Bunga Bangkai Asli Sumatera Mekar di Kampus Amerika! Begini Penampakannya
GH News April 18, 2026 03:08 PM
Jakarta -

Salah satu spesies bunga bangkai, yakni atau , belum lama ini mekar di Amerika Serikat (AS), tepatnya di Mount Holyoke College, Massachusetts. Bunga yang dinamai "Pangy" tersebut mengundang berbagai reaksi dari warga kampus.

Pangy pertama kali mekar di Mount Holyoke College pada 2023. Setelah tiga tahun, bunga tersebut kembali mekar pada April 2026.

"Bunga bangkai kami, sejenis Titan arum bernama "Pangy," mekar untuk pertama kalinya setelah tiga tahun! Sementara beberapa siswa merasa senang, yang lain memiliki pengamatan yang lebih menarik. Apakah kamu sudah bertemu Pangy? Bagaimana kamu menggambarkan aromanya?" bunyi narasi dalam unggahan media sosial Mount Holyoke College, dikutip Sabtu (18/4/2026).

Fakta-fakta Titan arum

Titan arum berasal dari Pulau Sumatera. Tanaman langka ini punya siklus mekar yang sangat singkat dan terjadi setiap lima hingga tujuh tahun sekali. Para peneliti dilaporkan menemukan alasan kimiawi di balik bau menyengatnya pada 2024, demikian dikutip dari Popular Science.

Secara umum, bunga bangkai membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga sembilan tahun untuk mekar. Beberapa hanya akan mekar sekali setiap beberapa dekade.

Mereka juga tidak memiliki siklus mekar tahunan seperti banyak tanaman lain dan hanya akan mekar ketika memiliki cukup energi untuk melakukannya.

Bunga bangkai menyimpan energinya di pangkal batang yang membengkak, yang disebut umbi, yang beratnya sekitar 100 pon. Bunga bangkai memiliki umbi terbesar yang diketahui di kerajaan tumbuhan.

Jika dalam suatu tahun tersebut tidak berbunga, satu daun seukuran pohon kecil akan tumbuh dari umbi. Daun tersebut kemudian akan bercabang menjadi tiga bagian, dengan setiap bagian menumbuhkan lebih banyak anak daun.

Setelah beberapa tahun, tanaman tersebut akhirnya akan mengumpulkan energi yang cukup untuk berbunga. Bunga tersebut hanya dapat bertahan sekitar 24 hingga 36 jam sebelum layu.

Bau Menyengat karena Tujuan Evolusioner

Bunga bangkai terdaftar sebagai spesies yang terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Beberapa ahli botani memperkirakan terdapat kurang dari 1.000 individu tanaman ini di alam liar.

IUCN juga memperkirakan bahwa populasinya telah berkurang lebih dari setengahnya selama 150 tahun terakhir. Penebangan hutan dan pengubahan habitat menjadi lahan perkebunan kelapa sawit diyakini sebagai penyebab penurunan tersebut.

Direktur dan kurator Kebun Raya Mount Holyoke College, Tom Clark, mengatakan bahwa bau menyengat tanaman tersebut memiliki tujuan evolusioner.

"Beberapa orang yang datang sejak itu menggambarkan baunya sebagai bau yang tak tertahankan, tajam, seperti tempat sampah-sangat menyengat," kata Clark, dikutip dari Associated Press.

"Tetapi bau itu ada untuk suatu tujuan. Bau itu ada untuk menarik penyerbuk, khususnya lalat," lanjutnya.

Waktu mekarnya bunga bangkai sulit diprediksi, sering kali setelah bertahun-tahun dalam keadaan dormansi (terhambat, meskipun lingkungan menunjang). Selama enam minggu terakhir, Pangy tumbuh dengan cepat, kadang-kadang menjulang beberapa inci sehari sebelum mekar.

Bunga itu akhirnya mekar pada Senin malam (13/4/2026) waktu setempat. Clark serta staf lainnya disambut dengan aromanya yang kuat segera setelah mereka sampai di tempat kerja keesokan harinya.

Novia Aisyah
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.