Ini Alasan Skrining Kanker Perlu Dilakukan Rutin, Meski Tubuh Terasa Sehat
Wahyu Gilang Putranto April 19, 2026 04:38 AM

 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pemeriksaan kesehatan sering dianggap hanya perlu dilakukan saat tubuh terasa bermasalah. 

Padahal, dalam konteks kanker, justru yang paling penting adalah deteksi dini sebelum gejala muncul.

Konsultan Senior Ahli Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre, Dr Tanujaa Rajasekaran, menegaskan bahwa skrining kanker dasar seharusnya menjadi prioritas, bukan pilihan.

“Oke, jadi kapan, kapan pun itu berkaitan dengan screening konvensional? Sebagai bagian dari pedoman screening nasional kita, kita dapat melakukan screening untuk kanker payudara. Jadi, wanita di atas usia 40 tahun dianjurkan untuk melakukan mamografi tahunan," imbaunya pada Forum Onkologi Lessons for Life 2026: Cancer Care Conversations IHH Healthcare Singapore yang juga diselenggarakan secara daring, Sabtu (18/4/2026).

Pemeriksaan ini, menurutnya, sudah tersedia luas dan menjadi standar yang tidak perlu diperdebatkan lagi.

Selain kanker payudara, screening juga berlaku untuk kanker serviks dan kanker usus besar sebagai bagian dari program nasional.

“Dan kemudian untuk kanker serviks, bukan? Jadi itu adalah bagian dari program screening nasional kami juga. Kami mendorong semua wanita yang telah aktif secara seksual untuk melakukan pap smear bersamaan dengan pap smear," ucap Tanujaa

Tak hanya itu, kelompok usia tertentu juga memiliki anjuran pemeriksaan spesifik.

“Dan juga untuk kanker usus besar. Benar, kan? Dianjurkan bagi siapapun yang berusia di atas 50 tahun untuk melakukan kolonoskopi, setidaknya," lanjutnya.

Baca juga: Risiko Kanker Ternyata Lebih Banyak Dipengaruhi Gaya Hidup, Bukan Faktor Keturunan

Menurut Dr Tanujaa, langkah-langkah ini bukan sekadar formalitas medis, tetapi fondasi utama dalam mendeteksi kanker sejak dini.

Ia bahkan menekankan bahwa screening standar tidak boleh dinegosiasikan.

“Jadi, secara umum, untuk pasien yang datang kepada saya, saya akan mengatakan, pastikan Anda melakukan tes screening standar. Baiklah, saya pikir tidak ada diskusi, tidak ada negosiasi tentang hal itu, kecuali untuk beberapa alasan tertentu," tegasnya. 

Namun, bagaimana dengan jenis kanker lain yang tidak termasuk dalam program screening nasional?

Dalam kasus tertentu, seperti adanya riwayat keluarga terhadap jenis kanker spesifik, pendekatan bisa berbeda.

Dr Tanujaa menjelaskan bahwa untuk kondisi seperti kanker nasofaring atau kanker hati, screening tambahan bisa dipertimbangkan secara individual.

Ia juga membuka kemungkinan pemeriksaan lebih lanjut melalui deteksi dini multi-kanker, terutama bagi mereka yang memiliki risiko tambahan dan kemampuan finansial.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa screening kanker tidak hanya soal mengikuti standar, tetapi juga memahami risiko pribadi.

Kesimpulannya, screening kanker bukan sekadar rutinitas medis, melainkan investasi penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini. Menunda berarti mengambil risiko yang seharusnya bisa dicegah lebih awal.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.