Menyambangi Garasi Tamiya di Bantul, Tempat "Balas Dendam" Masa Kecil yang Kini Jadi Hobi Bergengsi
Hari Susmayanti April 18, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Suara nyaring dinamo yang menderu beradu dengan lintasan plastik tak pernah gagal memutar waktu.

Bagi generasi yang tumbuh di era 1990-an, suara ini adalah mesin waktu yang membawa mereka kembali ke masa kecil, saat tayangan anime seperti Dash! Yonkuro atau Let's & Go berjaya di layar kaca. 

Kini, Mini 4WD atau yang lebih akrab disapa Tamiya, telah bermutasi. Tidak lagi sekadar mainan anak-anak, Tamiya di tangan pria-pria dewasa telah berevolusi menjadi hobi teknis yang serius, bergengsi, dan sarat akan nilai nostalgia.

Fenomena ini terekam jelas di Garasi Tamiya dan Hotwheels yang terletak di Jalan Karangjati, Gedongan, Bangunjiwo, Kasongan, Kabupaten Bantul.

Sang pemilik, Nurlan (41), menjadi saksi langsung bagaimana hobi masa kecil ini kembali menggeliat dengan wajah yang lebih mapan. 

Perjalanannya sendiri di dunia Mini 4WD bermula satu dekade silam.

"Kalau saya mulai main Tamiya sejak tahun 2014. Berawal dari hobi, saya kumpulkan beberapa item yang kira-kira saya suka. Kemudian, saya mulai jual beli lewat marketplace dan Facebook. Lama-lama barangnya jadi banyak, lalu saya buka toko di garasi rumah waktu itu," tutur Nurlan.

Seiring pesatnya antusiasme pembeli dan bertambahnya koleksi, sejak setahun terakhir Nurlan memindahkan usahanya ke sebuah ruko di wilayah Bantul.

Menariknya, kebangkitan tren Tamiya ini banyak digerakkan oleh memori masa lalu. Merakit model Tamiya yang detail kerap memberikan kepuasan tersendiri (crafting). Lebih dari itu, arena balap kini menjadi pelampiasan bagi mereka yang di masa kecilnya belum memiliki daya beli. 

Nurlan menceritakan fenomena unik yang kerap ia temui pada pelanggannya yang mayoritas kini berusia 30-an ke atas.

"Selain itu, banyak juga konsumen yang datang karena 'balas dendam' masa kecil. Dulu waktu kecil belum bisa beli Tamiya karena harganya di tahun 90-an atau 2000-an cukup tinggi, kisaran Rp70.000 sampai Rp80.000. Sedangkan merek Auldey saat itu harganya Rp15.000 sampai Rp20.000," kisahnya.

Ia pun menjelaskan perbedaan mendasar yang membuat para pelanggannya kini memburu barang orisinal. 

"Secara kasatmata hampir sama, tapi secara build quality dan materialnya beda jauh. Tingkat keawetannya pun beda antara Tamiya ori dan Auldey. Nah, karena dulu mampunya beli Auldey dan belum bisa merasakan detail ori seperti apa, akhirnya 'balas dendam' setelah sekarang sudah bekerja. Jadi, pelanggan saya itu mayoritas justru usianya di atas 35 sampai 40 tahun. Banyak sekali yang seperti itu," kata dia.

Saat ini, bermain Tamiya bukan lagi sekadar soal kecepatan, melainkan merangsang otak. 

Memodifikasi roller, mengatur gear hingga memilih dinamo memerlukan pemahaman teknis dan strategi yang matang.

Terlebih lagi, ekosistem Tamiya saat ini sudah jauh lebih profesional dengan kelas-kelas perlombaan yang serius.

"Karena sekarang kan Tamiya itu sudah masuk cabang olahraga (cabor) ekshibisi di PON. Regulasi untuk cabang olahraga Tamiya itu mengharuskan pemakaian Tamiya original merek Tamiya, berikut juga dengan sparepart-nya semua harus ori. Ini mengikuti regulasi resmi dari Jepang," papar Nurlan.

Karena skala perlombaan yang berjenjang mulai dari tingkat kabupaten, nasional, bahkan hingga ke tingkat internasional, Garasi Tamiya miliknya pun berfokus penuh pada penyediaan suku cadang resmi. 

"Jadi, konsentrasi saya memang fokus ke Tamiya original, mulai dari kit (mobil) sampai semua detail sparepart ada semua," tambahnya.

Meski hobi ini kini cukup menuntut secara finansial—di mana para penggemar bisa merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk komponen berkualitas—animonya tak pernah surut. 

Di toko Nurlan, harga kit Tamiya dibanderol rata-rata sekitar Rp170.000, seperti seri Avante yang menjadi favorit karena diklaim sangat stabil dan tidak membutuhkan banyak setting.

Namun, bagi para kolektor, harganya bisa meroket. 

"Kalau yang paling mahal itu biasanya yang diincar kolektor, seperti seri-seri Dash! Yonkuro yang lama. Tapi kebetulan stok saya sedang kosong. Atau seri Avante lawas keluaran tahun 2000-an, itu harganya bisa sampai Rp1.000.000. Sasisnya pakai Zero Chassis. Ini kan sasis Type 2 buatan tahun 1989 yang dikeluarkan lagi di tahun sekarang. Nah, yang sasis Zero lawas itu harganya bisa sampai Rp1.000.000," ungkapnya.

Baca juga: Siang Ini Presiden Prabowo Sambangi Akmil, Beri Pengarahan Kepada Peserta Retret Ketua DPRD

Ajang Komunitas dan Edukasi

Menyadari ekosistem perlombaan yang semakin kompleks, mulai dari kelas standar, Standard Cross Box (STB), hingga Damper Style atau STO (Standard Tamiya Original), Nurlan turut mengambil peran strategis sebagai edukator di komunitasnya. 

Garasi Tamiya tak cuma sekadar tempat transaksi, tapi juga ruang sosialisasi bagi penggemar dewasa, hingga menjadi jembatan bagi para orang tua untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka.

"Kalau sekarang, saya bekerja sama dengan Tamiya Indonesia untuk edukasi dan regenerasi. Jadi, misalnya ada pemain baru, saya arahkan mereka mau masuk ke kelas mana, setup-nya seperti apa, saya bantu arahkan. Nanti kalau sudah mulai ke kelas Pro, lama-lama mereka akan minta part berbahan karbon. Itu juga saya bantu arahkan agar mereka lebih mengenal. Jadi, saya lebih fokus ke regenerasi dan edukasi," tuturnya memungkasi.

Pada akhirnya, lintasan Tamiya hari ini adalah ruang bertemunya banyak hal.

Di sana ada kenangan masa kecil yang dirawat dengan saksama, gengsi kompetisi teknis tingkat tinggi yang diperjuangkan, serta sekelompok orang dewasa yang tak pernah benar-benar menanggalkan jiwa kanak-kanaknya. (Han)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.