Kondisi Sungai di Banjarmasin Semakin Dangkal, Airnya Keruh dan Bau, Warga Berharap Ada Pengerukan
Ratino Taufik April 18, 2026 06:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Satu dua perahu hilir-mudik di Sungai Martapura Kota Banjarmasin, Jumat (17/4). Ada kelotok wisata di kawasan siring, ada pula cis atau perahu kecil bermesin milik warga.

Kendati lancar, arus sungai diiringi tumbuhan air seperti eceng gondok. Sungai tampak kotor oleh sampah yang dibuang masyakarat. Airnya pun cokelat keruh.

Permukaan air yang sedang pasang membuat Sungai Martapura tampak baik-baik saja. Namun, kondisi berbeda dikeluhkan warga yang tinggal di kawasan pinggiran, terutama di jalur anak sungai.

Seorang warga kawasan Jalan Pangeran, Fajri (42), mengaku pendangkalan lebih terasa saat air surut. “Kalau di sungai besar memang kadang masih aman, tapi di anak sungai itu yang terasa. Kalau air lagi surut, dasar sungai kelihatan, kelotok bisa kandas,” ujarnya.

Ia mengatakan, kondisi ini tidak hanya menyulitkan aktivitas transportasi air, tetapi juga berdampak pada pekerjaan warga yang bergantung pada jalur sungai.

Keluhan serupa disampaikan Siti Rahimah (51), warga Sungai Miai. Ia menyebut air sungai kini cenderung lebih keruh dibanding beberapa tahun lalu. “Airnya makin keruh, kadang bau juga. Padahal kami masih pakai untuk aktivitas sehari-hari seperti cuci-cuci,” katanya.

Menurutnya, pendangkalan membuat aliran air tidak lancar, sehingga kotoran lebih mudah mengendap di beberapa titik.

Baca juga: Duduk Perkara Anak dan Ayah Tiri di  Panyipatan Tanahlaut Kalsel Sampai Duel Hingga Terluka Parah

Sementara itu, di kawasan Antasan Kecil Timur, warga mengaku mulai khawatir terhadap dampak jangka panjang jika pendangkalan terus dibiarkan. “Kalau terus dangkal, bukan cuma transportasi yang terganggu. Bisa berdampak ke banjir juga, karena aliran air jadi tidak lancar,” ucap Hendra (50).

Berdasarkan data Dinas PUPR Banjarmasin, kedalaman Sungai Martapura mengalami penurunan signifikan akibat sedimentasi. Dari sekitar 12 meter pada 2010, kini diperkirakan hanya 5-6 meter di beberapa titik. Apalagi di anak-anak sungai.

Warga berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk melakukan normalisasi, tidak hanya di sungai utama, tetapi juga di cabang-cabang sungai yang langsung bersentuhan dengan aktivitas masyarakat. “Jangan tunggu parah baru ditangani. Karena yang kami rasakan sehari-hari itu di anak sungai,” tutup Hendra.

Ketua RT 2 Pekapuran Laut, Muslimin, mengatakan ada rencana anak sungai di wilayah tersebut dikeruk oleh pemerintah. Pemerintah juga akan membangun siring dan pintu air sebagai bagian dari sistem penanggulangan banjir. Rencananya kawasan itu juga ditata dengan desain yang lebih modern, lengkap dengan fasilitas publik seperti taman di pinggir sungai. “Kalau untuk taman atau tempat duduk-duduk, wallahu a’lam, tapi desainnya sudah diperlihatkan dulu,” jelas Muslimin.

Realisasinya sangat ditunggu karena masyarakat masih memanfaatkan anak sungai tersebut. “Masyarakat di sini sudah terbiasa dengan aktivitas di sungai sejak dulu,” ujarnya.

Apalagi pembebasan lahan bagi warga yang terdampak penggusuran di pinggir sungai telah berjalan lancar tanpa kendala. Pemerintah telah memberikan kompensasi atau ganti rugi kepada warga yang rumahnya terdampak proyek. Menurut Muslimin, ganti rugi yang diterima warga berkisar di angka Rp 3 juta per meter. Pembayarannya sudah selesai setahun lalu.

“Warga yang sebelumnya tinggal di bantaran sungai telah pindah ke berbagai lokasi. Beberapa di antaranya memilih pindah ke kawasan Sungai Lulut hingga Pemurus,” paparnya.

Sebelum dibongkar, area tersebut merupakan permukiman padat merangkap tempat usaha bagi sebagian warga karena letaknya di pinggir jalan. (sul/naa)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.