapu-sapu mendominasi hingga 60 persen sungai di Ibu Kota.
Orang nomor satu di Jakarta itu turut didampingi Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Hasudungan A. Sidabalok serta Wali Kota Jakarta Utara Hendra Hidayat.
Turut hadir pula Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Danpuspomal), Harry Indarto dan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Haeru Rahayu.
Lokasi yang dipantau berada di tengah lingkungan perumahan mewah dengan penataan rapi dan sistem keamanan ketat.
Rumah-rumah berdesain modern berjajar di sisi sungai selebar sekitar lima meter, lengkap dengan pagar tinggi, taman tertata, serta pengawasan kamera dan portal otomatis di pintu masuk.
Secara visual, kawasan tersebut tampak bersih dan terawat. Namun, kondisi air sungai justru menunjukkan hal berbeda.
Aliran air terlihat keruh kehijauan, mengindikasikan kualitas yang kurang baik meski tidak dipenuhi sampah.
Di sepanjang bantaran, jaring-jaring dipasang untuk mendukung proses penangkapan ikan. Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) bersama Dinas Sumber Daya Air (SDA) juga tampak melakukan pembersihan di sekitar aliran sungai.
Kegiatan ini menarik perhatian warga sekitar. Sebagian hanya menyaksikan dari kejauhan, sementara lainnya mendekat, termasuk warga yang sedang berolahraga pagi.
Sekitar pukul 07.28 WIB, Pramono tiba di lokasi. Ia sempat mengamati situasi dari atas sebelum kemudian berdiri di atas kubus apung untuk melihat lebih dekat proses penangkapan.
Dia memantau kinerja petugas PPSU, Pasukan Biru dari Dinas SDA, serta personel TNI AL yang sudah berada di sungai.
Dalam waktu kurang dari 10 menit, lima ekor ikan sapu-sapu berukuran besar berhasil diamankan dan diperlihatkan kepadanya.
Pramono menegaskan bahwa penangkapan ikan sapu-sapu dilakukan secara serentak di lima wilayah Jakarta, yakni Jakarta Utara, Selatan, Timur, Barat, dan Pusat.
“Pelaksanaan serentak di lima kota di Jakarta untuk menangkap ikan sapu-sapu, karena diketahui ikan ini sekarang mendominasi perairan Jakarta. Dari hasil telaah KKP, diperkirakan lebih dari 60 persen populasi ikan di Jakarta adalah ikan sapu-sapu,” ujar Pramono.
Ia menjelaskan, ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang mengancam keberlangsungan ikan lokal. Selain memangsa telur ikan lain, keberadaannya juga merusak ekosistem perairan.
“Ikan ini sangat invasif, membuat ikan-ikan lokal tidak bisa bertahan karena telurnya dimakan. Bahkan, dari laporan KKP, kadar residunya rata-rata sudah di atas 0,3, yang berbahaya jika dikonsumsi,” katanya.
Selain itu, ia menambahkan, ikan sapu-sapu juga merusak struktur sungai karena kebiasaannya menggerogoti dinding saat membuat sarang.
Pramono menyebutkan, target awal penangkapan di lokasi tersebut sekitar 150 kilogram, namun hasilnya diperkirakan melampaui angka tersebut.
“Di awal saja sudah terkumpul lebih dari 60 kilogram. Saya yakin totalnya bisa di atas 200 kilogram,” ucapnya.
Haeru Rahayu, mengapresiasi langkah Pemprov DKI dalam mengendalikan populasi ikan sapu-sapu.
Menurutnya, hingga saat ini metode paling efektif masih dilakukan secara konvensional melalui penangkapan langsung.
“Secara biologis belum ada predator alami yang efektif, sementara pendekatan kimia berisiko terhadap lingkungan. Jadi metode seperti ini yang paling memungkinkan saat ini,” ujarnya.
Haeru juga menyebut KKP tengah merevisi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020 agar lebih aplikatif dalam mendukung pengendalian populasi ikan sapu-sapu.
Sementara itu, Harry Indarto, menegaskan kesiapan TNI AL untuk mendukung upaya tersebut.
“Kami bersama stakeholder di wilayah Kelapa Gading merasa ikut bertanggung jawab dalam mendukung program Pemprov DKI. Lingkungan kami juga dikelilingi sungai kecil yang banyak ditemukan ikan seperti ini,” ujarnya.
Ia memastikan TNI Angkatan Laut siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menjaga ekosistem perairan, khususnya di wilayah Jakarta Utara.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap dapat menekan dominasi ikan sapu-sapu sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem sungai di ibu kota.
Operasi besar ini juga dilakukan di lima lokasi wilayah DKI Jakarta. (m27)