Ny. Vera Asadoma: Pendekatan CBR Relevan dengan Pendidikan Inklusif NTT
Ryan Nong April 18, 2026 04:19 PM

POS-KUPANG.COM, KUPANG – Ketua Pokja PAUD Provinsi NTT, Ny Vera Asadoma mengapresiasi Program Community Based Rehabilitation atau CBR yang dilaksanakan oleh Panti Asuhan Bhakti Luhur. 

Apresiasi itu disampaikan Ny Vera Asadoma saat membuka Pelatihan Pemberdayaan Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus yang digelar di Panti Asuhan Bhakti Luhur Baumata Kecamatan Taebenu Kabupaten Kupang, Jumat (16/4/2026).

“Saya mengapresiasi inisiatif Panti Asuhan Bhakti Luhur Baumata melalui Program Community Based Rehabilitation atau CBR yang telah menghadirkan pendekatan pemberdayaan keluarga secara partisipatif dan praktis,” kata Ny Vera Asadoma.

Pendekatan tersebut, lanjut dia, sangat relevan dengan semangat pendidikan inklusif dan penguatan PAUD Holistik Integratif yang terus didorong dan dikembangkan di Provinsi NTT.

Baca juga: PP PAUD NTT dan Bhakti Luhur Latih Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus

Ketua Pokja PAUD Provinsi NTT, Ny Vera Asadoma saat membuka pelatihan di Baumata
Ketua Pokja PAUD Provinsi NTT, Ny Vera Asadoma saat membuka pelatihan bagi orang tua anak berkebutuhan khusus atau anak disabilitas di Panti Asuhan Bhakti Luhur Baumata Kupang, Jumat (17/4/2026).

Melalui program itu, Panti Asuhan Bhakti Luhur Baumata bekerja sama dengan DPD PP PAUD NTT menggelar pelatihan untuk orang tua anak berkebutuhan khusus atau anak disabilitas.

Dia mengatakan anak merupakan anugerah Tuhan yang berharga dan memiliki potensi masing masing, termasuk anak berkebutuhan khusus atau disabilitas.

Karena itu, kekuatan bakat dan potensi anak anak berkebutuhan khusus itu perlu untuk dikenali, dipahami dan dikembangkan dengan kasih dan kesabaran.

Wilayah NTT dengan tantangan geografis, keterbatasan akses layanan dan kondisi sosial ekonomi masih menjadi hambatan dalam pemenuhan hak anak termasuk disabilitas.

“Karena itu, penguatan peran keluarga menjadi sangat penting. Keluarga adalah sekolah pertama dan utama bagi anak. Anak belajar tentang cinta, disiplin, kemandirian dan makna hidup dari dalam rumah,” tegas Ny Vera.

Dia mengatakan, pelatihan tersebut menjadi langkah strategis dan konkrit untuk memperkuat kapasitas orang tua.

Ny Vera juga meminta kepada pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan penguatan layanan inklusif baik melalui PAUD, sekolah, layanan kesehatan maupun pendampingan berbasis masyarakat. 

“Sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, komunitas dan pemerintah adalah kunci dalam menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif bagi semua anak,” pungkas dia.

Pemahaman Orang Tua Terbatas 

Pimpinan Panti Asuhan Bhakti Luhur Baumata, Sr Regina Ambu menyebut kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan orang tua dalam mengenali, mendampingi, dan mengembangkan potensi anak disabilitas di lingkungan keluarga, sekaligus memperkuat kemampuan orang tua dalam memberikan stimulasi perkembangan dan melatih kemandirian anak secara sederhana di rumah.

Pelatihan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa masih terdapat anak disabilitas yang belum memperoleh layanan pendidikan, stimulasi perkembangan, dan pendampingan secara optimal. 

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh terbatasnya pemahaman orang tua tentang potensi anak, kurangnya informasi mengenai layanan pendidikan dan terapi, faktor ekonomi, serta adanya rasa malu dan stigma sosial di lingkungan masyarakat.

Sementara Ketua DPD PP PAUD NTT, Ny Carolina M.A. Ondok - Lana menyebut bahwa kerja sama tersebut berangkat dari gagasan bersama untuk melihat lebih jauh, seberapa besar peran orang tua dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus di wilayah kabupaten Kupang.

Dia mengatakan, perhatian tersebut diharapkan dapat membantu keberlanjutan serta dapat memperkuat komitmen, peran dan pendampingan anak-anak berkebutuhan khusus oleh orang tua agar bisa melakukan bantu diri dari lingkungan terkecil.

Dirinya mengaku, perhatian untuk untuk anak berkebutuhan khusus baru mereka lakukan kali ini. Selama ini, pihaknya fokus pada kunjungan, edukasi serta bantuan untuk anak anak pada umumnya.

“Ini menjadi perhatian khusus ke depan supaya tidak sebatas seremoni tapi aksi nyata dan evaluasi berkala. melalui suster kami akan pantau,” kata dia. 

Dia berharap, Panti Asuhan Bhakti Luhur dapat mengkoordinir orang tua anak berkebutuhan khusus di wilayah sekitar agar dapat dibentuk wadah bersama. 

Belajar dari cerita baik di wilayah lain seperti Malang dan Kediri, dia berharap anak-anak berkebutuhan khusus dapat didampingi hingga mandiri, bahkan mandiri secara ekonomi dengan berbagai pelatihan wirausaha ketika sudah menginjak usia produktif.

“Cerita di Jawa anak anak SMA sudah banyak mandiri, itu peran orang tua dan guru, bahkan ada yang sudah latihan wirausaha,” tambah dia.

“Target kami kedepan, setiap kunjungan kami perhatikan anak berkebutuhan khusus. Kami tidak berhenti disini, dan dengan suster kita berbicara supaya membuka jejaring lebih luas dan jangan menutup diri,” ungkap dia.

Dia juga menekankan yang terpenting bagi anak anak berkebutuhan khusus adalah penerimaan orang tua atas kondisi mereka. (Ian)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.