TRIBUNJATIM.COM - Sebuah sekolah di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi sorotan karena kondisinya yang memprihatinkan.
Bangunan sekolah ini alami kerusakan berat hingga siswa harus belajar di musala.
Sekolah yang dimaksud adalah SD Kepek 1, Padukuhan Bulurejo, Kalurahan Kepek, Kapanewon Saptosari.
Saat sekolah itu didatangi pada Jumat (17/4/2026), ratusan siswa membuka ompreng berisi Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menu spageti, sembari bercengkerama dengan teman-temannya.
Di salah satu ruangan, siswa kelas 6 tampak mengikuti kegiatan persiapan tes kemampuan akademik (TKA).
Baca juga: Pemkab Pasuruan Gelontor Rp 41 M untuk Perbaiki Sekolah Rusak, Mas Rusdi: Jangan Asal-asalan
Namun di balik aktivitas tersebut, sekolah ini menyimpan kondisi yang memprihatinkan.
SD Kepek 1 tidak lagi memiliki ruang perpustakaan.
Bangunan yang seharusnya menjadi tempat membaca itu telah rusak parah sejak satu tahun terakhir.
Tak hanya itu, sejumlah ruang kelas juga mengalami kerusakan berat, bahkan sebagian tidak dapat digunakan.
"Dari 12 ruangan yang kami miliki, 5 ruangan sama sekali tidak bisa digunakan," kata Kepala SD Kepek 1, Marsum, saat ditemui di sekolah, Jumat (16/4/2026), melansir dari Kompas.com.
Marsum menjelaskan, kerusakan terjadi di beberapa titik.
Ruang perpustakaan ambruk sejak setahun lalu, sementara ruang kelas 6 mengalami kerusakan atap pada Februari 2026.
Tiga ruang lainnya bahkan sudah tidak digunakan selama lebih dari tiga tahun karena bocor dan kondisi atap yang lapuk.
"Untung ambrolnya pas malam semua, jadi tidak ada korban," ucap Marsum.
"Yang 3 ruangan lebih dari 3 tahun tidak dipakai, kelas 6 itu bulan Februari lalu gentingnya ambrol saat hujan," kata dia.
Bahkan, ruang kelas 1 yang kini digabung dengan perpustakaan sudah tidak memiliki plafon.
Akibat keterbatasan ruang, pihak sekolah harus melakukan penyesuaian.
"Kelas 6 dipindah di ruang kelas 2, untuk kelas 2 sementara belajar di mushala. Menggunakan karpet," ucap dia.
Sekolah dengan jumlah 148 siswa, serta 14 guru dan karyawan ini terus berupaya menjalankan kegiatan belajar mengajar di tengah keterbatasan.
Setiap hari, guru dan staf harus ekstra mengawasi siswa agar tidak bermain di area berbahaya.
Kondisi paling mengkhawatirkan berada di ruang kelas 3 yang berdekatan dengan kelas 6 yang rusak.
Meski demikian, kegiatan belajar tetap berlangsung.
Pada Jumat pagi sekitar pukul 09.00 WIB, siswa terlihat menikmati makanan MBG, meski di bawah bayang-bayang risiko atap yang sewaktu-waktu bisa ambrol.
"Kami harus ekstra mengawasi anak-anak saat bermain jangan sampai di lokasi berbahaya," ucap Kepala Sekolah yang baru menjabat sejak 17 Oktober 2025 ini.
Pihak sekolah mengaku telah melaporkan kondisi tersebut dan berharap segera ada perbaikan.
Baca juga: Sekolah Rusak di Jatim Capai Ratusan, Beberapa Bekas Peninggalan Zaman Belanda
Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Nunuk Susilowati, mengatakan telah meninjau langsung lokasi setelah menerima laporan.
Namun, ia menemukan adanya ketidaksesuaian data antara kondisi di lapangan dan data pokok pendidikan.
Pihaknya meminta sekolah segera memperbaiki data tersebut serta mengajukan proposal perbaikan.
Ia menegaskan kondisi ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama karena berpotensi membahayakan siswa.
"Akan kami segera tindak lanjuti, ini saya sudah di lokasi," kata dia.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun mencatat ratusan ruang kelas di sekolah dasar mengalami kerusakan.
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar, Nur Arif Indro Karyoto, menjelaskan, berdasarkan inventarisasi terakhir, dari 405 sekolah sd negeri swasta di Kabupaten Madiun, 385 kelas rusak berat, dan 400 kelas rusak sedang.
“Jumlah ini bersifat dinamis dan bisa saja bertambah, seiring faktor cuaca dan usia bangunan yang terus menurun,” jelas Arif, Selasa (6/5/2025).
Menurutnya, kerusakan paling banyak ditemukan pada bagian atap. Sehingga menjadi penyebab utama kerusakan di bagian tersebut.
“Usia bangunan yang tua serta faktor alam, seperti pelapukan kayu dan serangan rayap,” bebernya.
Baca juga: Rehab 48 Sekolah Rusak di Mojokerto Mandek, Dindik: Anggaran Pendidikan Terancam Dipangkas
Dirinya menambahkan, sebagian besar kerusakan di bagian atap. Banyak atap yang sudah lapuk, bahkan ada yang runtuh menjadi penyebab kerusakan.
“Saat ini kami masih terus melakukan pengecekan ulang ke lapangan,” imbuhnya.
Pihaknya saat ini tengah memprioritaskan sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan berat untuk diajukan perbaikan.
“Sembari memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan dengan aman,” pungkasnya.