TRIBUNBANYUMAS.COM, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menurun.
Bahkan menyentuh level terendah pada Jumat (17/4/2026). Di saat yang sama, bursa saham negara berkembang di Asia justru menunjukkan tren positif.
Dikutip dari Kontan, investor mulai optimistis terhadap potensi meredanya konflik di Timur Tengah dalam jangka pendek, sehingga mendorong penguatan pasar saham di kawasan. Indeks MSCI untuk saham negara berkembang di Asia memang sempat turun 0,9 persen dari level sebelum perang. Namun, indeks tersebut diperkirakan tetap mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 3,5 persen.
Tekanan terhadap rupiah terutama terjadi sejak konflik Timur Tengah memanas pada akhir Februari.
Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menyebut, pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi pada pertengahan April 2026 ini bahkan telah menembus titik terendah sepanjang sejarah
"Betul, rupiah menyentuh nilai tukar terendah sepanjang sejarah,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (17/4/2026).
Wijayanto menilai, pelemahan ini dipicu kombinasi sejumlah faktor yang terjadi secara bersamaan.
Suku bunga AS yang masih relatif tinggi mendorong arus modal keluar dari negara berkembang.
Selain itu, kondisi geopolitik global yang tidak stabil juga meningkatkan persepsi risiko investor.
"Di sisi lain, kondisi fiskal domestik juga dinilai belum cukup kuat untuk menahan tekanan eksternal," jelas Wijayanto.
Wijayanto mengingatkan, pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan inflasi.
“Inflasi akan meningkat akibat kombinasi kenaikan harga energi dan penurunan nilai tukar rupiah,”katanya.
Jika pilihan yang diambil pemerintah adalah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), maka kenaikan harga energi akan langsung memicu inflasi.
Tetapi jika harga BBM ditahan, beban fiskal akan membengkak. Ujungnya bisa menekan nilai tukar rupiah hingga memicu inflasi impor (imported inflation)
Baca juga: Harga Emas Hari Ini Sabtu 18 April 2026
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu mencari titik keseimbangan antara menjaga stabilitas harga dan kesehatan fiskal.
Wijayanto juga menekankan pentingnya disiplin dalam pengelolaan kebijakan fiskal.
Program-program dengan porsi anggaran jumbo, seperti MBG, KDMP, dan belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista), perlu dievaluasi.
"Anggaran seperti MBG, KDMP dan belanja alustista harus menjadi bagian dari efisiensi, mengingat anggaran terbesar ada di ranah itu," jelasnya.
Terkait subsidi energi, Wijayanto menyarankan agar pemerintah tetap menjaga harga BBM bersubsidi, namun dengan skema yang lebih terarah.
Subsidi sebaiknya difokuskan pada kelompok tertentu, seperti pengguna sepeda motor dan transportasi umum. Sementara itu, harga BBM non-subsidi dapat disesuaikan secara bertahap sesuai kemampuan fiskal negara.
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/04/18/083000565/rupiah-tembus-rekor-terendah-ekonom-ungkap-biang-kerok-dan-potensi?page=2.