MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM -- Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Sulawesi Selatan (Sulsel) sudah menerima notifikasi resmi kenaikan harga BBM non-subsidi dari Pertamina per Sabtu (18/4/2026) dini hari.
Hanya saja, persediaan beberapa jenis BBM ini masih terbatas.
Unit distribusi dan kilang Pertamina di Makasaar masih menunggu pasokan dari kilang utam dari Balikpapan (Kalimantan Timur) dan Cilacap (Jawa Tengah).
"Maaf, Pertamax dan Dex solar masih dikirim," demikian isi papan pengumuman di gerbang SPBU 74.921.04 Samata, Kabupaten Gowa, Sabtu malam.
Hal serupa juga terpantau di SPBU Tun Abdul Razak (74.921.10), Gowa dan SPBU Hertasning, Makassar.
DI SPBU urban kawasan perbatasan timur Makassar-Gowa ini, antrean panjang konsumen BBM subsidi jenis Pertalite dan Bio-Solar.
Dua BBM subsidi ini tetap; Rp 10 ribu (Pertalite) dan bioSolar Rp8.600 per liter.
Kondisi juga terpantau di SPBU Kampus UIM Makassar (74.902.38) Jl Km 9 Perintis Kemerdekaan, Tamalanrea, Makassar, SPBU Maccopa (74.90.588), Maros dan SPBU (74.906.16) Kota Pangkejene, Pangkep, sekitar 56 km dari Makassar.
DI Sulsel, sejak akhir tahun 2025 lalu, antrean truk barang untuk solar subsidi kerap jadi pemicu macet di ruas jalan depan SPBU.
DI hampir semua SPBU pinggiran kota kabupaten, antrean truk dan mobil berbahan bakar disel sudah jadi pemandangan normal.
Di wilayah operasional Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, hingga awal 2026 setisaknya tercatat sekitar 260 SPBU.
Di Makassar, ibu kota provinsi saja, tercatat sekitar 45 unit SPBU.
Sebagian besar masih menjual BBM bersubsidi.
Sedangkan BBm nonsubsidi dan jenis premium hanya dijual di pusat kita dan kawasan tertentu.
Rerata BBm non-subsidi hanya dijual di SBPU ibu kota kabupaten dan jalur-jalan nasional padat.
Total SPBU di seluruh Sulawesi (termasuk SPBU reguler dan wilayah 3T) mencapai ratusan unit (lebih dari 600 jika termasuk APMS/lembaga penyalur lain).
Bandingkan dengan di Jawa Tengah,
Tot SPBU di provinsi berpenduduk 36,3 juta jiwa itu mencapai sskitar 900 unit.
Jumat (17/4/2026) malam, Pertamina memutuskan menaikkan harga BBm non-subsidi hingga rerata 60,2 persen.
Kenaikan tertinggi, 66,6 persen pada BBm jenis solat DexLite, atau naik Rp 9.650 per liter.
Sebelumnya solar untuk kendaraan MPV dan SUV premium (Pajero, atau Fortuner) ini dibandrol; Rp 14.800 lalu naik Rp 24.450 per liter.
Kenaikan tertinggi kedua (65,2 persen) di jenis Dex.
Sejak Februari 2016 harganya masih Rp 9.650 / liter. Namun, kemarin diputuskan menjadi Rp 14.800 / liter.
Untuk bensin jenis Pertamax Turbo naik Rp 6.500 (48,7 persen) dari Rp 13.350 menjadi Rp 19.850.
KEputusan menaikkan BBm nonsubsidi ini sebagai skenario pwmerintah menjaga stabilitas sosial-politik nasional.
KEbijakan ini justru ditempuh bersamaan dengan keputusan otoritas militer Iran membuka blokade jalur angkutan 30 persen BBm global di Selat Hormuz, Timur Tengah, Jumat (17/4/2026) lalu.
Dampak Ril
Kenaikan ini dinilai berdampak langsung ke mobil bermesin diesel modern (common-rail) yang memang direkomendasikan pakai solar berkualitas tinggi seperti Dex / Dex Lite (setara Euro 4–5).
Jenis mobil terpapar antara lain;
* Toyota Fortuner (2.4 / 2.8 diesel)
* Mitsubishi Pajero Sport
* Toyota Hilux (double cabin)
* Isuzu MU-X
* Hyundai Santa Fe (varian diesel lama)
* Kia Sorento (generasi sebelumnya)
MPV diesel
* Toyota Innova Reborn Diesel
* Toyota Kijang Innova Zenix Diesel
Double cabin & kendaraan kerja
* Mitsubishi Triton
* Isuzu D-Max
* Ford Ranger
Kenapa mereka paling kena dampak?
* Mesin diesel modern butuh bahan bakar bersih (sulfur rendah) → tidak cocok solar subsidi biasa.
* Kenaikan Dex / Dex Lite >65 persen langsung menaikkan biaya operasional.
* Banyak dipakai untuk jarak jauh / operasional bisnis, jadi efeknya terasa harian.
* Tapi diesel baru dipaksa tetap pakai Dex kalau mau mesin awet (injektor & turbo sensitif).