Mensos Gus Ipul Datangi Makassar Evaluasi Pembelajaran Sekolah Rakyat
Ari Maryadi April 18, 2026 06:20 PM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengevaluasi Sekolah Rakyat (SR) di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Sejak di luncurkan pada Juli 2025,  ada 16 sekolah rakyat di Sulsel 

Namun masih menumpang pada aset milik pemerintah daerah.

Statusnya pun masih sekolah rintisan.

Sementara itu sedang berjalan pembangunan gedung permanen pada sembilan titik 

Mensos Saifullah Yusuf pun turun memantau pembelajaran di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Makassar di Jl Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea pada Sabtu (18/4/2026).

Gus Ipul sapaannya, menyebut pembelajaran sudah berlangsung normal.

Masa adaptasi dari guru hingga siswa sudah dilalui.

"2 minggu sampai 1 bulan masa adaptasi. Bukan hanya siswanya tapi juga guru-gurunya. Tapi bulan kedua dan ketiga mulai saling menyesuaikan dan bulan berikutnya sudah berjalan baik," kata Gus Ipul yang mengenakan kemeja putih.

"Sudah Terbangun kedisplinan siswa, mulai bangun pagi, ikuti jadwal padat sampai malam hari. Itu memang memerlukan waktu. Saya bersyukur, lihat tadi cara mengajarnya," sambungnya.

Gus Ipul menyebut secara infrastruktur SRMA 26 Makassar masih harus mengikuti bangunan asli gedung.

Namun  standar seperti ruang kelas, tempat tidur, toilet, perpustakaan hingga laboratorium tetap harus dijaga.

Gus Ipul menyebut nantinya gedung permanen akan memiliki fasilitas lebih terjamin kualitasnya. 

"Itu harus dipenuhi meskipun sarana terbatas. Nanti kalau gedung permanen akan disesuaikan standar," katanya.

Pembangunan 9 Sekolah Rakyat di Sulsel tahap pertama terus dikebut.

Pemerintah pusat mengalokasikan total Rp 2,3 Triliun pembangunan sekolah rakyat di Sulsel, terbagi dalam dua paket.

Paket satu mendapat alokasi Rp 1,2 Triliun meliputi Sidrap, Wajo, Sopeng, Tana Toraja, dan Barru.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Waskita Karya menjadi pemenang lelang konstruksi.

Sementara pada paket dua ialah Makassar, Takalar, Sinjai dan Bone dengan alokasi Rp 972 Miliar.

Paket 2 dimenangkan perusahaan BUMN lainnya PT Nindya Karya.

"Progres paling besar itu adalah pembangunan sekolah rakyat yang ada di Makassar, jadi 40,45 persen. dan semuanya berjalan sesuai dengan kontrak,"kata Kepala Dinas Sosial Abdul Malik Faisal.

Sekolah Rakyat di Makassar terletak di GOR Sudiang, Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya.

Sementara progress terendah di Kabupaten Tana Toraja. Letaknya di Kelurahan Marinding, Kecamatan Mengkendek.

"ini kemungkinan karena mendistribusi material ke sana itu agak susah. Kemudian cuaca juga di Tana Toraja ini hujan, selalu hujan. Itu membuat salah satu kendala sehingga progres pembangunan sekolah rakyat di Tana Toraja itu agak lebih rendah," jelasnya.

Sementara itu di daerah lainnya seperti di Desa Mario, Kecamatan Kulo,  Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) progresnya 31,29 persen.

Selanjutnya di Kelurahan Lalabatarilau, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng sudah 23,76 persen.

Sekolah Rakyat di Kelurahan Uraiyang, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo progresnya 29,32 persen.

Lalu di Jl Poros Barru - Parepare, Dusun Lawallu, Desa Lawallu, Kecamatan Soppeng Raja, Kabupaten Barru beru 28,08 persen.

Berikutnya di Dusun Rompe, Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone sudah 34,09 persen.

Untuk di Kelurahan Alehanuae, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai progresnya sampai 39,11 persen.

Sementara di Pa'rappunganta, Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar progresnya 38,92 persen.

"Kami berharap selesai di Juni. Karena kontraknya ini akan berakhir di akhir Juni sehingga di awal Juli mulai tahun ajaran baru 2026-2027," kata Abdul Malik Faisal.

Nantinya ada sekitar 1.750 siswa yang saat ini di sekolah rakyat rintisan akan dipindahkan ke bagunan permanen ini.

Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.