WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Keinginan untuk memiliki wajah kencang secara instan kini tengah viral di media sosial.
Prosedur lifting pengencangan kulit wajah dengan metode non-bedah, menjadi primadona di dunia estetika saat ini.
Namun, di balik tren tersebut, muncul sebuah fenomena yang menjadi kekhawatiran para ahli medis, yakni 'Wajah Kempot'.
Medical Director dan Founder Altruva Aesthetic Clinic, dr. Aldisa mengungkapkan bahwa meski prosedur pengencangan wajah sangat diminati, faktor keamanan pasien seringkali terabaikan demi hasil instan.
Salah satu teknologi yang paling sering dikaitkan dengan fenomena wajah kempot adalah HIFU (High Intensity Focused Ultrasound).
Teknologi ini bekerja dengan memancarkan gelombang ultrasound ke lapisan dalam kulit tanpa melukai permukaan atasnya.
"HIFU menjadi pilihan yang sangat disukai karena tidak ada luka di permukaan, dia menembak langsung ke lapisan tertentu seperti 1,5 mm, 3 mm, hingga 4,5 mm," jelas dr. Aldisa saat media briefing di Altruva Aesthetic Clinic Jakarta, Jumat (17//4/2026).
Namun, dr. Aldisa memperingatkan bahwa teknologi HIFU tradisional bekerja dengan suhu tinggi (di atas 70 derajat celcius) yang bertujuan mematikan jaringan lama untuk memicu pertumbuhan kolagen baru.
Masalah muncul ketika prosedur ini dilakukan secara berlebihan atau tidak tepat sasaran.
Fenomena 'Wajah Kempot' muncul akibat kesalahan dalam penggunaan teknologi lifting, terutama jika dilakukan terlalu sering atau dengan teknik yang tidak tepat.
“Yang sering terjadi adalah suhu terlalu tinggi, overlap penembakan, atau dilakukan pada wajah yang lemaknya sudah sedikit,” jelas dr. Aldisa.
Ia menambahkan bahwa penggunaan yang tidak sesuai dapat merusak jaringan lemak di wajah.
“Lemak itu tidak semuanya harus dihilangkan. Kita tetap butuh lemak supaya wajah terlihat natural. Kalau hilang, wajah jadi cekung dan tampak lebih tua,” ujarnya.
Selain itu, kesalahan dalam menentukan target lapisan kulit juga menjadi faktor utama. Banyak prosedur justru menargetkan lapisan terlalu dalam, padahal produksi kolagen optimal terjadi di lapisan dermis.
“Kalau tujuannya mengencangkan kulit, seharusnya fokus di dermis. Kalau terlalu dalam, yang kena justru lemak dan jaringan lain,” jelasnya.
Kesalahan prosedur menimbulkan komplikasi
Menurut dr. Aldisa, fenomena 'Wajah Kempot' ini terjadi ketika energi ultrasound tidak terdistribusi secara presisi pada lapisan kulit yang tepat.
Di usia 40+, produksi kolagen secara alami mulai menurun. Namun bila distribusi energi terlalu dalam atau tidak sesuai dengan kebutuhan struktur wajah, terlebih jika dilakukan dengan jarak yang terlalu berdekatan, efek “lifting” yang diharapkan dapat juga disertai pengurangan volume yang membuat wajah tampak lebih hollow alias kempot.
“Di usia 40+, kolagen memang mulai drop. Namun bila energi ultrasound tidak tepat sasaran, bukan hanya mengencangkan tetapi juga dapat memengaruhi volume wajah. Tidak semua treatment lifting diciptakan sama, dan tidak semua wajah membutuhkan pendekatan yang sama," ucapnya.
Tidak hanya menyebabkan wajah tampak cekung, kesalahan prosedur juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi lain.
“Bukan cuma kempot, tapi bisa juga terjadi asimetri wajah, kerusakan saraf, bahkan luka bakar dan gangguan jaringan,” jelas dr. Aldisa.
Penggunaan teknologi Sofwave
Untuk meminimalkan risiko tersebut, dr. Aldisa mengedepankan penggunaan teknologi Sofwave™ dalam prosedur lifting. Teknologi ini dirancang untuk menghantarkan energi ultrasound secara lebih presisi pada lapisan dermis tengah, yang merupakan area utama pembentukan kolagen.
Berbeda dengan teknologi HIFU konvensional yang menargetkan lapisan lebih dalam, pendekatan ini dinilai mampu menjaga struktur lemak wajah sehingga hasil tetap proporsional dan natural.
“Presisi energi menentukan bagaimana kulit merespons treatment dalam jangka panjang,” jelasnya.
Selama lebih dari dua tahun terakhir, dr. Aldisa telah menggunakan teknologi ini secara intensif dengan volume tindakan yang tinggi, sekaligus menjadi Key Opinion Leader (KOL) dan pelatih nasional untuk penggunaan teknologi tersebut di Indonesia.
Metode A.R.T Lift by Sofwave
Dalam praktiknya, dr. Aldisa juga mengembangkan metode A.R.T Lift by Sofwave™, yaitu teknik penempatan energi yang disesuaikan dengan struktur wajah secara menyeluruh.
Pendekatan ini tidak hanya mengejar efek instan, tetapi juga mendorong regenerasi kulit secara bertahap.
Untuk meningkatkan hasil, metode tersebut kerap dikombinasikan dengan collagen stimulator seperti GOURI, guna memperbaiki kualitas kulit secara lebih menyeluruh.
“Di Altruva, langkah pertama adalah membangun pondasi kulit dengan A.R.T Lift by Sofwave™. Kombinasi dilakukan bila dibutuhkan untuk membantu kualitas kulit lebih optimal,” ujarnya.
Lebih lanjut, pendekatan ini sejalan dengan tren global regenerative aesthetics, yang menekankan perawatan berbasis perbaikan kualitas kulit jangka panjang, bukan sekadar hasil instan.
"Teknologi Sofwave™ sendiri telah mendapat pengakuan internasional setelah meraih penghargaan Best Aesthetic Device – Energy-Based Innovation dalam ajang AMWC 2026 di Monaco," tandas dr. Aldisa.