TRIBUNTRENDS.COM - Sorotan kini tertuju pada dua kapal milik PT Pertamina yang beroperasi di jalur strategis Selat Hormuz.
Memanasnya konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel membawa dampak besar terhadap salah satu jalur energi paling vital di dunia tersebut.
Biasanya dipadati lalu lintas kapal pengangkut minyak dan gas, kini aktivitas di kawasan ini justru tersendat.
Banyak kapal memilih menahan diri, berhenti sementara, atau menunggu di sekitar perairan Teluk Persia demi menghindari risiko.
Situasi ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan militer, ancaman serangan, hingga pembatasan pelayaran.
Jalur sempit yang selama ini menjadi urat nadi distribusi sekitar seperlima pasokan energi global pun berubah menjadi area berisiko tinggi.
Baca juga: Kabar Kapal Pertamina Setelah Iran Izinkan Kapal Filipina Lewati Selat Hormuz, Ada Pergerakan?
Laporan menyebutkan sejumlah kapal tanker tertahan dan enggan melintas.
Sebagian lainnya bahkan memilih berbalik arah karena adanya blokade serta meningkatnya ancaman keamanan, mengutip New York Post.
Di tengah kondisi tersebut, dua kapal tanker milik Pertamina turut menjadi perhatian karena dikabarkan belum berhasil melintasi Selat Hormuz.
Lantas berikut ini 4 faktanya.
Hingga kini dua kapal tanker Pertamina tersebut masih tertahan.
Pemerintah Indonesia masih berupaya mengamankan izin bagi kapal tanker minyak nasional untuk melintasi Selat Hormuz, di tengah situasi geopolitik yang belum stabil akibat konflik.
Dalam konferensi pers pada Kamis (16/4/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menegaskan pentingnya menjamin kebebasan navigasi di jalur vital tersebut, sekaligus mengecam segala bentuk ancaman terhadap kapal komersial dan awaknya.
Menurut Vahd, pemerintah Indonesia terus melakukan koordinasi intensif dengan otoritas Iran guna memastikan kelancaran perjalanan dua kapal tanker, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro.
Kedua kapal tersebut dioperasikan oleh Pertamina International Shipping, unit bisnis pelayaran milik BUMN energi Indonesia, mengutip asianews.network, Sabtu (17/6/2026).
“Kami telah secara intensif berkoordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan Kementerian Luar Negeri Iran untuk menindaklanjuti sinyal positif dari pemerintah Iran pada pertengahan Maret,” ujar Vahd, merujuk pada komunikasi antara Teheran dan Kedutaan Besar Indonesia sebelumnya.
Selain itu, pemerintah juga terus memantau kondisi di lapangan serta menjalin komunikasi dengan para kru kapal untuk memastikan kesiapan teknis dan keselamatan awak.
“Kami juga menolak setiap ancaman terhadap kapal komersial, dan menekankan bahwa keselamatan maritim harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Meski demikian, hingga kini belum ada perkembangan signifikan. Dua kapal tanker Indonesia tersebut masih tertahan, lebih dari 40 hari sejak pembatasan lalu lintas diberlakukan oleh Iran di Selat Hormuz, salah satu titik paling krusial dalam distribusi energi global.
Kabar soal dua kapal Pertamina tersebut pun semakin mencuat, terlebih setelah ceramah pendakwah asal Lampung, Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah, yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Pernyataannya mengenai peran Presiden Prabowo Subianto di kawasan Selat Hormuz memicu berbagai reaksi dari publik.
Gus Miftah mengatakan bahwa dua kapal tanker milik Pertamina tersebut berhasil lolos melewati Selat Hormuz lantaran hasil diplomasi Prabowo.
Hal itulah yang pada gilirannya membuat harga BBM di Indonesia bulan April 2026 tidak mengalami kenaikan, baik BBKM subsidi maupun nonsubdisi.
"Hebatnya, Pak Prabowo apa? Di saat kapal yang melintas dicegat Iran, dua kapal Pertamina yang membawa minyak atas diplomasi Pak Prabowo kapal Indonesia boleh melewati Selat Hormuz. Itu lah salah satu penyebab kenapa BBM indonesia tidak naik," katanya dalam ceramah.
Baca juga: 7 Kapal Malaysia Berlayar dengan Aman di Selat Hormuz Tanpa Bayar Biaya, Dubes Iran Ungkap Alasan
Sementara itu, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep menyatakan bahwa dua kapal tanker milik Pertamina dalam waktu dekat akan dapat melintasi Selat Hormuz.
Menurutnya, saat ini prosesnya tinggal menyelesaikan sejumlah kendala teknis.
Pernyataan tersebut disampaikan Kaesang usai menerima Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Kantor DPP PSI pada Kamis (16/4/2026).
“Kami juga menyampaikan aspirasi supaya tanker-tankernya Indonesia yang membawa minyak milik Pertamina bisa melewati Selat Hormuz,” ujar Kaesang, mengutip Kompas TV.
Ia menambahkan bahwa prosesnya sudah menunjukkan perkembangan positif. “Tadi juga sudah disampaikan akan segera bisa, karena hanya tinggal mengurus sedikit technical issue aja yang akan segera selesai.”
Dalam pertemuan tersebut, Kaesang juga menyampaikan ucapan selamat kepada Iran atas pemimpin barunya, yakni Mojtaba Khamenei.
“Ada beberapa hal yang juga tadi kami sampaikan kepada Pak Dubes. Yang pertama juga salah satunya adalah memberikan selamat kepada masyarakat Iran karena sudah mempunyai supreme leader yang baru,” kata Kaesang.
Selain itu, ia turut menyampaikan harapan agar masyarakat Iran tetap kuat menghadapi situasi yang sedang berlangsung. “Dan tadi kami juga menyampaikan supaya warga Iran tetap kuat untuk menghadapi hal-hal yang terjadi di hari-hari ini.”
Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf, menyoroti nasib kapal-kapal tanker milik Indonesia yang hingga kini dilaporkan belum bisa melintas di perairan strategis tersebut.
Ia menduga hal ini berkaitan erat dengan posisi diplomasi Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto yang dinilai terlalu condong membela Amerika dan Israel.
"Masih dipertanyakan kenapa kapal tanker Indonesia belum bisa melintas. Ini mungkin dampak dari kebijakan luar negeri kita," tuturnya.
Faisal menilai keberanian Iran dalam memegang kendali penuh atas Selat Hormuz telah membalikkan keadaan dalam peta kekuatan geopolitik.
Iran kini berada pada posisi yang mendikte Amerika Serikat, bukan sebaliknya.
"Iran yang bakal menentukan kapan perang berakhir. Selama Amerika melancarkan agresi, Iran akan tetap bertahan dengan menutup selat itu," tandas Faisal.
(TribunTrends/Tribunnews/Garudea)