Kisah Fatichul Lolos SNBP 2026 di UM pada Usia 15 Tahun, Ini Rahasianya
GH News April 18, 2026 01:08 PM
Jakarta -

Usia masuk jenjang perkuliahan umumnya sekitar 17-18 tahun. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Much Fatichul Firdaus, calon mahasiswa baru Universitas Negeri Malang (UM), yang masih berusia 15 tahun.

Fatichul, sapaannya, merupakan salah satu mahasiswa baru UM yang berhasil lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Dikutip dari laman resmi UM, ia diterima di Program Studi Sarjana (S1) Pendidikan IPA.

Di antara ribuan mahasiswa yang diterima, remaja asal Pasuruan ini menjadi salah satu yang mencuri perhatian karena usia dan kegigihannya. Lahir pada Oktober 2010, Fatichul merupakan siswa MAN 1 Pasuruan dengan rekam jejak akademik yang menonjol meski tumbuh dalam keterbatasan ekonomi.

Fatichul Percepat Masa Studi Sejak Dini

Fatichul menjelaskan bahwa dirinya melalui percepatan belajar sejak dini. Ia memulai pendidikan lebih awal dibandingkan dengan anak seusianya.

Selama menempuh pendidikan di Madrasah Tsanawiyah (MTs), Fatichul mengikuti program Sistem Kredit Semester (SKS) dua tahun sehingga dapat menyelesaikan jenjang pendidikan lebih cepat. Tak berhenti di situ, siswa berusia 15 tahun itu kembali menerapkan pola percepatan saat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Saat menempuh pendidikan di MAN 1 Pasuruan, ia kembali berhasil menyelesaikan studinya lebih cepat dari waktu normal tanpa mengorbankan kualitas akademik.

Bersepeda ke Sekolah Demi Cita-Cita

Di balik prestasi cemerlang yang diraihnya, tersimpan perjuangan panjang yang konsisten. Setiap hari, Fatichul menempuh perjalanan ke sekolah dengan bersepeda.

Ia menuturkan keterbatasan yang dihadapinya tidak menjadi hambatan, melainkan dorongan kuat untuk terus berkembang.

"Bagi saya, pendidikan adalah jalan untuk memperbaiki keadaan keluarga," ujar Fatichul, dikutip dari laman resmi UM.

Menurutnya, dukungan keluarga juga menjadi faktor penting yang memuluskan perjalanan studinya selama ini. Ia mengakui bahwa peran orang tua, saudara, hingga nenek yang selalu memberikan doa dan motivasi menjadi penguat dalam setiap langkahnya menuntut ilmu.

Pihak UM menyoroti bahwa kisah perjalanan Fatichul menunjukkan bahwa usia bukanlah batas untuk meraih prestasi akademik. Semangatnya mencerminkan generasi muda yang adaptif, berdaya juang, dan berorientasi pada masa depan.

"Capaian ini dinilai sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat tentang pendidikan berkualitas (Quality Education) yang inklusif dan berkeadilan," tulis UM dalam laman resminya.

Pihak kampus berharap kehadiran mahasiswa seperti Fatichul bisa memotivasi calon mahasiswa lain untuk terus berjuang meraih pendidikan terbaik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.