TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Sekolah Luar Biasa (SLB) NegeriTana Tidung menitikberatkan proses pendidikan pada pembentukan kemandirian siswa, bukan semata pada capaian akademik seperti sekolah umum.
Kepala SLB Negeri Tana Tidung, Marjuki, menegaskan pendekatan pendidikan di SLB memiliki tujuan utama agar peserta didik mampu hidup mandiri setelah menyelesaikan pendidikan.
Ia menjelaskan, SLB Negeri Tana Tidung merupakan satu-satunya sekolah yang melayani anak-anak berkebutuhan khusus di wilayah tersebut, dengan beragam kategori ketunaan mulai dari tuna netra, tuna wicara, tunagrahita, tunadaksa hingga autisme.
“Kalau di sekolah umum kan yang diutamakan akademik, kalau kami di kemandirian. Karena memang anak-anak yang kami tangani ini kemampuannya di bawah rata-rata, jadi tujuan akhirnya adalah bagaimana mereka bisa mandiri,” kata Marjuki kepada TribunKaltara.com, Sabtu (18/4/2026).
Baca juga: Hanya SLB Negeri yang Layani Seluruh Anak Berkebutuhan Khusus di Kabupaten Tana Tidung
Untuk mencapai hal tersebut, pihak sekolah memberikan pembelajaran berbasis vokasional yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa, program ini dirancang agar siswa memiliki keterampilan praktis sebagai bekal hidup.
“Terkait keterampilan vokasi memang ini yang kita utamakan. Tujuan kami ketika anak-anak nanti lulus sekolah punya skill, punya kemampuan, sehingga bisa hidup mandiri dan tidak membebani orang lain,” jelasnya.
Sejumlah keterampilan yang diajarkan di antaranya Sablon, desain busana, literasi, hingga budidaya ikan lele.
Bahkan, produk Sablon hasil karya siswa dan guru pembimbing telah digunakan oleh beberapa sekolah dan instansi di Tana Tidung.
“Alhamdulillah untuk Sablon ini sudah menjadi unggulan, kami sudah melayani beberapa sekolah dan instansi untuk pembuatan seragam,” ujarnya.
Baca juga: Produk Sablon Jadi Unggulan, Siswa SLB Negeri Tana Tidung Mulai Layani Pesanan Instansi
Selain itu siswa SLB juga menunjukkan potensi di berbagai bidang, Marjuki mengungkapkan meskipun sebagian siswa memiliki keterbatasan dalam membaca atau menulis, mereka justru memiliki keunggulan di bidang lain seperti seni dan olahraga.
“Ada anak yang membaca masih kesulitan, tapi kalau menyanyi cukup diperdengarkan beberapa kali saja sudah bisa, bahkan lagu bahasa Inggris,” ungkapnya.
Prestasi pun turut diraih, mulai dari juara tingkat provinsi pada cabang vokal, desain busana, hingga perwakilan ke tingkat nasional pada cabang catur untuk siswa tuna netra.
Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki potensi yang dapat dikembangkan jika diberikan pendekatan yang tepat.
“Walaupun mereka punya keterbatasan, ternyata mereka juga punya kelebihan yang tidak kita ketahui sebelumnya,” katanya.
Dalam proses pembelajaran Marjuki menekankan pentingnya kesabaran dan pemahaman karakter siswa, hal ini karena setiap anak memiliki kebutuhan dan cara belajar yang berbeda.
“Anak-anak ini tidak dituntut untuk menjadi pandai, tapi yang utama itu kemandirian. Makanya dalam prosesnya kita harus sabar dan menyesuaikan dengan karakter mereka,” tuturnya.
Ia menambahkan, dengan jumlah siswa yang relatif sedikit di setiap kelas, yakni maksimal enam orang, proses pembelajaran dapat lebih optimal dan terfokus.
Hingga saat ini, SLB Negeri Tana Tidung telah memiliki sekitar 47 siswa dari jenjang SD hingga SMA, dengan dukungan tenaga pengajar sekitar 10 guru.
Meski masih menghadapi keterbatasan sarana prasarana, pihak sekolah tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik.
Dukungan dari pemerintah daerah maupun provinsi juga dinilai cukup membantu keberlangsungan pendidikan di SLB tersebut.
Marjuki berharap keberadaan SLB Negeri Tana Tidung dapat lebih dikenal masyarakat, sehingga anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan yang sesuai.
“Tujuan kami jelas, bagaimana anak-anak ini setelah lulus bisa mandiri, punya keterampilan, dan mampu menjalani hidup dengan baik,” pungkasnya.
(*)
Penulis : Rismayanti