TRIBUNMANADO.CO.ID - Upus Ni Mama, renungan Wanita Kaum Ibu (W/KI) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dalam sepekan mulai 19 - 25 April 2026.
Pembacaan alkitab terdapat pada Kisah Para Rasul 10:34-43.
Tema perenungan adalah Orang yang Takut Akan Dia dan Mengamalkan Kebenaran Berkenan Kepadanya.
Khotbah:
Wanita/Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Masih dalam suasana bulan Paskah, harapan kiranya semangat kebangkitan Yesus yang menjadikan kita tidak sia-sia ikut
Dia, akan terus menyala di hati Wanita/Kaum Ibu GMIM, baik yang berada di riuhnya kota besar maupun yang berada di tenangnya suasana desa.
Hari ini kita akan merenungkan firman Tuhan dari Kisah Para Rasul 10:34-43, dengan tema "Orang yang takut akan
Dia dan mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya".
Dari narasi yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 10:1-48, kita diajak untuk membayangkan tentang Petrus, seorang Yahudi tulen, yang harus masuk ke rumah Kornelius, seorang perwira Romawi (bangsa yang menjajah mereka).
Memang dikatakan pada pasal 10:2 bahwa Kornelius adalah seorang saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia suka memberi banyak sedekah kepada orang Yahudi, dan senantiasa berdoa kepada Allah.
Tetapi sekali pun demikian, menurut aturan lama seorang Yahudi tulen masuk ke rumah orang bukan Yahudi adalah "haram".
Mari kita lihat kata Petrus di ayat 28, ketika ia menjumpai orang banyak yang sedang berkumpul: "...Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi semua orang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi, atau masuk ke rumah mereka..." Tetapi Paskah mengubah segalanya! Kebangkitan Yesus meruntuhkan tembok pemisah.
Dalam ayat 34, Petrus berkata: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidok membedakan orang." Dalam bahasa aslinya (Yunani), kata yang digunakan adalah prosõpolãmptês, yang artinya "penerima wajah".
Maksudnya, Tuhan tidak melihat "wajah" atau status sosial. Tuhan tidak pernah pilih kasih, bahkan tidak membedakan orang.
Bagi ibu-ibu yang hidup di kota, mungkin orang sering melihat kita dari merek tas atau jabatan suami.
Di desa, mungkin orang melihat kita dari luasnya sawah atau keturunan siapa kita. Tapi bagi Tuhan, itu semua tidak
relevan, atau tidak cocok.
Tuhan Allah hanya meminta umat-Nya untuk takut akan Dia dan melakukan kebenaran, seperti ayat 35 "Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya".
Takut akan Tuhan artinya seorang ibu selalu melibatkan Tuhan dalam segala keadaan, entah itu di tempat kerja, di setiap urusan keuangan keluarga, di setiap nasihat untuk anak-anaknya, atau bahkan dalam setiap bumbu masakan.
Selanjutnya mengamalkan kebenaran artinya bagaimana seorang ibu bersikap jujur dalam perannya saat di kantor, di rumah, di tempat kerja mana pun, atau saat berdagang di pasar.
Menjadi seorang Wanita/Kaum ibu Kristen yang mengamalkan kebenaran, bukan terletak pada soal pakai baju
bagus ke gereja, tapi soal bagaimana ia tidak suka kepo dan ikut ikutan menyebarkan gosip di grup WhatsApp dan media sosial lainnya.
Tuhan berkenan kepada ibu, bukan karena ibu paling kaya atau paling rajin di organisasi, tetapi karena ibu menghormati
Tuhan dan hidup benar di mana pun ibu ditempatkan.
Sebagaimana Yesus yang berkeliling sambil berbuat baik (ay.38), untuk membuktikan bahwa kuasa kasih lebih kuat dari maut, maka sebagai ibu pun kita dituntut dalam hidup takut akan Dia untuk hidup benar dan berbuat baik, mulai dari dalam keluarga.
Kita adalah "saksi" (ayat 39) kebaikan Tuhan. Kalau kita mengaku percaya bahwa Yesus telah bangkit, maka hidup kita harus menjadi "perpanjangan tangan" Yesus, yang berkeliling berbuat baik itu.
Dengan demikian, kita sedang menterjemahkan lagu Ibu-lbu Tuhan yang selalu kita nyanyikan. Selanjutnya, ayat 43 mencatat: Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan menerima pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.
Sering kali kita pun sulit mengampuni diri sendiri atas kesalahan masa lalu, atau sulit mengampuni anggota keluarga yang menyakiti hati.
Tapi Firman Tuhan hari ini memberi kita kekuatan. Kristus yang bangkit telah menghapus hutang dosa kita.
Jika Tuhan yang Mahasuci saja mau menerima kita, siapa kita sehingga tidak mau menerima orang lain?
Wanita/Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Tema perenungan kita saat ini tegas: Orang yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada
Nya.
Karena itu, menjadi ibu yang berkenan di hati Tuhan tidak butuh gelar tinggi atau modal besar, tetapi hanya cukup memiliki dua hal ini: Pertama, Hati yang hormat (Takut akan Tuhan): Sadar bahwa Tuhan selalu melihat apa yang kita lakukan di dapur, di kantor, atau di ladang.
Kedua, Tangan yang bekerja (Mengamalkan Kebenaran): Teruslah berbuat baik, jujur, dan tulus, meskipun orang lain tidak membalasnya dengan baik.
Ingatlah, Kristus sudah bangkit, Kuasa-Nya ada di dalam Ibu-ibu sekalian. Jadilah ibu yang membawa damai, di mana pun berada. Karena di mata Allah, kita semua adaiah anak-anak-Nya yang berharga. Amin.
Pertanyaan untuk diskusi
1. Apa yang ibu-ibu pahami tentang tema perenungan kita menurut bacaan Kisah Para Rasul 10:34-43?
2. Bagaimana implementasinya dari pemahaman ibu-ibu (pada jawaban no.1) dalam kehidupan setiap hari: di
rumah, di tempat kerja, dan di organisasi Wanita Kaum Ibu?
Sumber: Komisi W/KI GMIM edisi April-Mei 2026