TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gagasan pembangunan underpass di Jalan Dr. Djunjunan atau tepat di area depan Gerbang Tol Pasteur, Kota Bandung, kini masih berada dalam proses penelaahan mendalam. Rencana tersebut diposisikan sebagai salah satu opsi untuk meredakan kepadatan arus kendaraan yang kerap terjadi di kawasan tersebut.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa ide ini muncul dari kondisi lalu lintas di pintu keluar Tol Pasteur yang sering mengalami penumpukan kendaraan, khususnya saat akhir pekan ketika mobilitas meningkat tajam.
Meski demikian, ia menekankan bahwa wacana pembangunan underpass tersebut belum menjadi keputusan akhir dan masih membutuhkan proses kajian lebih lanjut.
"Ini kan dalam kajian, saya berkeinginan itu buat. Keluar Pasteur, Sabtu-Minggu selalu menimbulkan antrean panjang. Maka harus dicarikan solusi, salah satunya ada underpass," ujar Dedi dilansir kompas.com, Jumat (17/4/2026).
Dedi kemudian memaparkan konsep awal yang diusulkan, yakni menghadirkan jalur kendaraan yang melintas di bawah permukaan jalan, sehingga arus kendaraan tidak lagi terhambat oleh lampu lalu lintas di atas.
"Jadi jalur dari samping lewat bawah saja, terus langsung lurus," katanya.
Ia juga menegaskan bahwa studi kelayakan masih terus berjalan untuk memastikan apakah proyek tersebut dapat diwujudkan. Sejumlah pertimbangan yang tengah dianalisis meliputi aspek tata ruang kota hingga kesiapan infrastruktur penunjang.
"Mudah-mudahan ya dari segi tata kotanya, dari sisi aspek infrastrukturnya bisa terpenuhi syaratnya. Kalau itu terpenuhi, bisa tahun depan itu di bangun," tuturnya.
Apabila seluruh syarat dinyatakan terpenuhi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat disebut akan melangkah ke tahapan lanjutan berupa penyusunan detail engineering design (DED) sebagai dasar teknis pembangunan.
"Kalau itu sudah terpenuhi di perubahan anggaran kan bisa dibuatkan DED-nya tahun depan bisa di bangun," katanya.
Sebelumnya, wacana serupa telah lebih dulu disampaikan oleh Dedi Mulyadi sebagai bagian dari upaya mengurai kemacetan di kawasan Gerbang Tol Pasteur yang menjadi salah satu pintu utama masuk ke Kota Bandung.
Usulan ini berangkat dari kondisi lalu lintas yang dinilai sudah cukup padat, terutama ketika memasuki akhir pekan. Dedi menilai keberadaan persimpangan dengan lampu lalu lintas di titik tersebut menjadi salah satu pemicu utama antrean kendaraan yang panjang.
Lampu lalu lintas di lokasi tersebut dinilai menghambat kelancaran arus kendaraan dari tol menuju pusat kota, terutama saat volume kendaraan meningkat.
"Setiap Jumat sampai Minggu, Bandung pasti macet di Pasteur. Problemnya ada perempatan dengan traffic light di depan gerbang tol. Kalau akhir pekan, antreannya panjang," ujar Dedi dilansir kompas.com, Kamis (16/4/2026).
Dengan hadirnya underpass, kendaraan yang keluar dari tol diharapkan dapat langsung melaju menuju pusat kota tanpa harus berhenti akibat lampu merah.
Selain mendorong pembangunan underpass, Dedi juga menyoroti pentingnya pembenahan sistem pengaturan lampu lalu lintas di seluruh wilayah Kota Bandung. Ia menilai pengelolaan yang ada saat ini belum berjalan optimal dan perlu evaluasi menyeluruh.
Ia menyebut telah meminta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat untuk menjalin koordinasi dengan Pemerintah Kota Bandung guna membahas persoalan tersebut.
"Saya sudah minta Bappeda koordinasi dengan Pemkot Bandung. Traffic light di Kota Bandung ini tidak beraturan," kata Dedi.
Menurutnya, persoalan semakin kompleks karena masih terdapat lampu lalu lintas yang dioperasikan secara manual, sehingga pengaturan arus kendaraan tidak mampu menyesuaikan kondisi di lapangan secara dinamis.
Padahal, di kota besar seperti Bandung, sistem lalu lintas seharusnya sudah terintegrasi dan mampu merespons kondisi secara real time.
"Ini pusat kota. Harus segera dikonektivitasikan supaya pengaturannya efektif," tambahnya.
Dedi juga berpandangan bahwa tidak semua wilayah membutuhkan lampu lalu lintas. Pada kawasan dengan volume kendaraan rendah, keberadaan lampu merah justru berpotensi menghambat kelancaran arus kendaraan.
Ia mencontohkan pengalamannya saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta, di mana pengurangan lampu lalu lintas di sejumlah titik justru membuat pergerakan kendaraan menjadi lebih lancar.
"Traffic light itu untuk mengatur kemacetan. Tapi, kadang ada daerah mobilnya sedikit malah pakai lampu merah. Itu justru jadi penghambat," terangnya.
Ia pun menegaskan perlunya evaluasi komprehensif terhadap penggunaan lampu lalu lintas, termasuk keterhubungan antar ruas jalan, agar distribusi arus kendaraan lebih merata dan tidak menumpuk di satu titik tertentu.