Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Pemerintah Provinsi Bengkulu memastikan kasus campak di wilayahnya masih dalam kondisi terkendali dan belum masuk kategori kejadian luar biasa (KLB).
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, mengatakan bahwa hingga saat ini tren kasus campak masih landai, sehingga belum mengarah pada situasi wabah.
“Kalau untuk antisipasi, tentu kita selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit-penyakit menular tersebut,” ungkap Herwan saat diwawancarai wartawan, di Kawasan MD Land, Kota Bengkulu, Sabtu (18/4/2026).
Upaya pengawasan terus dilakukan melalui sistem surveilans yang melibatkan laporan dari kabupaten dan kota di Bengkulu.
“Pasti ada surveilans yang dilakukan, ada data-data laporan dari kabupaten/kota terkait kasus tersebut. Saat ini kasusnya belum mengarah ke KLB, tetapi tetap kita pantau di masyarakat,” jelas Herwan.
Selama kasus masih terkendali dan tidak terjadi lonjakan signifikan, program pencegahan seperti imunisasi tetap menjadi langkah utama.
“Kalau kasusnya terkendali, tidak ada kejadian wabah atau KLB, maka program tetap dilanjutkan, yaitu imunisasi campak,” kata Herwan.
Pentingnya capaian imunisasi Measles Rubella (MR) secara menyeluruh untuk mencegah potensi wabah di kemudian hari.
“Kalau capaian imunisasi MR sudah mencapai 100 persen, mudah-mudahan tidak terjadi wabah atau peningkatan kasus campak,” tutup Herwan.
Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus campak yang mulai dilaporkan di sejumlah wilayah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, drg. Edriwan Mansyur, menyebutkan bahwa imunisasi menjadi langkah utama dalam mencegah penyebaran penyakit tersebut.
“Imunisasi merupakan salah satu upaya untuk mengatasi atau mengeliminasi kasus campak. Dari data yang kami terima, hampir 70 persen kasus terjadi pada anak yang belum mendapatkan imunisasi,” ungkap Edriwan saat diwawancarai TribunBengkulu.com di Kantor Dinkes Provinsi Bengkulu, Jumat (17/4/2026).
Campak disebabkan oleh virus yang menyerang daya tahan tubuh. Oleh karena itu, peningkatan imunitas melalui imunisasi dasar lengkap, khususnya imunisasi MR (Measles-Rubella), sangat penting dilakukan.
“Pastikan anak-anak mendapatkan imunisasi MR sebagai langkah pencegahan utama,” tegas Edriwan.
Selain imunisasi, masyarakat juga diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) guna meminimalkan risiko penularan.
Edriwan mengingatkan agar masyarakat lebih waspada terhadap kontak dengan penderita yang telah terkonfirmasi maupun yang menunjukkan gejala.
“Perlu dilakukan pelacakan (tracing) terhadap orang yang pernah berkontak dengan penderita. Ini penting untuk mencegah penyebaran lebih luas,” jelas Edriwan.
Baca juga: Kasus Campak di Bengkulu, Hampir 70 Persen Terjadi pada Anak yang Belum Imunisasi MR
Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu juga telah berkoordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota untuk melakukan surveilans dan penyelidikan epidemiologi secara cepat.
Masyarakat yang mengalami gejala seperti demam tinggi dan muncul ruam pada kulit diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Jika ada gejala yang mengarah ke campak, segera datang ke puskesmas. Pelayanan di puskesmas tidak dipungut biaya,” kata Edriwan.
Meskipun Bengkulu belum menetapkan status kejadian luar biasa (KLB), masyarakat diminta tidak lengah.
“Memang belum masuk kategori KLB, tetapi kita tidak boleh terlena. Edukasi dan sosialisasi harus terus dilakukan,” tutup Edriwan.
Sementara, Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu menargetkan 35.801 masyrakat di Bengkulu terima vaksin. Untuk Triwulan I baru 3.380 masyarakat yang disuntik.
Sebanyak 19 orang di Provinsi Bengkulu positif campak, dari total 172 kasus yang suspek.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, drg Edriwan Mansyur, mengatakan dari Kota Bengkulu, sebanyak 20 sampel telah diperiksa di laboraturium dengan hasil 14 kasus yang dinyatakan positif.
Lalu, dari Kabupaten Rejang Lebong telah mengirimkan 11 sampel untuk dilakukan pemeriksaan dengan hasil 5 kasus positif.
“Kalau dari Kota Bengkulu 20 sampel yang dikirim 14 positif, lalu dari Rejang Lebong ada 11 sampel dengan hasil 5 kasus positif,” ungkap Edriwan saat diwawancarai di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Rabu (15/4/2026).
Edriwan mengatakan, masih ada beberapa Kabupaten yang belum mengirimkan sampel campak untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, pihak nya memahami kendala yang dialami pihak Kabupaten seperti biaya pengiriman dan teknis lainnya.
“Masih ada kabupaten lain yang sedang berproses. Kami memahami adanya kendala, seperti biaya pengiriman dan teknis lainnya,” tutur Edriwan.
Edriwan menjelaskan, Meski demikian, kondisi tersebut dipastikan belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).
Pasalnya peningkatan kasus campak tidak hanya terjadi di Bengkulu, tetapi juga di berbagai wilayah di Indonesia.
“Penyakit campak ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Peningkatan kasus juga dipengaruhi oleh daya tahan tubuh yang menurun serta perubahan cuaca yang tidak menentu,” jelas Edriwan.
Edriwan juga menjelaskan, berdasarkan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), tren peningkatan kasus memang terjadi secara nasional, namun belum menunjukkan kondisi KLB.
“Untuk Bengkulu sendiri, secara nasional kita belum masuk kategori alarm atau KLB. Namun, kami tetap melakukan langkah antisipasi agar tidak terjadi lonjakan yang lebih besar,” kata Edriwan.
Dari hasil pendataan yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu bersama kabupaten/kota, tercatat sebanyak 172 kasus suspek campak berdasarkan gejala klinis.
Namun demikian, Edriwan menegaskan bahwa status suspek belum dapat dipastikan sebagai kasus campak sebelum melalui pemeriksaan laboratorium.
“Suspek ini belum tentu positif campak. Oleh karena itu, kami meminta setiap daerah untuk mengirimkan spesimen guna dilakukan pemeriksaan laboratorium di fasilitas rujukan,” papar Edriwan.
Sejauh ini, baru dua daerah yang merespons cepat dengan mengirimkan sampel, yakni Kota Bengkulu dan Kabupaten Rejang Lebong.
Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu terus menginstruksikan seluruh daerah untuk meningkatkan kewaspadaan, melakukan pelacakan (tracing), serta mempercepat pengiriman sampel.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menjaga daya tahan tubuh guna mencegah penularan virus campak.
“Seperti pengalaman saat Covid-19, untuk penyakit yang disebabkan virus, kuncinya adalah meningkatkan imunitas tubuh, mengonsumsi makanan bergizi, serta menjaga aktivitas fisik,” tambah Edriwan.
Edriwan juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap perubahan cuaca serta membatasi aktivitas di luar rumah jika tidak diperlukan.
“Jika tidak ada kepentingan mendesak, sebaiknya kurangi aktivitas di luar rumah. Ini sebagai langkah pencegahan,” tutup Edriwan.