Komnas HAM Papua Cek Kondisi Korban Operasi Militer Kabupaten Puncak di RS Dian Harapan Jayapura
M Choiruman April 18, 2026 04:29 PM

​Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita 

TRIBUN–PAPUA.COM, JAYAPURA – Suasana haru mewarnai kunjungan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua yang meninjau dan mengecek kondisi korban operasi militer di Kabupaten Puncak, yang menjalani perawatan medis di RS Dian Harapan Jayapura, Sabtu (18/4/2026). 

Baca juga: Tragedi Kabupaten Puncak Bukti Papua Darurat Militer, ULMWP: Dunia Tidak Boleh Terus Menutup Mata

Komnas HAM Perwakilan Papua melihat langsung kondisi Anite Telenggen (15), salah satu korban operasi militer di Kembru, Ilaga, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah. 

​Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey, mengungkapkan korban merupakan pasien rujukan dari Mulia. 

Anite menderita luka tembak di bagian leher yang mengakibatkan dirinya kehilangan suara. Selain luka fisik, korban juga diketahui berada dalam kondisi hamil.

​"Kondisi korban dalam keadaan hamil tujuh bulan. Ia mengalami luka di leher sehingga suaranya hilang," ujar Frits Ramandey di Jayapura.

Frits Ramandey menjelaskan, berdasarkan keterangan saksi kunci dan korban menjelaskan bahwa operasi ini dilakukam oleh aparat militer.

Baca juga: Konflik Bersenjata di Kabupaten Puncak, Warga Sipil Dilaporkan Mengungsi ke Hutan

"Kita crosschek langsung dengan korban bahwa peristiwa ini dilakukan oleh berseragam loreng yang diketahui bahwa ini aparat. Dan tradisi orang gunung perempuan dan anak bukan menjadi sasaran," ujarnya.

​Guna memastikan kelancaran perawatan, Komnas HAM telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Tengah terkait urusan administrasi. 

Frits Ramandey menegaskan bahwa pihak rumah sakit tidak boleh terkendala masalah birokrasi dalam menangani korban konflik.

Baca juga: Satgas HABEMA Sebut 3 Anggota OPM Kabupaten Puncak Resmi Ikrar Setia kepada NKRI


 Pihak keluarga korban, A. Miras Kogoya, menjelaskan bahwa Anite diterbangkan dari Mulia pada 16 April 2026. 

Meski sudah berada di rumah sakit, hingga kini belum ada tindakan medis seperti operasi yang dilakukan pihak rumah sakit.

​"Sampai sekarang belum ada operasi. Kondisinya masih diam karena luka di tenggorokan dan gigi yang rontok. Jika ingin berkomunikasi, dia hanya menggunakan gerakan tangan," jelas Miras.

​Keluarga berharap tim medis segera mengambil langkah tindakan operasi agar kondisi Anite dapat segera pulih.

Baca juga: Letusan Senjata di Bandara Ilaga Kabupaten Puncak, KKB Papua Tebar Teror

Lima Korban Teridentifikasi

Berdasarkan verifikasi Komnas HAM, terdapat total lima korban dari Distrik Kumbru dan Pogoma yang telah dievakuasi ke Mulia.

Insiden ini merupakan buntut dari rangkaian kontak senjata yang terjadi pada 13-14 April 2026.

​"Laporan resmi yang kami terima, lima orang dibawa ke Mulia pada 14 April. Dari jumlah tersebut, satu orang dirujuk ke Jayapura karena membutuhkan penanganan spesialis, sementara empat lainnya masih di Mulia," tambah Frits.

Baca juga: Satu Anggota Tertembak di Dada Saat Hadapi OPM Kabupaten Puncak

​Hingga saat ini, Komnas HAM masih terus berupaya melakukan verifikasi menyeluruh untuk memastikan jumlah pasti korban dalam insiden tersebut. Dari data sementara, lima korban luka terdiri dari satu pria dewasa, dua perempuan, dan dua anak-anak. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.