Tiga kapal tanker minyak Iran berhasil lolos dari blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz, membawa total lima juta barrel minyak mentah.
SERAMBINEWS.COM, TEHERAN - Tiga kapal tanker minyak Iran berhasil lolos dari blokade Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz, sebuah jalur vital perdagangan energi dunia.
Peristiwa ini bukan hanya soal keberhasilan teknis Iran mengelabui pengawasan, tetapi juga mencerminkan dinamika geopolitik yang semakin kompleks di kawasan Teluk.
Kapal Deep Sea, Sonia I, dan Diona membawa total sekitar lima juta barrel minyak mentah dari Pulau Kharg, Iran, dan melintasi Selat Hormuz pada 15 April 2026.
Data pelacakan menunjukkan kapal-kapal tersebut mematikan transponder AIS sehingga pergerakan mereka tidak terdeteksi secara langsung.
Keberadaan mereka baru dikonfirmasi melalui citra satelit.
Langkah ini memperlihatkan strategi Iran dalam menghadapi tekanan internasional, khususnya sanksi dan blokade yang diberlakukan Washington sejak 13 April 2026.
Tujuan akhir kapal-kapal tersebut belum diketahui, tetapi pola sebelumnya menunjukkan bahwa Singapura menjadi titik transit utama.
Baca juga: Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz, Pemerintah Lakukan Diplomasi
Di sana, minyak mentah biasanya dipindahkan ke kapal lain sebelum dikirim ke negara tujuan, termasuk China.
Pada Maret lalu, muatan dari kapal Deep Sea diteruskan ke pelabuhan Yantai di China, sementara Diona mengirim kargo ke Dongjiakou, dan Sonia I dipindahkan ke kapal Adeline G.
Data Kpler mencatat sejak 1 Maret, sedikitnya 37 kapal tanker terkait Iran melakukan transfer minyak di wilayah Singapura dengan total volume mencapai 62,3 juta barrel.
Keberhasilan ini menegaskan bahwa blokade AS menghadapi tantangan besar. Iran tetap mampu menyalurkan minyak ke pasar global dengan memanfaatkan celah teknis dan jalur laut strategis.
Bagi Teheran, ekspor minyak adalah sumber utama pendapatan negara, sehingga mempertahankan jalur distribusi menjadi prioritas.
Sementara itu, bagi AS, blokade adalah upaya membatasi pengaruh Iran di pasar energi dunia dan menekan kemampuan finansialnya.
Situasi ini memperlihatkan bahwa Selat Hormuz kembali menjadi arena tarik-menarik kepentingan geopolitik.
Jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional ini bukan hanya penting bagi Iran, tetapi juga bagi stabilitas energi global.
Lolosnya kapal-kapal Iran menunjukkan bahwa meski tekanan politik dan militer terus meningkat, Teheran masih memiliki cara untuk menjaga aliran minyaknya.
Baca juga: Diblokade Armada Perang AS, Kapal Tanker China Putar Haluan di Selat Hormuz
Dengan demikian, peristiwa ini bukan sekadar kabar tentang tiga kapal yang berhasil keluar dari blokade, melainkan simbol dari ketahanan Iran dalam menghadapi tekanan internasional.
Sekaligus tantangan bagi AS untuk menegakkan kebijakan blokadenya di salah satu jalur laut paling strategis di dunia.(*)