BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Sosok perempuan muda dari Desa Timbaan, Kecamatan Tapin Selatan, Lily Nor Aida Sari (34) membuktikan bahwa dunia pertanian bukan hanya milik kaum pria.
Berkat kiprahnya sebagai petani milenial, ia berhasil meraih penghargaan Kartini Masa Kini Tahun 2025 tingkat Provinsi Kalimantan Selatan.
Penghargaan tersebut membawa dampak besar bagi perkembangan usahanya di sektor pertanian.
Lily mengaku, setelah menerima apresiasi tersebut, peluang usaha semakin terbuka lebar.
“Dampaknya sangat besar, banyak peluang usaha yang datang, termasuk pengadaan barang dari saprodi, kerja sama pengelolaan alsintan, hingga kemitraan dengan berbagai pihak di Dinas Pertanian,” ujarnya, Sabtu (17/4/2026).
Baca juga: Tapin Sumbang 137 Kasus PHK di Kalsel, Didominasi Sektor Tambang Batu Bara
Baca juga: Diadang Aparat, BEM Kalsel Gagal Unjuk Rasa di Depan Gedung DPRD
Tak hanya fokus pada budidaya, Lily juga mengembangkan usaha di berbagai lini pertanian. Mulai dari pengolahan lahan padi, kebun jeruk, hingga penyewaan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Saat ini, ia mengelola sekitar satu hektare lahan padi serta setengah hektare kebun jeruk.
Di bidang alsintan, Lily bersama timnya juga mengelola beberapa unit alat mesin pertanian, termasuk combine harvester dan alat pengolahan tanah hasil kerja sama dengan Brigade Pangan di Kabupaten Tapin.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan keluarga, terutama suami dan orang tua.
Bahkan, sang suami turut terlibat sebagai operator alsintan.
“Dari awal saya terjun ke pertanian sudah izin dan minta dukungan keluarga. Alhamdulillah mereka sangat berperan, jadi semua terasa lebih ringan,” katanya.
Meski kini aktivitas lapangan sedikit berkurang, Lily tetap memegang peran utama dalam perencanaan dan pengembangan usaha.
Sementara operasional di lapangan dibantu oleh keluarga dan tim.
Ia mengakui, tantangan terbesar justru datang di awal perjalanan. Sebagai perempuan muda, ia sempat diragukan dan dianggap hanya sekadar pencitraan.
“Awalnya memang sulit, ada yang menganggap kita cuma cari perhatian. Tapi kita buktikan dengan konsistensi sampai sekarang,” tegasnya.
Baca juga: Kabur 7 Tahun Usai Menghabisi Nyawa Teman di Gambah, Pemuda HSS Diringkus di Rumah
Selain itu, tantangan juga muncul saat memperkenalkan teknologi pertanian kepada petani yang lebih senior.
Namun seiring waktu, para petani mulai menerima bahkan bergantung pada penggunaan alsintan.
Dalam menjalankan usahanya, Lily juga mengadopsi inovasi, seperti penggunaan bibit unggul yang lebih cepat panen serta modifikasi alat pertanian agar lebih efektif dalam pengolahan lahan.
Sebagai perempuan, ibu, sekaligus petani, Lily mengaku menjalani semua peran dengan penuh syukur.
Bahkan, kecintaan terhadap pertanian mulai terlihat pada anaknya yang kini sudah akrab dengan lingkungan sawah.
“Anak saya sudah berani pegang traktor dan kenal bulir padi. Mudah-mudahan bisa meneruskan,” ucapnya sambil tersenyum.
Ia pun mengajak generasi muda, khususnya perempuan, untuk tidak ragu terjun ke dunia pertanian.
Menurutnya, sektor ini sangat menjanjikan dan memiliki peluang besar.
“Jangan malu jadi petani. Pertanian itu menguntungkan dan banyak peluang, dari saprodi, alsintan, sampai pemanfaatan pekarangan rumah,” pesannya.
Ke depan, Lily berharap usahanya semakin berkembang, lebih banyak membuka lapangan pekerjaan bagi anak muda, serta terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Semoga ke depan semakin lancar, sukses, berkah, dan bisa mempekerjakan lebih banyak anak muda,” harapnya.
(Banjarmasinpost.co.id/ Mukhtar Wahid)