Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kenaikan harga BBM non-subsidi ternyata tidak langsung memicu antrean panjang di SPBU. Di Kota Bandar Lampung misalnya, suasana pengisian BBM masih terlihat normal seperti hari-hari biasa meski harga baru sudah mulai berlaku.
Pemerintah sendiri telah menaikkan harga BBM, khususnya untuk jenis non-subsidi.
Masyarakat yang mencari BBM non-subsidi pun masih terlihat beraktivitas seperti biasa setelah kenaikan harga tersebut.
Pantauan Tribunlampung.co.id di SPBU 24.351.126 Jalan Pangeran Antasari, Kota Bandar Lampung, tidak terlihat antrean kendaraan yang mengular. Kondisinya hampir sama seperti hari-hari sebelumnya.
SPBU tersebut diketahui hanya menjual BBM non-subsidi jenis Pertamax Turbo.
Baca juga: Kenaikan BBM Non Subsidi, DPRD Lampung Minta Pemprov Lakukan Penyesuaian Operasional
Para pengendara yang mengisi BBM di lokasi itu juga terlihat datang silih berganti tanpa antrean panjang.
Para karyawan SPBU melayani pengisian BBM di kendaraan konsumen seperti biasa, meskipun harga BBM telah naik sejak 18 April 2026.
Pengawas SPBU 24.351.126, Untung, mengatakan pihaknya tidak melihat adanya lonjakan antrean setelah harga BBM non-subsidi naik.
"Masih normal pengisi BBM di SPBU kami. Memang khususnya Pertamax Turbo sudah seminggu kami tidak menjual, mungkin karena tidak ada stoknya atau bagaimana saya tidak tahu," kata Untung.
Meski begitu, dari laporan operator, sejumlah konsumen sempat kaget ketika mengetahui harga baru BBM tersebut.
"Kalau reaksi konsumen dari laporan operator cukup kaget, kalau kendala operasional semenjak perubahan harga ini belum ada," ujar Untung.
Seorang driver ojek online, Desman Triandi, mengaku cukup keberatan dengan kenaikan harga BBM tersebut.
"Saya gunakan Pertamax Turbo biar awet mesin. Meskipun harga naiknya cukup banyak dan sangat nyesek, pemerintah mengganti harga Pertamax Turbo," kata Desman.
Ia menyebut kenaikan harga Pertamax Turbo cukup tinggi, yakni sekitar Rp5.600 sehingga kini menjadi Rp19.400 per liter.
Dengan harga setinggi itu, menurut Desman, pengemudi ojol tentu sangat terbebani.
"Dengan keadaan harga tinggi ini sangat-sangat keberatanlah untuk ojol. Harga tersebut bukan cuma naik, tapi terasa banget," katanya.
Desman mengatakan dirinya setiap hari harus membeli BBM untuk bekerja.
"Karena kami setiap hari menggunakan BBM. Entah itu saya mengisi Rp50-60 ribu itu pasti. Kalau ada kenaikan ini cukup lumayan kerasa," kata Desman.
Ia berharap pemerintah tidak kembali menaikkan harga BBM, khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
"Kalau bisa untuk BBM jangan naik lagi, kalau bisa diturunin dan diratain lagi harganya," ujarnya.
"Soalnya kita ojol kan tiap hari pasti beli BBM, keliling terus pakai ini kan dan tidak ada insentif dari aplikator."
"Nggak ada insentif dan itu yang berat, dan ini malah BBM naik," kata Desman.
(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)