Pameran Merintis Pewaris Jadi Respon Tantangan Zaman, Dekat dengan Generasi Muda
Hari Susmayanti April 18, 2026 10:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Pameran Keris bertajuk “Merintis Pewaris” menjadi upaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY mendekatkan keris kepada generasi muda. 

Pameran ini dibuka dalam rangka memperingati Hari Keris Nasional sekaligus Road to Jogja International Heritage Festival 2020 di Grha Keris Yogyakarta, Panembahan, Kraton, Kota Yogyakarta, Jumat (17/4/2026).

Berlangsung hingga Senin (20/4/2026) mendatang, pameran ini menjadi respon atas tantangan zaman yang membuat tradisi keris belum sepenuhnya dekat dengan generasi muda.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakhsmi Pratiwi mengatakan tema "Merintis Pewaris" dimaknai sebagai harapan lahirnya pewaris-pewaris baru yang memahami keris dari berbagai aspek nilai pentingnya. 

"Tentu saja belajar tentang keris tidak semata hanya sebagai senjata, tetapi nilai-nilai tertib yang berada di balik keris, filosofi, historis yang di dalamnya menjadi bagian yang penting,” katanya. 

Pameran ini juga diarahkan sebagai sarana transformasi keilmuan keris yang mencakup pembelajaran nilai, etika, hingga tata penghormatan terhadap tradisi.

Selama empat hari pelaksanaan, kegiatan tidak hanya berupa pameran, tetapi juga kelas kuratorial bagi pelajar, kunjungan edukatif, hingga workshop. Selain itu, peserta juga akan diajak mengunjungi sentra pembuatan keris di Dusun Banyusumurup, Imogiri, Bantul, serta mengikuti lomba mewarnai untuk anak usia dini.

Baca juga: Replika Catra Jadi Ikon Utama Kirab Pusaka Nusantara 2026

“Seluruh rangkaian tersebut diharapkan mampu memberikan persepsi baru tentang konsep pentingnya merintis pewaris keris di era sekarang. Kita berharap dengan agenda ini kita mampu terus berjalan dengan generasi mendatang, inovatif tanpa mengurangi transformasi keilmuan yang hendak diwariskan,” terangnya. 

Sementara itu, kurator pameran, Taufiq Hermawan mengungkapkan pemeran keris kali ini justru menghadirkan keris-keris milik perempuan. Peran perempuan sangat besar di dalam keris. 

Sekitar 40 keris yang dipamerkan berasal dari koleksi perempuan yang diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga. 

“Keris bukan hanya milik kolektor-kolektor besar yang memiliki uang saja, tetapi ternyata keris berkembang di setiap lini masyarakat tradisional. Sehingga kami mengajak para perempuan yang memiliki warisan keris di rumahnya untuk ikut dipamerkan,” ungkapnya. 

Keberlanjutan tradisi keris menunjukkan adanya kesinambungan nilai dan proses dari masa lalu ke masa kini. Itu menjadi dasar penting dalam upaya memperluas pemahaman masyarakat terhadap keris sebagai warisan budaya yang hidup.

Melalui pameran ini, diharapkan keris tidak lagi dipandang sebagai benda eksklusif, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang sarat nilai dan dapat diwariskan lintas generasi.  (maw) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.