Rupiah Terburuk di Asia: Nyaris Tembus Rp 17.200 Akibat Momok Defisit APBN
Rustam Aji April 18, 2026 12:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terus mencatatkan rapor merah hingga menutup perdagangan pekan ini di posisi terlemah di Asia. 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terkoreksi 0,29 persen ke level Rp 17.188 per dollar AS pada penutupan Jumat (17/4/2026), nyaris menyentuh ambang psikologis baru Rp 17.200.

Pelemahan tajam ini menjadikan mata uang Garuda sebagai yang terburuk di kawasan regional, melampaui depresiasi peso Filipina (0,16 persen) dan yen Jepang (0,14 persen).

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan kali ini tidak lagi didominasi faktor global, melainkan dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap kesehatan fiskal dalam negeri.

“Defisit anggaran yang mendekati batas atas 3 persen menjadi momok bagi pasar. Saat ini defisit APBN diprediksi melebar ke angka 2,9 persen akibat kenaikan harga minyak dunia. Inilah yang membuat rupiah melemah lebih tajam dibandingkan mata uang negara tetangga,” jelas Ibrahim, Jumat (17/4/2026).

Baca juga: Hubungan Berlin-Tel Aviv Memanas: Menteri Israel Serang Kanselir Merz dengan Narasi Holokaus

Ibrahim menyoroti kebijakan Indonesia yang masih mempertahankan subsidi BBM di tengah gejolak harga energi global.

Indonesia harus menanggung beban impor minyak mentah

Berbeda dengan negara ASEAN lain yang sudah menyesuaikan harga dengan pasar, Indonesia harus menanggung beban impor minyak mentah sekitar 1 juta barrel per hari untuk menutup celah produksi nasional yang hanya berkisar 600.000 barrel per hari.

Di sisi lain, Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa harga BBM subsidi (Solar, Pertalite, dan Elpiji) dipastikan tidak akan naik hingga akhir tahun 2026.

Keputusan ini merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto guna menjaga daya beli masyarakat.

“Stok kita berada di atas standar minimum. Atas arahan Bapak Presiden, harga BBM subsidi tidak akan dinaikkan sampai akhir tahun,” tegas Bahlil dalam keterangan resminya.

Pemerintah berargumen bahwa kebijakan ini masih dalam batas aman fiskal karena rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) saat ini berada di level 77 dollar AS per barrel, masih di bawah asumsi kritis 100 dollar AS per barrel.

Baca juga: Transfer Daerah 2026 Anjlok, Bank Jateng Siapkan Rp 1 Triliun Selamatkan Proyek Infrastruktur

Namun, ketergantungan impor yang tinggi tetap menjadi beban ganda bagi nilai tukar.

Untuk memperkuat ketahanan energi jangka panjang, pemerintah kini membuka peluang kerja sama strategis dengan Rusia, mencakup pasokan minyak mentah hingga investasi infrastruktur energi guna menekan volatilitas rupiah di masa depan. (suparjo/kpc)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.