BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kenaikan harga bahan baku yaitu plastik kemasan dan parfum berdampak signifikan terhadap operasional usaha laundry di Kalsel.
Menurut Ricky Alamsyah, Ketua Asosiasi Laundry Indonesia (Asli) Kalsel, lonjakan beberapa kebutuhan laundry membuat biaya operasional meningkat drastis.
Ricky yang juga pemilik Family Laundry dan Home Cleaning, mengatakan, para pelaku usaha laundry harus menanggung kenaikan biaya hingga mencapai 100 persen untuk beberapa kebutuhan utama.
“Kenaikan harga plastik dan parfum sangat memengaruhi biaya operasional usaha laundry. Kondisi ini membuat kami harus mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya,” ujarnya.
Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, para pengusaha laundry akhirnya mengambil langkah penyesuaian harga layanan.
"Kenaikan tarif yang diberlakukan berkisar antara 10 hingga 25 persen dari harga sebelumnya," jelas Ricky.
Ricky menyatakan, langkah yang dilakukan demi menjaga kualitas layanan agar tidak menurun di tengah tekanan biaya yang meningkat maka mereka menaikkan harga agar kualitas tetap terjaga.
"Sejauh ini tantangan lain yang dihadapi pelaku usaha laundry, yakni minimnya dukungan dari pemerintah. Hingga saat ini, menurutnya, belum ada bantuan khusus yang diberikan kepada sektor usaha laundry," ungkapnya.
Adapun jumlah pelaku usaha laundry di Kalimantan Selatan diperkirakan mencapai lebih dari 200 hingga 500 usaha, yang sebagian besar merupakan usaha kecil dan menengah.
Para pelaku usaha berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah agar sektor ini dapat bertahan di tengah tekanan kenaikan biaya operasional. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)